Rutin Bermain Tenis Tambah Usia 10 Tahun, Jantung dan Otak Ikut Untung

Pontianak Post

Pontianak Post

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Rutin bermain tenis kembali ramai dibicarakan karena disebut bisa menambah usia hingga 10 tahun, sekaligus memperkuat jantung dan otak. Klaim ini terdengar bombastis, tetapi jejak riset tentang olahraga raket memang memberi sinyal kuat soal umur panjang dan kebugaran.

Di tengah tren hidup sehat, publik mencari olahraga yang efektif, menyenangkan, dan bisa dilakukan sampai usia lanjut. Tenis tampil sebagai kandidat karena menggabungkan kardio, kekuatan, koordinasi, dan aspek sosial dalam satu paket.

Namun, narasi “menambah usia 10 tahun” sering beredar tanpa konteks, seolah-olah raket adalah tiket ke umur panjang. Di titik ini, jurnalisme kesehatan perlu menahan euforia dan memeriksa apa yang benar-benar dimaksud oleh data.

Angka “hingga 10 tahun” kerap merujuk pada studi observasional besar yang membandingkan harapan hidup kelompok aktif dan kurang aktif. Salah satu yang sering dikutip adalah Copenhagen City Heart Study yang dipublikasikan di Mayo Clinic Proceedings (2018), yang melaporkan asosiasi olahraga raket seperti tenis dengan peningkatan harapan hidup sekitar 9,7 tahun dibanding sedentary.

Asosiasi bukanlah jaminan sebab-akibat, tetapi sinyalnya konsisten: olahraga dengan intensitas bervariasi dan keterlibatan sosial cenderung berkorelasi dengan risiko kematian yang lebih rendah. Tenis memaksa tubuh melakukan sprint pendek, berhenti, lalu bergerak lagi, yang mirip latihan interval dan dikenal efektif meningkatkan kapasitas kardiorespirasi.

Dari sisi jantung, tenis meningkatkan VO2 max, menurunkan tekanan darah pada banyak orang, dan memperbaiki profil metabolik bila dilakukan rutin. WHO juga merekomendasikan 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, dan tenis bisa memenuhi target itu tanpa terasa seperti “tugas” di treadmill.

Dari sisi otak, tenis menuntut antisipasi, pengambilan keputusan cepat, dan koordinasi mata-tangan yang kompleks. Sejumlah tinjauan ilmiah tentang latihan aerobik menunjukkan kaitan dengan peningkatan fungsi kognitif dan penurunan risiko demensia, meski besaran efeknya dipengaruhi usia, intensitas, dan konsistensi latihan.

Komponen sosial tidak bisa diabaikan karena tenis hampir selalu melibatkan pasangan main, pelatih, atau komunitas. Banyak studi kesehatan populasi menunjukkan isolasi sosial berkaitan dengan risiko penyakit dan kematian yang lebih tinggi, sehingga olahraga yang “memaksa” interaksi bisa memberi keuntungan tambahan.

Meski demikian, tenis bukan tanpa risiko karena cedera bahu, siku, lutut, dan pergelangan kaki cukup umum, terutama pada pemula yang mengejar intensitas terlalu cepat. Manfaat umur panjang akan mudah hilang jika latihan tidak disertai pemanasan, teknik dasar, progres beban, dan hari pemulihan.

Di Indonesia, hambatan lain adalah akses lapangan, biaya sewa, dan kualitas pembinaan yang tidak merata. Jika tenis dipromosikan sebagai “obat panjang umur” tanpa strategi akses dan edukasi, pesan kesehatan publik justru berakhir sebagai gaya hidup eksklusif.

Klaim tenis menambah usia hingga 10 tahun seharusnya dibaca sebagai peluang statistik, bukan janji personal. Riset observasional sering memotret orang yang sudah lebih sehat, lebih mapan, dan lebih terhubung sosial, lalu kebetulan juga lebih sering bermain tenis.

Namun, mengerdilkan tenis hanya sebagai “bias kelas” juga tidak adil, karena mekanisme manfaatnya masuk akal secara fisiologis dan psikologis. Yang lebih penting adalah menempatkan tenis sebagai pintu masuk kebiasaan aktif yang berkelanjutan, bukan target angka umur panjang yang membuat orang salah fokus.

Jika publik ingin meniru manfaatnya, kuncinya ada pada konsistensi, intensitas yang sesuai, dan unsur sosial yang sehat, bukan sekadar jenis olahraganya. Jalan kaki cepat, bersepeda, berenang, atau bulu tangkis pun bisa memberi efek besar bila dilakukan terukur dan bertahun-tahun.

Rutin bermain tenis memang berpotensi memperpanjang usia, memperkuat jantung, dan menjaga ketajaman otak, tetapi manfaat itu lahir dari kebiasaan, bukan keajaiban. Tenis mengajarkan bahwa umur panjang sering datang dari hal sederhana: bergerak, berkeringat, dan terhubung dengan orang lain.

Pertanyaannya bukan apakah tenis bisa menambah usia 10 tahun, melainkan apakah kita siap memberi tubuh kesempatan untuk sehat dalam 10 tahun ke depan. Di ujungnya, raket hanyalah alat, sementara keputusan paling menentukan tetap ada pada pola hidup yang kita ulang setiap minggu.

(Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)