Serangan Houthi ke Aramco, Krisis Selat Hormuz-Bab al-Mandeb

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Serangan Houthi ke fasilitas Aramco di Jizan dan upaya serangan ke Yanbu menandai eskalasi baru perang regional yang dipicu perang AS-Israel melawan Iran. Di saat langit Iran mendadak lebih sunyi karena serangan udara AS berhenti sejak Jumat, api konflik justru merambat ke Laut Merah dan mengancam jalur energi dunia.

Pasukan Houthi yang didukung Teheran menembakkan rudal dan drone ke dua fasilitas minyak paling strategis Arab Saudi di pesisir Laut Merah. Ini terjadi ketika perang AS-Iran memasuki fase yang membingungkan: 13 gelombang serangan udara AS sejak 11 Juli, lalu jeda mendadak tanpa penjelasan resmi.

Menurut laporan, pemicu awal eskalasi adalah serangan IRGC terhadap kapal tanker yang mencoba melintas di Selat Hormuz. Setelah itu, kedua pihak menyatakan perjanjian damai sementara yang diteken Juni telah mati, dan putaran lanjutan perundingan tampak nyaris mustahil.

Namun pada Minggu pagi tidak ada serangan AS baru yang dilaporkan, dan muncul sinyal bahwa Washington dan Teheran masih saling berkirim pesan lewat mediator. Presiden Donald Trump bahkan menyebut komunikasi masih berlangsung, meski ia meragukan Iran siap “serius” membuat kesepakatan.

Di luar Iran, dampaknya sudah menjalar ke Lebanon dan kini kembali menghidupkan front Yaman-Arab Saudi. Arab Saudi dan sekutunya pernah berperang melawan Houthi sejak 2015 hingga gencatan senjata 2022, tetapi bara itu kini menyala lagi.

Gencatan senjata runtuh bulan ini setelah serangan ke Bandara Sanaa untuk mencegah pesawat Iran mendarat memicu Houthi menembakkan rudal balistik ke Arab Saudi. Pekan lalu Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, lalu Riyadh membalas dengan serangan udara ke Hodeidah pada Jumat malam.

Houthi kemudian menyerang fasilitas Aramco di Jizan dan Yanbu pada Minggu, kata juru bicara militer Yahya Saree. Di Yanbu, dua rudal balistik dicegat sistem Patriot yang dioperasikan militer Yunani dalam kesepakatan dengan Riyadh.

Belum ada komentar Saudi soal kerusakan kilang Aramco di Jizan, tetapi kolom asap besar terlihat membubung setelah serangan. Detail ini penting karena serangan simbolik saja bisa mengguncang pasar, apalagi bila benar mengganggu produksi atau ekspor.

Inti risikonya adalah geografi energi: Hormuz dan Bab al-Mandeb adalah dua “keran” yang menghubungkan minyak Teluk dan perdagangan Laut Merah ke dunia. Jika Hormuz dicekik oleh serangan Iran dan Bab al-Mandeb diblokir Houthi, krisis rantai pasok global menjadi skenario paling berbahaya.

Artikel sumber menegaskan serangan Iran di Selat Hormuz sudah menahan ekspor minyak dan bahan baku pupuk, sehingga harga energi melonjak dan risiko krisis pangan meningkat di negara rentan. Ini bukan sekadar isu minyak, karena pupuk menentukan produksi pangan dan stabilitas politik di banyak negara importir.

Di Laut Merah, Yanbu adalah gerbang ekspor utama pantai barat Arab Saudi, sehingga ancaman ke sana mengubah kalkulasi keamanan pelayaran. Intersepsi Patriot oleh unit Yunani menunjukkan konflik ini juga “menginternasional”, bukan lagi urusan lokal Riyadh-Sanaa.

Perang ini juga berkelindan dengan konflik Ukraina, sebuah simpul yang memperlebar radius eskalasi. Iran melaporkan serangan jarak jauh ke kapal Iran di Laut Kaspia menewaskan satu pelaut dan melukai satu lainnya, lalu menuding Ukraina dan memanggil kuasa usaha Kyiv.

