Zero Hepatitis 2030: Putus Penularan Ibu ke Bayi

Prohealth.id

Prohealth.id

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Zero Hepatitis 2030 bukan semata urusan vaksin dan skrining gratis, tetapi soal memutus penularan hepatitis B dari ibu ke bayi. Di Indonesia, program sudah ada, namun literasi rendah dan stigma sosial masih membuat perlindungan datang terlambat.

Peringatan Hari Hepatitis Sedunia kembali menyorot target Zero Hepatitis 2030 yang menuntut kerja lintas layanan dan perubahan perilaku. Pakar Kesehatan Ibu dan Anak FK Universitas Airlangga, Dewi Setyowati, menegaskan titik paling menentukan ada pada pencegahan transmisi ibu ke anak.

Pemerintah menyediakan jalur pencegahan lewat program Triple Eliminasi gratis di puskesmas untuk Hepatitis B, HIV, dan sifilis pada calon pengantin serta ibu hamil. Skema ini dirancang agar ketika hasil positif muncul, puskesmas segera berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan rumah sakit rujukan.

Masalahnya, akses layanan tidak otomatis berarti akses pemahaman. Banyak keluarga baru “percaya” hepatitis ketika penyakit kuning muncul, padahal fase awal sering tanpa gejala dan penularan tetap berjalan diam-diam.

Dewi menyebut perlindungan bayi dari ibu positif dilakukan dengan pendekatan berlapis saat persalinan. Bayi mendapat imunisasi Hepatitis 0 pada usia 0–7 hari, lalu ditambah suntikan Hepatitis B Immunoglobulin (HBIG) untuk mempercepat respons imun.

Efektivitas vaksin HB0 pada minggu pertama kehidupan dikatakan telah mencapai sekitar 90 persen dalam memberi perlindungan. Penambahan HBIG memperkuat peluang memutus mata rantai penularan, terutama pada situasi risiko tinggi.

Di titik ini, agenda Zero Hepatitis 2030 sebenarnya sudah memiliki “mesin” kebijakan yang bekerja. Namun mesin itu membutuhkan bahan bakar berupa kepatuhan, kecepatan rujukan, dan penerimaan keluarga terhadap vaksinasi.

Dewi mengingatkan fakta yang sering luput dari percakapan publik, yakni Hepatitis B “empat kali lebih infeksius dibandingkan HIV”. Pernyataan ini menegaskan bahwa keterlambatan skrining bukan sekadar risiko individu, melainkan ancaman kesehatan komunitas.

Persoalan lain adalah Hepatitis B belum memiliki obat yang benar-benar menyembuhkan total, melainkan menekan replikasi virus. Artinya, pencegahan transmisi pada generasi baru jauh lebih strategis dibanding mengobati dampak kronis di kemudian hari.

Di banyak keluarga, keputusan kesehatan ibu hamil tidak selalu berada di tangan ibu itu sendiri. Intervensi keluarga besar dapat memicu penolakan vaksin, sementara ketakutan pada label “penyakit menular” membuat orang enggan memeriksakan diri.

Indonesia tampak kuat di sisi program, tetapi rapuh pada sisi persepsi publik. Ketika layanan sudah gratis namun warga tetap menunda skrining, problemnya bukan biaya, melainkan pengetahuan dan rasa aman sosial.

Stigma menjadi penghalang yang bekerja tanpa terlihat, namun dampaknya nyata. Dewi bahkan menegaskan, “Stigma sosial sering kali lebih menyakitkan daripada penyakitnya itu sendiri.”

Di sinilah narasi kesehatan publik perlu diubah dari sekadar imbauan medis menjadi percakapan sosial yang manusiawi. Jika penderita dikucilkan, maka yang menang bukan moralitas, melainkan virus.

Pendekatan yang hanya bertumpu pada fasilitas kesehatan berisiko gagal menjangkau ruang-ruang keputusan keluarga. Dewi mendorong keterlibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama, karena merekalah yang sering menjadi rujukan ketika sains kalah oleh desas-desus.

Target Zero Hepatitis 2030 pada akhirnya adalah ujian tata kelola kepercayaan. Negara bisa membangun sistem skrining, tetapi masyarakatlah yang menentukan apakah sistem itu digunakan tepat waktu.

Pesan Dewi sederhana namun menentukan, “Masyarakat tidak perlu takut untuk skrining dan vaksinasi.” Semakin cepat status diketahui, semakin cepat perlindungan diberikan pada bayi dan penanganan diberikan pada ibu.

Hari Hepatitis Sedunia seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan seremonial. Ia perlu menjadi pengingat bahwa melawan hepatitis berarti melawan ketidaktahuan dan stigma, bukan hanya melawan virus.

Jika kita sepakat setiap bayi berhak lahir dengan peluang hidup sehat, maka pertanyaannya menjadi lebih tajam. Beranikah kita mengubah cara bicara tentang hepatitis, agar keluarga tidak lagi memilih diam ketika pencegahan sudah tersedia? (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)