Satrio Arismunandar: Jika Ada Peradaban Jutaan Tahun Lebih Maju Daripada Kita, Seperti Apa Wujudnya?

Ilustrasi peradaban supermaju di planet lain.

Ilustrasi peradaban supermaju di planet lain.

Opini

Oleh Satrio Arismunandar

ORBITINDONESIA.COM - Barangkali mereka tidak lagi membangun gedung pencakar langit, tidak berebut minyak, dan tidak berperang memperebutkan wilayah. Peradaban yang jauh lebih maju mungkin telah menguasai energi bintang, mengubah planet menjadi rumah, dan mengembangkan kecerdasan yang sulit kita bedakan dari keajaiban. Namun, mungkinkah mereka benar-benar ada?

Bayangkan sebuah peradaban yang telah berkembang satu juta tahun lebih lama daripada manusia modern. Bagi kita, kecerdasan buatan, komputer kuantum, rekayasa genetika, dan perjalanan antariksa masih merupakan teknologi yang berkembang. Bagi mereka, semua itu mungkin setara dengan penemuan roda atau penggunaan api dalam sejarah manusia.

Perbandingan yang dikemukakan astronom Carl Sagan terasa relevan. Ia pernah mengajak kita membayangkan betapa jauhnya jarak antara manusia dan makhluk lain jika peradaban teknologi telah berkembang selama jutaan tahun.

Dalam tulisan tentang fisika peradaban ekstraterestrial, fisikawan Michio Kaku mengutip gagasan Sagan tersebut: peradaban berusia jutaan tahun mungkin memiliki jarak kemampuan yang sama besarnya dengan jarak antara manusia dan primata lain.

Tentu, ini bukan gambaran yang sudah terbukti secara ilmiah. Kita belum menemukan bukti terkonfirmasi mengenai peradaban cerdas di luar Bumi. Namun, para ilmuwan memiliki sejumlah kerangka untuk memperkirakan bagaimana peradaban semacam itu mungkin berkembang, dan seperti apa jejaknya jika benar-benar ada.

Mereka Mungkin Menguasai Energi Bintang

Salah satu cara ilmuwan membayangkan peradaban maju adalah melalui skala Kardashev, yang diperkenalkan astronom Soviet Nikolai Kardashev pada 1964. Skala ini mengelompokkan peradaban berdasarkan besarnya energi yang mampu mereka manfaatkan.

Peradaban Tipe I mampu memanfaatkan energi dalam skala planet; Tipe II menguasai energi bintang; sedangkan Tipe III mampu memanfaatkan energi dalam skala galaksi.

Manusia belum mencapai Tipe I. Kita masih bergantung pada sumber energi yang terbatas, sementara perubahan iklim menunjukkan betapa sulitnya mengelola dampak aktivitas kita sendiri.

Bayangkan peradaban Tipe II. Mereka mungkin membangun jaringan kolektor energi yang sangat besar mengelilingi bintang mereka, konsep yang sering dikaitkan dengan Dyson sphere. Struktur seperti itu tidak harus berupa cangkang padat yang membungkus seluruh bintang. Ia bisa berupa banyak satelit atau kolektor yang beroperasi secara terpisah.

Energi sebesar itu dapat digunakan untuk menjalankan sistem komputasi raksasa, menopang habitat antariksa, atau menggerakkan wahana penjelajah. Namun, menguasai energi bintang tidak berarti mereka bisa melanggar hukum fisika. Perjalanan lebih cepat daripada cahaya, misalnya, masih belum memiliki dasar teknologi yang terbukti.

Kecerdasan Mereka Mungkin Bukan Lagi Biologis

Bagaimana jika makhluk yang menciptakan peradaban itu sudah tidak lagi bergantung sepenuhnya pada tubuh biologis?

Peradaban yang berkembang selama ratusan ribu atau jutaan tahun mungkin mengembangkan kecerdasan buatan jauh melampaui kemampuan manusia saat ini. Mereka bisa saja menggunakan mesin untuk mengelola infrastruktur, merancang teknologi, mempelajari alam semesta, dan mempertahankan pengetahuan lintas generasi.

Lebih jauh lagi, kita tidak tahu apakah kecerdasan mereka akan tetap melekat pada satu tubuh, tersebar di banyak mesin, atau terwujud melalui bentuk kehidupan yang sama sekali berbeda dari organisme di Bumi.

Ini tetap spekulasi. Kita bahkan belum memahami sepenuhnya hubungan antara kecerdasan, kesadaran, dan pengalaman subjektif pada manusia, apalagi pada makhluk asing. Tidak ada alasan kuat untuk menganggap mereka pasti menyerupai manusia, memiliki dua tangan, berjalan tegak, atau membangun kota seperti kita.

Bisa jadi, kesalahan terbesar kita ketika membayangkan alien adalah memproyeksikan pengalaman manusia ke seluruh alam semesta.

