Sayembara Begal Dedi Mulyadi: Klarifikasi dan Risiko Main Hakim Sendiri

detikcom

detikcom

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kritik publik soal sayembara begal membuat Gubernur Jabar Dedi Mulyadi angkat bicara. Ia menegaskan program itu tidak boleh berubah menjadi main hakim sendiri, sambil mengklaim kasus pembegalan menurun.

Di Jawa Barat, isu begal selalu cepat memantik emosi karena menyentuh rasa aman di jalan. Ketika pemerintah menawarkan sayembara, sebagian warga membacanya sebagai sinyal “lampu hijau” untuk mengejar pelaku dengan cara apa pun.

Di titik ini, kebijakan keamanan bertemu dengan psikologi massa. Niat menekan kriminalitas bisa bergeser menjadi pembenaran kekerasan, terutama saat warga merasa penegakan hukum lambat.

Dedi Mulyadi merespons kritik dengan garis batas yang tegas. Ia mengingatkan risiko vigilante, sembari menyatakan sayembara adalah pemicu partisipasi warga untuk melapor dan membantu aparat.

Masalahnya, istilah “sayembara” punya daya ledak simbolik yang tidak netral. Dalam ruang publik yang bising, kata itu mudah ditangkap sebagai kompetisi berburu pelaku, bukan sebagai kanal informasi untuk polisi.

Di banyak kasus kriminal jalanan, eskalasi terjadi dalam hitungan menit. Ketika warga bergerak tanpa komando dan tanpa prosedur, peluang salah sasaran meningkat, dan korban baru bisa muncul dari orang yang tidak bersalah.

Klaim penurunan pembegalan perlu dibaca dengan disiplin data. Tanpa angka pembanding, periode waktu, serta sumber rujukan resmi, publik hanya mendapat kesimpulan, bukan bukti.

Ukuran “turun” juga harus jelas, apakah berdasarkan laporan polisi, pengaduan warga, atau operasi penindakan. Data kriminal sering dipengaruhi underreporting, karena sebagian korban enggan melapor atau memilih berdamai.

Jika tujuan utamanya pencegahan, kebijakan yang efektif biasanya memadukan patroli terukur, penerangan jalan, kamera pengawas, dan respons cepat 110. Sayembara bisa berguna sebagai pemantik informasi, tetapi hanya jika dipagari SOP pelaporan dan perlindungan saksi.

Di sisi lain, aparat membutuhkan legitimasi publik untuk bertindak cepat dan presisi. Ketika pemerintah daerah mengedepankan narasi “hadiah” tanpa arsitektur akuntabilitas, yang menguat justru logika pembalasan, bukan logika hukum.

Sayembara begal menunjukkan godaan klasik dalam politik keamanan: hasil cepat lebih menarik daripada proses yang benar. Namun negara hukum tidak boleh bergantung pada adrenalin massa, karena keadilan yang lahir dari amarah selalu menyisakan luka.

Klarifikasi Dedi Mulyadi soal larangan main hakim sendiri adalah langkah penting, tetapi belum cukup. Pesan moral harus diterjemahkan menjadi mekanisme, misalnya kanal pelaporan resmi, verifikasi informasi, dan larangan eksplisit tindakan fisik oleh warga.

Jika pemerintah ingin warga terlibat, partisipasi itu harus aman dan terukur. Insentif sebaiknya diarahkan pada informasi yang dapat ditindaklanjuti, bukan pada “penangkapan” yang rawan kekerasan.

Di tengah ketakutan, publik mudah menerima kebijakan yang terdengar tegas. Justru di saat seperti itu, pemimpin diuji untuk menahan diri, menjaga prosedur, dan membuktikan bahwa ketegasan bisa berjalan bersama hak asasi.

Kasus begal menuntut negara hadir, bukan sekadar terdengar. Jika klaim penurunan benar, publik berhak melihat datanya, agar rasa aman tidak dibangun dari sugesti.

Sayembara begal bisa menjadi alat bantu, tetapi hanya bila tidak menggeser tanggung jawab penegakan hukum ke tangan warga. Pertanyaannya, apakah kita sedang memperkuat sistem keamanan, atau hanya memindahkan risiko kekerasan ke jalanan?

(Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)