Trump Temui CEO Anthropic Dario Amodei di Tengah Polemik AI
ORBITINDONESIA.COM – Donald Trump menjamu CEO Anthropic Dario Amodei untuk makan malam, meski sebelumnya ia mengecam Amodei dan perusahaan AI itu soal “guardrails” dan regulasi AI. Pertemuan ini terjadi jelang pertemuan para pemimpin AI di Gedung Putih, saat AS juga berlomba dengan China dalam pengembangan frontier AI.
Trump mengatakan kepada wartawan di Joint Base Andrews pada Minggu malam bahwa ia akan makan malam dengan Dario Amodei pada pukul 22.00, dan menyebutnya “sangat dihormati.” Ia tidak menjelaskan agenda, namun waktunya berdekatan dengan pertemuan para pemimpin AI di Gedung Putih pada Selasa.
Artikel sumber menekankan ironi politiknya, karena Trump sebelumnya melontarkan kritik keras kepada Anthropic dan Amodei. Anthropic dikenal vokal soal keselamatan AI, termasuk seruan “guardrails” dan pengawasan pemerintah.
Di hari yang sama, Trump kembali menolak gagasan memperlambat pengembangan frontier AI saat acara Presidents Cup. Ia menyatakan AS “mungkin satu setengah tahun” di depan China, lalu bertanya, “mengapa kita harus menyerahkannya?”
Kontras lain muncul pada jamuan kenegaraan Kamis sebelumnya untuk Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih. Beberapa eksekutif AI hadir, termasuk Sam Altman (OpenAI) dan Jensen Huang (Nvidia), sementara Amodei tidak masuk daftar undangan.
Pertemuan Trump dan Amodei menyorot pola klasik Washington, yakni konflik keras di ruang publik lalu negosiasi di ruang makan. Dalam isu AI, pola ini makin tajam karena taruhannya bukan sekadar bisnis, melainkan keamanan nasional, militer, dan pengaruh global.
Trump sebelumnya menulis di Truth Social bahwa guardrails AI yang dibutuhkan hanyalah “PRESIDEN yang KUAT DAN PINTAR (IQ tinggi!).” Ia juga menyindir Amodei sebagai pihak yang “berpura-pura menjadi malaikat kecil sempurna,” sambil menegaskan pemerintah punya “kekuatan PIDANA dan REGULASI yang luar biasa” atas perusahaan AI.
Di sisi lain, Anthropic baru saja kalah di pengadilan banding federal terkait upayanya menggugat keputusan Pentagon yang melabeli perusahaan sebagai “risiko rantai pasok.” Pelabelan itu muncul setelah benturan antara pimpinan Anthropic dan pemerintahan Trump mengenai penggunaan AI untuk senjata sepenuhnya otonom dan pengawasan domestik.
Dalam pernyataan Februari, Amodei memaparkan “garis merah” perusahaan dan menyatakan tidak bisa “dengan hati nurani yang baik” memenuhi permintaan Pentagon untuk menghapus pengaman. Permintaan itu, menurut artikel, termasuk membuka akses untuk “setiap penggunaan yang sah” atas alat AI Anthropic.
Trump menanggapi sikap itu dengan bahasa ideologis, menyebut Anthropic sebagai “perusahaan kiri radikal, woke,” serta menegaskan pemerintahnya “TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKAN” perusahaan mendikte cara militer AS berperang. Ketegangan ini membuat makan malam tersebut tampak bukan pertemuan seremonial, melainkan pertemuan yang sarat kalkulasi.
Ada dimensi ekonomi-politik yang menambah bobot cerita ini. Forbes memperkirakan kekayaan bersih Amodei sebesar 15,5 miliar dolar AS, dan saudara perempuannya, Daniella Amodei, juga 15,5 miliar dolar AS, serta keduanya masuk Forbes 400 tahun 2026.
Angka itu memperlihatkan siapa aktor baru dalam ekosistem kekuasaan. CEO AI bukan hanya pemimpin teknologi, melainkan pemegang modal sosial dan finansial yang bisa mengubah arah kebijakan.
Makan malam Trump dan Amodei terasa seperti upaya merapikan dua pesan yang saling bertabrakan. Pesan pertama adalah akselerasi, yakni “jangan melambat” karena AS harus menang dari China.
Pesan kedua adalah kontrol, yakni pemerintah ingin kuasa penuh atas bagaimana AI digunakan, termasuk untuk militer dan keamanan dalam negeri. Dalam logika ini, “keselamatan AI” mudah dipersepsikan sebagai hambatan politik, bukan kebutuhan teknis.
Namun, langkah Anthropic menolak “penggunaan apa pun yang sah” tanpa pengaman juga punya konsekuensi. Jika perusahaan swasta memegang veto moral atas proyek negara, negara akan mencari jalan lain, termasuk menekan lewat regulasi, kontrak, atau pelabelan risiko.
Di sinilah paradoksnya: AI frontier membutuhkan kecepatan, tetapi juga membutuhkan legitimasi publik. Tanpa pagar pengaman yang dapat diverifikasi, risiko kesalahan sistemik, penyalahgunaan, dan eskalasi militer justru bisa menggerus keunggulan AS sendiri.
Trump menyebut AS unggul “sekitar satu setengah tahun” dari China, dan itu menjadi argumen untuk tidak mengurangi laju. Tetapi keunggulan waktu tanpa tata kelola dapat berubah menjadi keunggulan semu, karena insiden besar bisa memaksa moratorium dadakan yang lebih merusak.
Pertemuan ini juga menguji apakah “guardrails” akan dipahami sebagai strategi daya saing, bukan sekadar rem. Jika pengaman didefinisikan sebagai standar industri yang membuat sistem lebih andal, AS bisa memimpin bukan hanya dalam kecepatan, tetapi juga dalam kepercayaan.
Di meja makan, Trump dan Amodei mungkin berbicara tentang masa depan AI Amerika, tetapi publik melihat pertarungan definisi. Apakah AI akan diperlakukan sebagai senjata geopolitik yang harus dilepas cepat, atau sebagai infrastruktur berisiko tinggi yang harus dibangun dengan disiplin.
Jika pemerintah dan perusahaan hanya saling mengancam, hasilnya adalah kebijakan zigzag yang melemahkan inovasi dan keselamatan sekaligus. Tetapi jika keduanya menemukan titik temu, “menang dari China” bisa berarti menang dalam kecepatan dan tanggung jawab.
Pertanyaan yang tersisa sederhana namun menentukan: siapa yang berhak menetapkan batas, negara yang mengejar dominasi, atau perusahaan yang menguasai teknologinya. Jawaban atas pertanyaan itu akan membentuk wajah AI, dan juga wajah demokrasi, pada dekade berikutnya. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)