Pencurian Modul BTS Bikin Sinyal Hilang, Jejak Sindikat Internasional

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Pencurian modul BTS kembali jadi kata kunci yang dicari publik setelah sinyal seluler hilang di sejumlah wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Bareskrim Polri menyebut jaringan ini diduga dikendalikan dari luar negeri, dengan modul yang dicuri dikirim ke luar negeri lewat ekspedisi.

Satresmob Bareskrim Polri membongkar jaringan pencurian dan penadahan perangkat modul base transceiver station (BTS) yang membuat layanan telekomunikasi sempat lumpuh di beberapa titik. Kasat Resmob Kombes Arsya Khadafi menyatakan modul yang dicuri dikumpulkan pengepul lalu dikirim ke luar negeri atas arahan WNA bernama Jason Zhang yang diduga berada di Bangkok.

Polisi menangkap AN dan ASA sebagai eksekutor, RR sebagai mantan teknisi yang membobol area Kalisari Jakarta Timur, serta GA sebagai penadah dan pengepul. Barang bukti yang diamankan meliputi 38 unit modul BTS berbagai tipe, ponsel, identitas pelaku, serta kendaraan operasional.

Kasus ini bermula dari laporan berulang operator seluler dan internet yang kehilangan perangkat BTS. Kerugian materiil diperkirakan menembus Rp 60 miliar, sementara kerugian immaterial dirasakan masyarakat karena akses komunikasi terputus.

Pencurian modul BTS bukan sekadar kriminalitas properti, melainkan serangan pada simpul layanan publik yang menopang ekonomi harian. Ketika satu komponen vital hilang, efeknya menjalar ke transaksi digital, kerja jarak jauh, hingga layanan darurat yang bergantung pada konektivitas.

Modus menyamar sebagai teknisi atau vendor memperlihatkan celah serius pada tata kelola keamanan infrastruktur telekomunikasi. Pelaku membawa alat kerja standar dan menggunakan mobil operasional seperti Toyota Avanza hitam, sehingga pembongkaran box BTS tidak memicu kecurigaan warga.

Fakta bahwa sebagian pelaku merupakan mantan pekerja atau vendor instalasi menegaskan risiko “akses orang dalam” yang sering diremehkan. Dalam ekosistem jaringan, pengetahuan letak perangkat, pola patroli, dan standar pengamanan sering lebih menentukan daripada kekuatan membobol gembok.

Di Banten, polisi mengidentifikasi pencurian di lima lokasi yang diduga dilakukan oknum karyawan vendor aktif dengan mobil Daihatsu Sigra. Sebanyak 15 unit modul BTS dijual ke penadah lokal berinisial IG alias Kinoy di Lebak, dan IG kini masuk DPO bersama tiga pelaku lain di Jakarta.

Temuan aliran dana 11 kali transaksi perbankan bernilai puluhan juta rupiah menambah gambaran bahwa ini bukan aksi spontan. Rantai pasok gelapnya terlihat rapi, dari eksekutor, penadah lokal, hingga dugaan jalur ekspor ilegal yang diarahkan pihak luar negeri.

Polisi menjerat tersangka dengan Pasal 477 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan dan Pasal 591 KUHP tentang penadahan. Penegakan hukum penting, namun kasus ini juga menuntut audit keamanan fisik BTS, pembatasan akses vendor, dan pemantauan logistik komponen bernilai tinggi.

Jika modul BTS bisa dicabut tanpa memantik alarm sosial, maka yang rapuh bukan hanya pagar besi, melainkan sistem pengawasan berlapis. Publik selama ini menganggap sinyal sebagai sesuatu yang “selalu ada”, padahal ia berdiri di atas infrastruktur yang rentan dicuri.

Dugaan kendali sindikat dari luar negeri membuat persoalan ini naik kelas menjadi isu keamanan ekonomi dan kedaulatan digital. Saat komponen jaringan mengalir ke pasar internasional, Indonesia bukan hanya kehilangan barang, tetapi juga kehilangan kendali atas stabilitas layanan.

Kasus ini semestinya mendorong operator dan regulator menata ulang standar keamanan BTS, termasuk verifikasi teknisi di lapangan dan pelacakan komponen. Tanpa perbaikan sistemik, penangkapan pelaku hanya memotong ranting, sementara akarnya bisa tumbuh lagi.

Bareskrim menyatakan akan memburu pelaku yang masih buron, mengejar penadah di Karawang dan Lebak, serta menelusuri distribusi internasional untuk memutus rantai pencurian infrastruktur. Langkah itu penting, tetapi pencegahan jangka panjang harus menutup celah akses, pengawasan vendor, dan jalur penjualan komponen.

Pencurian modul BTS mengingatkan bahwa konektivitas adalah urat nadi yang bisa diputus oleh kejahatan yang tampak sederhana. Pertanyaannya kini, apakah kita akan menunggu sinyal hilang lagi untuk memperkuat penjagaan, atau belajar lebih cepat sebelum kerugian sosial makin mahal.

(Orbit dari berbagai sumber, 30 Juli 2026)