Pengelolaan Hutan Perhutani Banyumas: Getah Pinus dan Wisata Curug Gomblang
ORBITINDONESIA.COM – Pengelolaan hutan Perhutani Banyumas Timur kembali diuji pada dua mesin ekonomi yang paling nyata: getah pinus dan wisata Curug Gomblang. Hari Hutan Indonesia menjadi pengingat bahwa nilai hutan bukan sekadar dijaga, tetapi juga diatur agar manfaatnya tidak merusak sumbernya.
Di KPH Banyumas Timur, hutan diposisikan sebagai ruang hidup sekaligus ruang usaha, terutama melalui hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan wisata alam. Narasi ini terdengar ideal, tetapi selalu menyimpan pertanyaan lama: siapa yang paling diuntungkan dan siapa yang menanggung risikonya.
Perhutani mendorong pemanfaatan yang “bertanggung jawab” lewat kemitraan, termasuk dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Skema ini penting, namun tidak otomatis adil hanya karena ada tanda tangan perjanjian.
Kasus Curug Gomblang di Desa Kalisalak dan capaian angkutan getah di BKPH Kebasen menunjukkan dua wajah pengelolaan hutan. Keduanya menjanjikan pemasukan, tetapi juga membawa beban baru pada tata kelola, keselamatan kerja, dan daya dukung lingkungan.
Wisata Curug Gomblang menampilkan hutan sebagai panggung pengalaman, bukan sekadar komoditas. Perjanjian kerja sama Perhutani KPH Banyumas Timur dengan LMDH Madyo Laras pada Maret 2026 memberi sinyal bahwa warga mulai diposisikan sebagai mitra, bukan pelengkap.
Dampak ekonomi wisata biasanya tidak berhenti pada tiket masuk, melainkan menyebar ke parkir, ojek lokal, warung, dan produk UMKM. Pola ini sejalan dengan temuan UNWTO bahwa pariwisata berbasis alam dapat menciptakan efek berganda ekonomi lokal, tetapi hanya jika tata kelola dan pembagian manfaatnya jelas.
Masalahnya, wisata hutan juga cepat menumpuk “biaya tak terlihat” berupa sampah, kerusakan jalur, dan risiko kecelakaan. Dalam banyak destinasi alam di Indonesia, lonjakan kunjungan sering lebih cepat daripada kesiapan pengelolaan, terutama pada aspek pengawasan, fasilitas, dan standar keselamatan.
Di sisi HHBK, getah pinus adalah ekonomi yang lebih sunyi, tetapi paling stabil bagi banyak rumah tangga sekitar hutan. BKPH Kebasen disebut sebagai wilayah dengan capaian angkutan getah tertinggi di KPH Banyumas Timur, yang menandakan pentingnya komoditas ini bagi Perhutani dan penyadap.
Namun angka produksi sering menutup cerita di baliknya: jam kerja panjang, medan terjal, dan risiko kerja yang berulang. ILO menempatkan kehutanan sebagai salah satu sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja tinggi, sehingga produktivitas tanpa standar K3 hanya memindahkan biaya ke tubuh pekerja.
Kualitas getah, kesehatan tegakan, dan teknik penyadapan menentukan apakah keuntungan hari ini mengorbankan panen esok. Jika tekanan produksi mendorong penyadapan berlebihan, pohon melemah, serangan hama meningkat, dan siklus kerusakan menjadi mahal untuk dipulihkan.
Rantai tata kelola juga menentukan nilai tambah, dari titik sadap hingga tempat pengumpulan dan pengolahan. Tanpa pengawasan mutu dan transparansi, penyadap tetap berada di ujung paling lemah, sementara nilai ekonomi terbesar dinikmati di hilir.
Keyword “pengelolaan hutan Perhutani” sering terdengar seperti urusan teknis, padahal ia adalah urusan politik keseharian: pembagian akses, pembagian risiko, dan pembagian keuntungan. Getah pinus dan wisata Curug Gomblang sama-sama menjanjikan, tetapi keduanya bisa berubah menjadi ekstraksi jika orientasi utamanya hanya target angka.
Kemitraan dengan LMDH seharusnya menjadi alat koreksi, bukan sekadar formalitas. Ukurannya sederhana: apakah pendapatan warga naik secara stabil, apakah konflik berkurang, dan apakah hutan tetap pulih setelah dipakai.
Wisata alam yang sehat menuntut disiplin daya dukung, bukan sekadar promosi. Jika pengunjung terus bertambah tanpa batas, hutan akan membayar dengan erosi, air keruh, dan pengalaman wisata yang menurun, lalu ekonomi lokal ikut jatuh.
HHBK getah pinus juga membutuhkan standar yang tegas, terutama pada keselamatan kerja dan batas ekologis penyadapan. Produktivitas yang baik seharusnya lahir dari teknik yang benar, alat yang aman, dan insentif mutu, bukan dari menambah luka pada batang pohon.
Dalam konteks Banyumas Timur, tantangan terbesarnya adalah membuktikan bahwa “Melangkah Bersama Merawat Hutan” bukan slogan. Ia harus terlihat dalam transparansi bagi hasil, pelatihan, pengawasan, dan mekanisme keluhan yang benar-benar berfungsi.
Hutan di Banyumas Timur memperlihatkan bahwa ekonomi dan konservasi tidak selalu bertengkar, tetapi keduanya juga tidak otomatis berdamai. Wisata Curug Gomblang dan getah pinus di Kebasen bisa menjadi contoh baik jika tata kelola menempatkan kelestarian sebagai batas, bukan sebagai catatan kaki.
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukan berapa banyak getah diangkut atau berapa ramai air terjun dikunjungi. Pertanyaannya, apakah hutan tetap utuh, dan apakah manusia yang menggantungkan hidup padanya pulang dengan lebih aman dan lebih sejahtera.
(Orbit dari berbagai sumber, 24 Agustus 2026)