Presiden Volodymyr Zelenskyy mengklaim Kyiv mencapai “hasil sangat kuat” lewat serangan jarak jauh di Laut Kaspia, menghantam kapal yang digunakan untuk pengiriman kargo militer yang melibatkan Iran. Ia juga menuduh Rusia melakukan pengintaian satelit aktif atas negara-negara Teluk dan fasilitas militer AS, lalu membagikan citra itu ke Teheran untuk membantu IRGC memilih target rudal dan drone.

Jeda serangan AS sejak Jumat membuka dua pembacaan yang sama-sama berbahaya. Pertama, Washington sedang memberi ruang diplomasi lewat mediator, tetapi kedua, jeda bisa menjadi jeda operasional sebelum gelombang serangan baru yang lebih keras.

Pejabat senior pemerintahan AS yang dikutip Reuters menyatakan Trump “lebih memilih diplomasi”, tetapi sudah menunjukkan konsekuensi jika Iran tidak “datang ke meja perundingan” secara serius. Pernyataan ini mengirim sinyal bahwa diplomasi dipakai sebagai tekanan, bukan sebagai jalan damai yang setara.

Dalam situasi seperti ini, aktor proksi menjadi pengungkit utama, dan Houthi adalah contoh paling jelas. Serangan ke Aramco memberi Teheran daya tawar tanpa harus menembakkan rudal langsung dari wilayah Iran, sementara Arab Saudi dipaksa menaikkan biaya pertahanan di dua front: udara dan laut.

Masalahnya, logika “pengungkit” mudah berubah menjadi spiral salah hitung. Satu serangan yang mengenai fasilitas energi besar dapat memicu respons berantai, dari serangan balasan, penutupan selat, hingga lonjakan premi asuransi pelayaran yang menghantam harga barang sehari-hari.

Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya jumlah rudal, melainkan normalisasi gagasan bahwa jalur perdagangan global boleh dijadikan sandera politik. Ketika blokade laut diumumkan dan fasilitas energi diserang, dunia sedang belajar bahwa perang modern bisa memukul perut rakyat lewat harga pangan dan ongkos logistik.

Arab Saudi berada di persimpangan: membalas keras berisiko memperkuat narasi perlawanan Houthi, tetapi menahan diri bisa dibaca sebagai kelemahan yang mengundang serangan berikutnya. Di sisi lain, Iran memanen keuntungan strategis dari kekacauan tanpa harus mengakui kendali penuh atas proksi, sebuah ambiguitas yang membuat de-eskalasi makin sulit.

AS juga menghadapi dilema legitimasi: jeda serangan dapat memberi harapan negosiasi, tetapi perang yang sudah berjalan telah memicu efek domino di Lebanon, Yaman, dan Laut Merah. Bila diplomasi hanya menjadi jeda sebelum serangan baru, maka setiap mediator akan kehilangan kredibilitas, dan setiap pihak akan lebih memilih senjata daripada meja perundingan.

Konflik yang tersambung dengan Ukraina menambah lapisan risiko, karena setiap serangan lintas teater membuka peluang pembalasan tak terduga. Dalam jaringan konflik seperti ini, satu insiden di Kaspia bisa memicu keputusan di Teluk, dan satu keputusan di Teluk bisa mengguncang harga roti di Afrika.

Serangan Houthi ke Aramco dan ancaman penutupan Bab al-Mandeb menunjukkan bahwa perang AS-Iran tidak lagi berada di satu peta, melainkan menjalar menjadi krisis sistemik jalur energi dan pangan. Dunia boleh berharap pada jeda serangan dan pesan-pesan mediator, tetapi jeda tanpa kerangka damai yang jelas hanya menunda ledakan berikutnya.

Pertanyaan kuncinya sederhana namun menentukan: apakah para aktor besar masih melihat selat-selat itu sebagai urat nadi bersama, atau sebagai tuas pemerasan geopolitik. Jika jawabannya yang kedua, maka “harga” konflik ini tidak akan berhenti di Tehran, Riyadh, atau Sanaa, melainkan sampai ke meja makan jutaan orang. (Orbit dari berbagai sumber, 6 Agustus 2026)