Exynos 2700: Kebangkitan Chip Samsung Tantang Snapdragon

PhoneArena

PhoneArena

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Exynos 2700 menjadi kata kunci yang kembali memanaskan persaingan chipset flagship, setelah pembocor Ice Universe menyebut Samsung sudah memulai produksi massal wafer untuk chip tersebut. Jika benar, ini bukan sekadar pembaruan produk, melainkan sinyal bahwa Samsung ingin menutup era ketika Exynos dianggap kalah dari Snapdragon dalam performa dan efisiensi.

Dalam satu dekade terakhir, Exynos sering dicap mudah panas saat beban berat seperti gim 3D dan pemutaran video, terutama ketika proses manufaktur 5nm dan 4nm Samsung Foundry tertinggal dari TSMC. Masalah kebocoran arus dan efisiensi daya membuat pengalaman pengguna di sejumlah pasar terasa tidak konsisten dibanding varian Snapdragon.

Di sisi lain, Qualcomm, MediaTek, dan Apple diuntungkan karena mereka fabless dan mengandalkan TSMC yang secara luas dipandang unggul dalam yield dan efisiensi. Namun ketergantungan pada satu raksasa manufaktur juga berisiko dalam iklim geopolitik yang kian sensitif.

Samsung berada pada posisi unik karena mendesain chip lewat divisi LSI dan memproduksinya lewat Samsung Foundry. Model terintegrasi ini bisa menjadi senjata, tetapi juga bisa menjadi bumerang ketika node internal gagal memenuhi janji.

Kisah balik arah Exynos mulai terlihat pada Exynos 2500 yang dibuat pada node 3nm Samsung Foundry dan menjadi SoC ponsel pertama yang memakai arsitektur transistor Gate-All-Around (GAA). Dengan GAA, gerbang mengelilingi kanal dari empat sisi, sehingga kebocoran arus turun dan transistor bisa beralih lebih cepat.

Dampaknya bukan hanya angka benchmark, melainkan efisiensi baterai, respons sistem, dan pemrosesan AI di perangkat yang lebih cepat. Dalam konteks ponsel flagship, efisiensi sering lebih menentukan daripada puncak performa sesaat.

Exynos 2600 lalu disebut sebagai chip pertama yang dibangun pada proses 2nm GAA dan memperkenalkan Heat Path Block (HPB). HPB berupa heatsink tembaga yang ditempatkan berdampingan dengan DRAM di atas AP untuk menarik panas dari CPU dan GPU menuju vapor chamber.

Langkah ini menarik karena mengakui satu masalah historis Exynos: panas bukan sekadar efek samping, melainkan variabel desain yang harus ditangani sejak level paket. Jika manajemen termal membaik, throttle berkurang, dan performa berkelanjutan menjadi lebih stabil.

Menurut Ice Universe, Exynos 2700 sudah masuk tahap produksi massal wafer front-end, melampaui fase sampel skala kecil. Ia juga menyebut Samsung akan memproduksi 10% lebih banyak Exynos 2700 dibanding jumlah Exynos 2600 yang keluar dari lini.

Strategi distribusi juga tetap pragmatis melalui dual-sourcing: pasar AS dan China disebut tetap memakai Qualcomm Snapdragon untuk lini Galaxy S27. Sementara Eropa, Korea Selatan, India, Asia, Amerika Latin, dan Australia disebut akan mendapat Exynos 2700 pada Galaxy S27, S27+, dan S27 Pro.

Di pasar Snapdragon, perangkat itu diperkirakan memakai Snapdragon 8 Elite Gen 6, atau bahkan varian lebih tinggi Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6. Ice Universe menyebut varian Extreme menawarkan clock di atas 5GHz, perekaman 8K 60fps, dan peningkatan AI graphics.

Bagian paling politis sekaligus paling menentukan ada pada Galaxy S27 Ultra. Selama ini, model Ultra lazimnya memakai Snapdragon di semua pasar, tetapi kini Samsung disebut mempertimbangkan dual-sourcing untuk pertama kalinya.

Di internal Samsung, divisi LSI dikabarkan menginginkan semua Galaxy S27 Ultra memakai Exynos 2700. Namun unit MX yang bertanggung jawab atas produk perangkat masih mengevaluasi metrik sebelum memutuskan chipset final.

Ice Universe menyebut Samsung menjalankan uji Geekbench internal yang memperlihatkan skor multi-core Exynos 2700 9,5% lebih tinggi daripada Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6. Dengan patokan skor multi-core Snapdragon 12.856 di Geekbench 6, Exynos 2700 diproyeksikan menembus 14.000 poin.

Jika Exynos 2700 benar-benar dipasang di sebagian Galaxy S27 Ultra, itu akan menjadi pengakuan publik bahwa Samsung merasa setara dengan Snapdragon pada level tertinggi. Ini bukan hanya soal performa, tetapi soal reputasi, kontrol rantai pasok, dan margin bisnis.

Namun Samsung juga harus berhati-hati karena luka lama Exynos bukan semata “kurang kencang”, melainkan pengalaman harian yang tak stabil akibat panas dan efisiensi. Benchmark tinggi tanpa performa berkelanjutan dan konsumsi daya yang konsisten akan mengulang siklus kekecewaan pengguna.

Dual-sourcing juga dapat dibaca sebagai kompromi yang cerdas, bukan ketidaktegasan. Dengan membagi risiko antara Exynos dan Snapdragon, Samsung menjaga pasokan sekaligus menguji kepercayaan pasar terhadap chip buatannya sendiri.

Kebangkitan Exynos 2700 menandai momen ketika Samsung mencoba mengubah narasi dari “chip panas” menjadi “chip yang layak memimpin flagship.” Pertaruhan sesungguhnya bukan pada angka 14.000 poin, melainkan pada konsistensi pengalaman pengguna lintas pasar.

Pertanyaan yang tersisa sederhana tetapi tajam: apakah Samsung siap menanggung konsekuensi reputasi jika Exynos kembali terpeleset, atau justru inilah titik balik yang membuat dominasi Snapdragon di Android tak lagi mutlak. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Oktober 2026)