Genosida oleh Zionis Israel Berlanjut Terhadap Warga Palestina dengan Dalih Layang-Layang

Seorang anak laki-laki menerbangkan layang-layang saat warga Palestina yang mengungsi dari serangan Israel berjuang untuk bertahan hidup di tenda darurat di Bukit Nuwairi, sebelah barat Gaza, pada 4 Oktober 2025.

Seorang anak laki-laki menerbangkan layang-layang saat warga Palestina yang mengungsi dari serangan Israel berjuang untuk bertahan hidup di tenda darurat di Bukit Nuwairi, sebelah barat Gaza, pada 4 Oktober 2025.

Internasional

ORBITINDONESIA.COM - Bertindak tegas terhadap layang-layang merupakan salah satu kekhawatiran keamanan terbaru yang diklaim oleh Israel.

"Arahan saya kepada lembaga pertahanan dan IDF adalah melakukan segala upaya untuk melawan senjata mematikan ini—menyerangnya, menyerang mereka yang mengoperasikannya, menyerang lokasi peluncurannya, serta melakukan apa pun demi melindungi warga kami di komunitas perbatasan Gaza dan di tempat lain mana pun," ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Menteri Pertahanan Israel Katz mendukung pernyataan Netanyahu, dengan mengatakan bahwa ia telah menginstruksikan militer "untuk bertindak segera dan tegas" terhadap peluncuran apa pun dari Gaza, yang menurutnya merupakan "tindakan perang dalam segala aspek."

Namun, layang-layang yang ditemukan oleh militer Israel di Gaza ternyata tidak dilengkapi dengan bahan peledak. Bahkan media Israel pun mengonfirmasi hal tersebut.

Mengingat tidak ada perangkat berbahaya yang diluncurkan—dan Israel menganggap setiap peluncuran sebagai serangan meskipun hanya berupa layang-layang—retorika ini tidak lain menunjukkan ancaman langsung akan adanya serangan udara tambahan dari Israel yang akan menewaskan lebih banyak warga Palestina serta memaksa warga lainnya masuk ke dalam siklus pengungsian baru.

Menurut media Israel, Hamas berada di balik peluncuran layang-layang tersebut untuk menghambat rekonstruksi Gaza. Padahal, rekonstruksi Gaza justru terhambat oleh Dewan Perdamaian itu sendiri, yang membatasi rekonstruksi hanya pada proyek percontohan.

Sementara itu, Israel menolak untuk mundur dari "Garis Kuning" (Yellow Line). Netanyahu berulang kali menyatakan penolakannya terhadap kerangka solusi dua negara maupun penarikan mundur dari Gaza, sebagaimana ditunjukkan dengan jelas oleh perintah sebelumnya kepada militer untuk menduduki 70 persen wilayah Gaza.

Jika Israel tidak mundur dari Gaza, rekonstruksi bagi warga Palestina tidak perlu dilakukan.

Namun, yang akan terjadi justru pengungsian paksa lebih lanjut—bahkan jika itu berarti mengubah layang-layang yang tidak berbahaya menjadi musuh baru.

Masyarakat internasional akan membiarkan Israel berbicara dan menyerang, lalu melontarkan kecaman belakangan, setelah semakin banyak jenazah menumpuk di sisa-sisa wilayah Gaza.

Mereka tidak akan mempertanyakan bagaimana kekuatan militer seperti Israel bisa merasa terancam oleh layang-layang, karena khawatir narasi kolonial akan terganggu dan laju genosida yang berjalan lambat itu justru akan terhenti sama sekali.

Israel hadir di Gaza melalui pendudukan militer—ancaman seperti apa sebenarnya yang dirasakan Israel dari penduduk yang lebih memikirkan kelangsungan hidup mereka sendiri di tengah pengungsian paksa yang terus-menerus selama hampir tiga tahun akibat genosida?

Sementara Israel berbicara soal layang-layang, rakyat Palestina harus menanggung dampak dari narasi keamanan Israel. Israel tidak membutuhkan dalih untuk membunuh lebih banyak warga Palestina—sikap penerimaan masyarakat internasional terhadap genosida sudah cukup mewujudkan hal tersebut.

Namun, adanya alasan yang dibuat-buat—betapapun tidak masuk akalnya—tetap membantu memperkuat narasi mereka.

Masalahnya bukanlah layang-layang, pesawat nirawak (drone), ataupun perlawanan terhadap kolonialisme.

Bagi Israel, masalah utamanya adalah keberadaan rakyat Palestina itu sendiri. Hal ini telah menjadi masalah paling mendesak bagi Zionisme sejak kolonialisme di Palestina mulai terbentuk.

Bagi Israel, keamanan berarti ketiadaan total warga Palestina.

Dengan semakin menipisnya prospek rekonstruksi yang sejalan dengan tujuan genosida tersebut, Israel semakin mudah menemukan detail-detail sepele untuk memperkuat narasinya tentang mengapa militer harus terus membombardir Gaza, membunuh warga Palestina, dan semakin memperkokoh cengkeramannya. Layang-layang hanyalah kedok bagi upaya Israel yang kian gencar untuk memusnahkan bangsa Palestina.

(Ramona Wadi, Middle East Monitor) ***