Krisis CDC: Pemangkasan Staf dan Intervensi Politik Mengguncang Kesehatan Publik
ORBITINDONESIA.COM – Krisis CDC kini menjadi kata kunci yang menggambarkan runtuhnya otoritas kesehatan publik Amerika Serikat. Data kepegawaian menunjukkan CDC pada Mei 2026 memiliki 6.683 staf, turun 30 persen dibanding sebelum gelombang pemutusan kerja awal 2025.
Di tengah wabah campak di dalam negeri dan Ebola di luar negeri, lembaga yang dulu jadi rujukan dunia itu digambarkan mantan pejabatnya sebagai “CDC yang seperti zombie”. Gambaran itu bukan metafora kosong, karena banyak fungsi dasar dan koordinasi lapangan dilaporkan tersendat.
Selama puluhan tahun, Centers for Disease Control and Prevention adalah pemimpin global kesehatan publik yang nyaris tak terbantahkan. Para ilmuwannya melatih pejabat kesehatan di berbagai negara, dan di AS CDC menjadi sumber utama pedoman pencegahan serta perawatan penyakit seperti diabetes, HIV, dan flu musiman.
Namun setelah sekitar satu setengah tahun berada dalam bidikan agenda Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. untuk “membentuk ulang” kebijakan kesehatan publik, CDC menyusut drastis. Gelombang PHK luas pada awal 2025 memangkas 18 persen staf, tetapi arus pensiun dan pengunduran diri memperdalam kerusakan.
Data baru yang disusun kelompok ilmuwan federal pensiunan dan dikutip The New York Times menunjukkan skala penurunan lebih besar dari narasi resmi. Dari 9.279 staf pada Maret 2025, jumlahnya jatuh menjadi 6.683 pada Mei 2026.
Wawancara dengan lebih dari 30 pegawai aktif dan mantan pegawai menggambarkan CDC kini dikendalikan ketat oleh Kennedy dan para sekutunya. Sejumlah narasumber meminta anonimitas karena takut pembalasan administratif.
Penurunan staf ini bukan sekadar angka, karena dampaknya menembus kapasitas respons wabah dan pelayanan teknis ke negara bagian. Pegawai menyebut respons CDC terhadap campak, serta koordinasi atas Ebola di luar negeri, melambat dan makin sulit menghasilkan panduan vaksin yang tepat waktu.
Beberapa divisi bahkan ditutup total, termasuk tim yang menangani merokok, kekerasan seksual, kekerasan pada anak, dan pencegahan jatuh pada lansia. Ini memperlihatkan krisis CDC merembet ke isu kesehatan masyarakat yang tidak selalu “viral”, tetapi menyumbang beban penyakit jangka panjang.
Ironisnya, bidang yang diklaim menjadi fokus politik justru ikut terpangkas. Pusat pencegahan penyakit kronis dan cacat lahir dilaporkan tinggal setengah dari ukuran sebelumnya, meski Kennedy sering menyorot penyakit kronis dan autisme.
Pemangkasan memang disebut “menghindari” pusat penyakit menular, tetapi tetap terjadi erosi besar. Pusat penyakit baru dan zoonotik kehilangan hampir 300 pegawai, sementara pusat penyakit pernapasan kehilangan hampir 200, sekitar 17 persen masing-masing.
Di atas keroposnya staf, ada kekosongan kepemimpinan yang memperparah kelumpuhan. Dari 11 direktur pusat pada Maret 2025, hanya satu yang masih bertahan, sementara sisanya diisi pejabat pelaksana yang naik cepat dari posisi lebih rendah.
Dr. Demetre Daskalakis, mantan kepala pusat penyakit pernapasan, menyebut lembaga itu “CDC yang seperti zombie”, tubuhnya ada tetapi tidak bertindak sebagaimana mestinya. Pernyataan itu menegaskan bahwa kerusakan bukan sekadar teknis, melainkan institusional.
Disfungsi juga tampak pada hal remeh yang berdampak besar, seperti persetujuan perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan. Bahkan pemeliharaan toilet dan pembersihan kantor disebut terganggu, menandakan manajemen operasional ikut runtuh.
Dalam situasi seperti ini, keterlambatan bantuan ke daerah menjadi konsekuensi yang paling terasa publik. Hibah infrastruktur kesehatan publik yang dulu dikelola 20 petugas proyek kini hanya punya tiga, sehingga waktu respons permintaan daerah melonjak dari kurang dari sehari menjadi lebih dari 10 hari.
Ada permintaan bantuan dari satu dinas kesehatan county pada 7 Agustus untuk pelaporan tahunan, tetapi hingga 21 September belum dijawab. Ini bukan sekadar birokrasi lambat, melainkan potensi kebocoran data dan penundaan keputusan kebijakan di tingkat lokal.
Gelombang pensiun mempercepat “penuaan mendadak” kapasitas lembaga. Lebih dari 1.200 orang pensiun antara Maret 2025 hingga Mei 2026, hampir empat kali lipat dibanding periode sebanding 2023–2024.
Di saat yang sama, sekitar 270 orang masih berstatus cuti administratif, digaji tetapi tidak bekerja, sambil menunggu gugatan PHK bergulir di pengadilan. Mekanisme yang menggantung ini membuat CDC seperti berjalan dengan rem tangan tertarik.
