72 Jam Kerja Narayana Murthy dan Budaya 996 China

ORBITINDONESIA.COM – Komentar 72 jam kerja Narayana Murthy kembali memantik debat soal work-life balance, setelah ia menyamakan gagasannya dengan budaya 996 China. Murthy bahkan menantang publik untuk “get a life first” sebelum mengkhawatirkan keseimbangan kerja-hidup.

Pernyataan Murthy muncul lagi dalam wawancara dengan Republic TV, ketika ia menegaskan tak ada negara sukses tanpa kerja keras. Ia mengutip “9-9-6” di China, yakni 9 pagi sampai 9 malam selama 6 hari, yang jika dijumlahkan menjadi 72 jam per minggu.

Murthy juga menyebut Perdana Menteri Narendra Modi bekerja 100 jam per minggu sebagai teladan. Ia meminta generasi muda meniru etos itu untuk membuka peluang bagi yang kurang beruntung.

Masalahnya, 996 bukan sekadar angka produktivitas, melainkan simbol relasi kuasa di tempat kerja. Di banyak negara, jam kerja panjang beririsan dengan isu upah, kesehatan mental, dan perlindungan hukum.

Budaya 996 pernah dipuja sejumlah tokoh teknologi China, termasuk Jack Ma, sebagai “harga” pertumbuhan. Namun, praktik itu juga dikaitkan dengan burnout dan arus talenta yang memilih keluar dari kota besar.

Laporan Bloomberg tahun lalu mencatat sebagian profesional muda China mulai menukar karier bertekanan tinggi di kota besar dengan hidup lebih lambat di kota kecil. Ini menandakan jam kerja ekstrem dapat menimbulkan biaya sosial yang akhirnya menggerus daya tarik pusat ekonomi itu sendiri.

China pun tidak membiarkan 996 menjadi norma legal. BBC melaporkan pada 2021 otoritas China memperingatkan perusahaan bahwa jadwal kerja “menghukum” semacam itu ilegal.

Menurut hukum ketenagakerjaan China, hari kerja standar adalah 8 jam dengan total maksimum 44 jam per minggu. Kerja melebihi itu mensyaratkan kompensasi lembur, sehingga beban jam panjang tidak boleh dipindahkan sepihak ke pekerja.

Di ruang publik, perbandingan yang paling tajam bukan hanya soal jam, melainkan soal imbalan dan kepastian. Warganet menyoroti bahwa upah di China untuk jam panjang dinilai lebih kompetitif dibanding “peanuts” yang dituduhkan kepada sebagian perusahaan di India.

Salah satu komentar menyebut 996 “baru masuk akal” jika junior software engineer dibayar ₹1–2 lakh per bulan. Komentar lain membandingkan kisaran gaji awal di China sekitar ¥8.000–¥15.000+ atau setara ₹93.000–₹175.000.

Di titik ini, debat 72 jam kerja bergeser dari moralitas kerja keras menjadi desain sistem kerja. Jam panjang tanpa bayaran memadai dan tanpa pagar hukum yang tegas akan dibaca sebagai normalisasi eksploitasi, bukan semangat membangun.

Murthy benar pada satu hal: kerja keras adalah prasyarat kemajuan, baik bagi individu maupun negara. Namun, kerja keras berbeda dari kerja berlebihan yang dipaketkan sebagai kebajikan, lalu dijadikan standar moral untuk menilai generasi muda.

Ketika tokoh bisnis mengutip 996, ia seolah meminjam aura “keajaiban ekonomi” China. Padahal, negara yang sama telah menegaskan 996 sebagai praktik ilegal, yang berarti keberhasilannya tidak identik dengan melegalkan jam kerja ekstrem.

Kalimat “get a life first” terdengar tajam, tetapi juga menyederhanakan realitas pekerja. Banyak orang justru ingin “punya hidup” karena kerja telah menyita energi, waktu keluarga, dan kesehatan, sementara imbalan tidak selalu setimpal.

Argumen teladan 100 jam kerja dari pemimpin politik juga problematis bila dijadikan patokan massal. Tugas publik bersifat berbeda, sementara pekerja biasa terikat target, hierarki, dan risiko pemutusan kerja yang membuat “pilihan lembur” sering tidak benar-benar bebas.

Jika 72 jam hendak dipromosikan sebagai resep nasional, pertanyaan yang harus dijawab adalah soal kontrak sosialnya. Apakah ada upah lembur yang layak, batasan kesehatan kerja, hak cuti, dan mekanisme pengaduan yang efektif.

Tanpa itu, slogan produktivitas berubah menjadi alat tekanan. Ia menguntungkan pihak yang mengukur output, tetapi membebankan biaya ke pihak yang tubuh dan waktunya menjadi bahan baku produksi.

Kontroversi 72 jam kerja Narayana Murthy menunjukkan satu hal: publik tidak lagi menerima narasi “kerja keras” tanpa membahas upah, hukum, dan martabat. Budaya 996 China justru mengajarkan bahwa jam panjang bisa dipuja, lalu dikoreksi negara ketika dampaknya merusak.

Pertanyaannya kini sederhana namun menentukan arah masa depan kerja: kita ingin produktif dengan sistem yang adil, atau mengejar angka pertumbuhan dengan mengorbankan manusia di baliknya. Pada akhirnya, kemajuan yang paling tahan lama bukan yang memeras waktu hidup, melainkan yang membuat kerja dan hidup sama-sama mungkin. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)