Glamour di Atas Penjajahan: Mengapa Ralph Lauren dan Gal Gadot Memicu Gelombang Boikot Global

Gal Gadot dalam iklan Ralph Lauren.

Gal Gadot dalam iklan Ralph Lauren.

Culture

ORBITINDONESIA.COM - Gemerlap dunia mode internasional kembali berbenturan secara keras dengan realitas geopolitik yang berdarah.

Pada September 2026, rumah mode mewah asal Amerika Serikat, Ralph Lauren, mengunggah deretan foto aktris asal Israel, Gal Gadot, yang memamerkan gaun dari koleksi Fall 2026 di akun Instagram resminya. Namun, kilau gaun kemewahan itu seketika tertutupi oleh gelombang kemarahan publik internasional.

Aksi protes dan seruan boikot ini dipelopori oleh para aktivis pro-Palestina, pembela hak asasi manusia, serta gerakan boikot global di media sosial.

Para aktivis mengecam keras keputusan Ralph Lauren yang memilih bintang film Wonder Woman tersebut sebagai wajah kampanye mereka.

Penolakan ini berakar pada latar belakang Gal Gadot yang pernah mengabdi selama dua tahun di militer Israel (IDF)—termasuk saat invasi militer ke Lebanon pada 2006—serta dukungannya yang vokal terhadap tindakan militer Israel.

Penolakan publik semakin membara ketika mengingat kembali pernyataan terbuka Gal Gadot di media sosial yang membela tindakan militer negaranya:

"Aku berdiri bersama Israel, dan kalian juga harus melakukan hal yang sama. Dunia tidak boleh tinggal diam ketika tindakan teror yang mengerikan ini terjadi!"

Bagi para aktivis dan jutaan penikmat mode di seluruh dunia, menggunakan figur yang secara terbuka membela militer Israel di tengah kehancuran di Gaza bukan sekadar pilihan busana, melainkan sebuah pernyataan politik yang melukai nilai kemanusiaan.

Salah satu seruan aktivis di platform X secara tegas menyuarakan kekecewaan tersebut:

"Aku secara resmi memboikot Ralph Lauren, dan kalian juga harus melakukan hal yang sama! Katakan tidak kepada para pendukung genosida."

Hingga saat ini, pihak Ralph Lauren memilih untuk bungkam dan belum mengeluarkan pernyataan resmi untuk menanggapi gelombang boikot tersebut, meskipun kolom komentar media sosial mereka terus dibanjiri ribuan kecaman dan simbol bendera Palestina.

Di sisi lain, Gal Gadot tetap bertahan pada posisinya dan kerap mengaitkan kritik tajam publik terhadap dirinya sebagai bentuk tekanan politik anti-Israel.

Kontroversi kampanye ini tidak dapat dilepaskan dari konteks penderitaan rakyat Palestina yang terus berlanjut. Saat gaun-gaun mewah diperagakan di depan kamera, warga Palestina di Gaza masih terus bertahan hidup di tengah hancurnya infrastruktur dan ancaman krisis kemanusiaan.

Sementara itu, di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, pemukiman Yahudi ilegal, pembatasan ruang gerak, dan pendudukan militer Israel terus mencekik kehidupan warga sipil.

Ketika sebuah merek mode ternama merayakan figur yang terikat rapat dengan mesin militer penduduk, dunia diingatkan bahwa panggung busana kini tidak lagi dapat dipisahkan dari perjuangan panjang rakyat Palestina untuk meraih kebebasan dan kemerdekaan di tanah air mereka sendiri.
(Satrio Arismunandar) ***