Contoh konkret datang dari Aaron Sussell, epidemiolog di Spokane yang meneliti kesehatan penambang, yang sempat ditempatkan pada cuti administratif. Ketika dipanggil kembali mendadak, sebagian rekan sudah pindah negara bagian atau bekerja di luar pemerintah, dan Sussell akhirnya pensiun setelah 37 tahun.
Rekrutmen pun tersendat karena proses yang berlapis dan lamban. Pusat kesehatan global dilaporkan sempat menyiapkan 18 posisi kritis, tetapi penawaran kerja kedaluwarsa sebelum langkah lanjutan seperti pemeriksaan latar belakang selesai, sehingga proses harus diulang.
Angka perekrutan menunjukkan kontras tajam. CDC hanya merekrut 108 pegawai antara Maret 2025 hingga Mei 2026, dibanding lebih dari 1.500 pada Maret 2023 hingga Mei 2024.
Kerusakan kualitas juga tak selalu terbaca dari total staf. Satu cabang penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin kehilangan tujuh dari 50 orang, tetapi yang hilang adalah empat ilmuwan paling berpengalaman dari tim laboratorium campak.
Pada saat yang sama, anggaran untuk cabang yang menangani Ebola dan penyakit mematikan lain dilaporkan turun 36 persen. Ini menjelaskan mengapa penugasan ke Republik Demokratik Kongo hanya sekitar 100 staf, jauh dibanding sekitar 2.000 staf saat wabah Ebola Afrika Barat 2014.
Bagian paling mengkhawatirkan dari krisis CDC bukan hanya pemangkasan staf, melainkan intervensi politik yang mengubah prioritas ilmiah menjadi daftar pesanan ideologis. Sejumlah pejabat menyebut kini ada hampir 20 pejabat politik dari HHS yang berkomunikasi langsung dengan staf CDC, jauh lebih banyak dibanding era sebelumnya.
Dalam iklim seperti itu, pekerjaan ilmiah berisiko berubah menjadi pekerjaan “melayani perintah”, bukan menjawab kebutuhan kesehatan publik. Dr. Daskalakis mengingat bagaimana staf harus terus berlari merespons permintaan aneh, alih-alih fokus pada ancaman yang terukur.
Salah satu contoh yang paling tajam adalah kontrak tanpa tender kepada Rensselaer Polytechnic Institute untuk mengeksplorasi teori bahwa imunisasi ibu hamil memicu autisme pada anak. Teori itu sudah dibantah banyak studi, tetapi CDC disebut mengambil 362.000 dolar dari program vaksin gratis bagi sekitar separuh anak Amerika untuk membiayainya.
Contoh lain muncul dari email Stuart Burns yang meminta detail setiap kasus campak sejak 2010, termasuk kondisi medis dasar dengan kode diagnosis. Pegawai mengatakan data itu tidak rutin dikumpulkan, sementara Kennedy disebut keliru berargumen bahwa campak hanya mematikan pada anak yang sudah sakit.
Intervensi juga merambah ke isu yang tidak sejalan dengan mandat kesehatan manusia. Dr. William “Reyn” Archer III disebut berulang kali meminta staf CDC mengerjakan screwworm, penyakit yang terutama menyerang ternak, meski misi CDC adalah melindungi kesehatan manusia.
Aktor luar pemerintahan bahkan dikabarkan mendapat akses langsung ke pejabat senior CDC. Dr. Ben Edwards, dokter di Texas yang dipuji Kennedy, meminta CDC meninjau minyak hati ikan kod sebagai terapi campak dengan rujukan “sejarah sejak 1700-an”.
Ketika akses, agenda, dan komunikasi dikendalikan, risiko terbesar adalah hilangnya kepercayaan publik. Pernyataan HHS bahwa CDC “terus melindungi kesehatan dan keselamatan rakyat Amerika” terdengar seperti slogan jika bersamaan dengan laporan keterlambatan, pembekuan rekomendasi vaksin, dan minimnya komunikasi krisis.
Dr. Jonathan Mermin merangkum dampak ini dengan analogi yang mudah dipahami. “Bayangkan kehilangan sepertiga petugas pemadam kebakaran kota, lalu bertanya mengapa pusat kota terbakar,” katanya.
Di titik ini, pertanyaan kuncinya bukan apakah CDC masih ada, melainkan apakah CDC masih mampu memimpin. Ketika direktur baru, Dr. Erica Schwartz, belum menyampaikan pernyataan publik yang kuat tentang pentingnya vaksin anak atau meluruskan misinformasi, ruang hampa kepemimpinan makin terasa.
Krisis CDC memperlihatkan pelajaran klasik tentang lembaga negara: kapasitas tidak runtuh dalam satu malam, melainkan terkikis oleh kombinasi pemangkasan, kekosongan kepemimpinan, dan politisasi sains. Saat wabah campak, cyclosporiasis, dan rabies meningkat, publik melihat konsekuensi ketika panduan terlambat dan bantuan ke daerah tersendat.
Amerika pernah menempatkan CDC sebagai kompas, bukan sekadar kantor, untuk membaca ancaman kesehatan publik. Jika kompas itu dipaksa mengikuti arah politik, bukan utara ilmiah, maka yang tersesat bukan hanya satu lembaga, tetapi jutaan keputusan kesehatan sehari-hari.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu direnungkan sederhana tetapi mendesak: ketika sains dipaksa tunduk pada kekuasaan, siapa yang menanggung biaya paling mahal, pejabat di Washington atau keluarga yang menunggu kepastian di klinik kecil daerah. (Orbit dari berbagai sumber, 27 September 2026)