Ayah Arie Untung Meninggal, Duka dan Makna Perawatan Intensif
ORBITINDONESIA.COM – Kabar ayah Arie Untung meninggal dunia menutup hari-hari panjang perawatan intensif yang dijalani H. Untung, 86 tahun. Di balik ucapan duka yang cepat menyebar, ada cerita keluarga yang memilih merelakan ketika ikhtiar medis mencapai batasnya.
Presenter Arie Untung menyampaikan duka atas wafatnya sang ayah, H. Untung, pada usia 86 tahun. Keluarga menyebut almarhum sempat menjalani perawatan intensif sebelum akhirnya berpulang.
Peristiwa seperti ini lazim terjadi di ruang-ruang ICU, tempat keputusan keluarga sering diuji oleh waktu dan ketidakpastian. Publik figur membuat kabar duka lebih terdengar, tetapi inti ceritanya tetap sama: keluarga menghadapi kehilangan yang tak bisa ditawar.
Perawatan intensif kerap dipahami publik sebagai “garansi” kesembuhan, padahal secara medis ICU adalah ruang pemantauan ketat untuk kondisi yang berisiko tinggi. Di banyak kasus lansia, tujuan perawatan bergeser dari penyembuhan penuh menjadi stabilisasi, pengurangan nyeri, dan menjaga martabat pasien.
Di Indonesia, lansia adalah kelompok yang terus bertambah, dan konsekuensinya adalah meningkatnya kebutuhan layanan penyakit kronis dan perawatan kritis. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah penduduk lanjut usia terus naik dari tahun ke tahun, sehingga isu keluarga merawat orang tua bukan lagi cerita personal semata, melainkan gejala demografis.
Keluarga yang “merelakan” sering disalahpahami sebagai menyerah, padahal bisa menjadi bentuk penerimaan yang rasional dan penuh kasih. Dalam etika kedokteran, keputusan keluarga biasanya dipandu oleh prognosis, kualitas hidup, dan preferensi pasien bila pernah dinyatakan sebelumnya.
Di ruang publik, berita duka selebritas juga menunjukkan bagaimana kesedihan kini bergerak melalui algoritma dan notifikasi. Ucapan belasungkawa mudah menjadi rutinitas, tetapi peristiwa ini mengingatkan bahwa kematian tetap pengalaman yang paling manusiawi dan paling sunyi.
Kabar ayah Arie Untung meninggal seharusnya dibaca lebih dari sekadar berita kehilangan seorang figur publik. Ia adalah cermin bahwa kita sering menunda percakapan penting tentang akhir hayat, termasuk batas intervensi medis dan kehendak pasien.
Budaya kita kuat dalam merawat dan mendoakan, tetapi lemah dalam merencanakan. Banyak keluarga baru membahas “apa yang diinginkan orang tua” ketika kondisi sudah kritis, sehingga keputusan terasa mendadak dan menyisakan rasa bersalah.
Di sisi lain, bahasa “perawatan intensif” kerap menimbulkan harapan yang tidak realistis karena minimnya literasi kesehatan. Media punya tanggung jawab untuk tidak sekadar mengabarkan, tetapi juga memberi konteks bahwa ikhtiar medis ada batasnya, dan batas itu bukan kegagalan moral.
Kepergian H. Untung pada usia 86 tahun menegaskan bahwa hidup panjang tetap berakhir pada satu kepastian yang sama bagi semua orang. Duka Arie Untung mengajak kita melihat ulang cara kita mendampingi orang tua, bukan hanya saat sehat, tetapi juga saat rapuh.
Jika merelakan adalah bentuk cinta yang terakhir, maka tugas yang tersisa bagi yang hidup adalah merawat kenangan dan menyempurnakan komunikasi dalam keluarga. Sudahkah kita menanyakan pada orang tua kita, seperti apa mereka ingin dirawat ketika waktunya mendekat?
(Orbit dari berbagai sumber, 31 Juli 2026)