Mereka Mungkin Telah Menjelajahi Banyak Sistem Bintang

Peradaban yang sangat maju mungkin telah mengirim wahana otomatis ke berbagai sistem bintang, membangun habitat di luar planet asal, atau memanfaatkan sumber daya asteroid dan benda langit lainnya.

Tetapi jarak antarbintang tetap menjadi persoalan besar. Bintang terdekat dari Matahari, Proxima Centauri, berjarak sekitar 4,24 tahun cahaya. Bahkan perjalanan dengan kecepatan sepersepuluh kecepatan cahaya akan membutuhkan lebih dari empat puluh tahun untuk mencapai tujuan, belum termasuk waktu perlambatan dan persiapan.

Teknologi yang lebih maju mungkin memungkinkan perjalanan antarbintang yang lebih efisien, tetapi tidak otomatis menghapus batas kecepatan cahaya. Karena itu, wahana robotik, sistem otonom, atau misi yang berlangsung lintas generasi bisa jadi lebih masuk akal daripada armada pesawat berawak seperti dalam film fiksi ilmiah.

Peradaban yang menjelajah galaksi pun belum tentu membangun kekaisaran. Jarak dan waktu komunikasi yang panjang mungkin membuat setiap koloni berkembang dengan caranya sendiri.

Jika Mereka Ada, Mengapa Kita Belum Menemukan Mereka?

Pertanyaan ini dikenal sebagai paradoks Fermi: jika alam semesta begitu luas dan kehidupan cerdas mungkin muncul di banyak tempat, mengapa kita belum melihat bukti yang meyakinkan?

Persamaan Drake, yang dirumuskan astronom Frank Drake pada 1961, membantu para ilmuwan menyusun faktor-faktor yang relevan untuk memperkirakan jumlah peradaban yang mungkin dapat berkomunikasi di Galaksi Bima Sakti.

Faktor-faktor itu mencakup jumlah bintang, planet yang berpotensi mendukung kehidupan, kemungkinan munculnya kecerdasan, serta lamanya peradaban menghasilkan sinyal yang dapat dideteksi. Namun, banyak variabel pentingnya masih belum diketahui.

NASA dan para peneliti SETI mencari apa yang disebut technosignatures, yaitu jejak teknologi yang mungkin bisa diamati dari jauh. Contohnya termasuk sinyal radio atau laser buatan, perubahan atmosfer yang mengindikasikan aktivitas industri, serta kemungkinan radiasi panas dari struktur besar pengumpul energi.

Ketiadaan bukti bukan bukti bahwa peradaban seperti itu pasti tidak ada. Bisa jadi mereka terlalu jauh, tidak memancarkan sinyal yang sedang kita cari, menggunakan teknologi yang belum kita pahami, atau pernah berkembang jutaan tahun lalu dan kini telah punah.

Fisikawan Adam Frank dan astronom Woodruff Sullivan juga menunjukkan bahwa pertanyaan tentang kehidupan cerdas tidak harus dibatasi pada peradaban yang hidup bersamaan dengan kita. Dalam kajian mereka yang dibahas NASA, kemungkinan adanya peradaban teknologi sepanjang sejarah alam semesta dapat dipertimbangkan secara terpisah dari pertanyaan apakah ada yang masih hidup sekarang.

Peradaban Maju Belum Tentu Lebih Bijaksana

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam gambaran futuristis tentang alien: kemajuan teknologi tidak otomatis berarti kemajuan moral.

Peradaban yang mampu menguasai energi bintang mungkin juga memiliki sejarah konflik, ketimpangan, dan kehancuran ekologis. Bisa pula mereka telah melewati krisis-krisis tersebut, menemukan cara hidup yang lebih stabil, dan bertahan jauh lebih lama daripada manusia. Kita belum punya bukti untuk memilih salah satu kemungkinan itu.

Barangkali ukuran kemajuan yang paling penting bukan seberapa besar energi yang bisa dikuasai atau seberapa jauh pesawat dapat terbang, melainkan apakah sebuah peradaban mampu bertahan tanpa menghancurkan dirinya sendiri.

Jika suatu hari kita menemukan peradaban yang jutaan tahun lebih tua, perjumpaan itu akan mengguncang cara manusia memahami dirinya. Kita mungkin bukan puncak kecerdasan, bukan pusat kehidupan, dan bukan satu-satunya kisah peradaban dalam alam semesta.

Namun, untuk saat ini, semua itu tetap pertanyaan terbuka. Kita belum tahu apakah tetangga kosmis kita benar-benar ada. Yang sudah kita ketahui adalah bahwa alam semesta jauh lebih luas daripada pengalaman manusia—dan pengetahuan kita tentang kemungkinan kehidupan di dalamnya masih sangat terbatas. #

 

Depok, 24 Oktober 2026

Satrio Arismunandar, penulis SATUPENA.

WA: 081286299061. ***