Perempuan di City of London: Elissa Bayer dan Inklusi Keuangan
ORBITINDONESIA.COM – Perempuan di City of London kembali jadi sorotan saat Elissa Bayer, veteran wealth management, bercerita tentang kariernya di dunia keuangan yang dulu “totally white male”. Dari bertahan di tengah budaya kantor yang meremehkan perempuan hingga menyaksikan perubahan pasca-Covid, kisahnya menyorot isu inklusi, diversity, dan kepemimpinan perempuan di sektor finansial.
Elissa Bayer memulai kariernya pada 1972, ketika distrik finansial London masih memosisikan perempuan sebagai pengecualian. Ia menggambarkan masa itu sebagai ruang yang didesain “oleh laki-laki untuk laki-laki”, dengan norma yang mengunci akses dan ekspektasi karier.
Diskriminasi tidak selalu dilafalkan, tetapi bekerja melalui pintu yang tertutup pelan-pelan. Bayer mengingat ada firma yang “tidak bisa dimasuki” jika seseorang Yahudi, sementara firma lain justru menjadi “hampir sepenuhnya Yahudi” karena jalur masuk di tempat lain buntu.
Pengalaman itu bertemu dengan faktor identitas yang berlapis, karena Bayer adalah Yahudi Ortodoks yang pulang lebih awal pada Jumat untuk Sabat. Bahkan saat diterima, ia masih “dicek” apakah benar-benar pulang untuk alasan religius, seolah komitmen iman harus dibuktikan di kantor.
Di sisi lain, komunitas gay disebutnya ada, tetapi hidup dalam era perilaku yang menuntut sembunyi. Ia menceritakan seorang pegawai yang diancam kehilangan pekerjaan hanya karena bertemu partner senior di klub gay.
Kisah Bayer memperlihatkan bahwa bias institusional sering hadir sebagai kebiasaan, bukan hanya kebijakan tertulis. Contohnya, rekan kantor yang bertanya “kapan mesin ketik kalian datang” ketika melihat tiga perempuan, karena otaknya hanya mengenali perempuan sebagai sekretaris.
Budaya eksklusif juga hidup di ruang sosial, seperti aturan klub privat yang membuat perempuan masuk lewat pintu belakang saat jam makan siang. Aturan semacam itu tampak absurd, tetapi berfungsi nyata sebagai mekanisme “pengingat kelas” bahwa perempuan adalah tamu di ruang kekuasaan.
Perubahan mulai terlihat ketika lebih banyak perempuan masuk dan menciptakan konferensi atau forum internal. Bayer menyebut saat konferensi perempuan digelar, pembicara dari kelompok lain mulai muncul, termasuk pembicara gay dan kulit hitam, seolah pintu inklusi terbuka setelah ada massa kritis.
Namun, perubahan struktural tidak otomatis mengikuti perubahan simbolik. Di Inggris, kerangka hukum anti-diskriminasi sudah lama hadir, termasuk Equality Act 2010 yang melarang diskriminasi atas dasar karakteristik terlindungi, tetapi Bayer menilai “firms have to make more of an effort to be inclusive”.
Pandemi Covid-19 menjadi pemicu refleksi karena kerja jarak jauh memaksa organisasi menilai ulang cara kerja dan empati sosial. Bayer menyebut orang perlu memikirkan rasanya menjadi “not you”, sebuah kalimat sederhana yang menohok budaya lama yang menganggap pengalaman laki-laki sebagai standar universal.
Soal work-life balance, Bayer mengakui banyak profesional dulu hidup dengan pola komuter ekstrem, bahkan punya tempat tinggal di kota dan pulang hanya di akhir pekan. Ia sendiri bertahan karena dukungan suami dan bantuan penuh waktu, sebuah privilese yang tidak tersedia bagi banyak perempuan lain.
Di titik ini, isu kepemimpinan perempuan di sektor finansial bukan hanya soal talenta, tetapi soal infrastruktur sosial. Tanpa dukungan pasangan, kebijakan fleksibel, dan biaya pengasuhan yang terjangkau, “kesempatan setara” mudah berubah menjadi slogan yang tidak operasional.
Yang paling tajam dari kisah Bayer adalah bagaimana ketahanan pribadi sering dipuji untuk menutupi kelambanan institusi. Ketika seseorang selamat dari sistem yang tidak ramah, organisasi kerap mengubahnya menjadi narasi heroik, lalu lupa memperbaiki sistem yang membuat orang lain gugur diam-diam.
Bayer menolak gagasan bahwa perempuan harus meniru laki-laki untuk naik, bahkan ia sengaja tidak memakai “seragam” hitam yang dominan. Ia percaya ada “virtue in being a woman”, tetapi menekankan perempuan tidak boleh menjadi “shrinking violet” dalam ruang kompetitif.
Di sini terdapat ketegangan yang perlu dibaca kritis, karena tuntutan untuk “tidak mengecil” sering berakhir menjadi standar maskulin versi baru. Jika keberanian hanya diakui ketika berbunyi keras dan agresif, maka sistem sekadar mengganti penjaga gerbang, bukan membuka gerbang.
Kritik Bayer kepada perempuan yang enggan membantu perempuan lain juga penting, tetapi harus ditempatkan dalam konteks struktur. Perilaku “tough streak” bisa lahir dari lingkungan yang memaksa perempuan merasa kursi di puncak hanya tersedia satu, sehingga solidaritas dianggap risiko karier.
Karena itu, solusi tidak cukup berupa seminar motivasi, meski PIMFA Women’s Symposium membantu membangun jejaring dan bahasa bersama. Yang dibutuhkan adalah target representasi yang transparan, audit promosi dan gaji, serta mekanisme akuntabilitas yang membuat inklusi menjadi metrik bisnis, bukan hiasan tahunan.
Elissa Bayer menunjukkan bahwa perubahan di City of London bergerak, tetapi tidak selalu lurus dan tidak selalu adil. Dari pintu belakang klub privat hingga ruang rapat direksi, ia menyaksikan bagaimana norma bisa berubah hanya ketika ada orang yang berani bertahan dan berbicara.
Namun, ketahanan individu tidak boleh menjadi alasan institusi menunda reformasi. Jika inklusi hanya bergantung pada “support network” pribadi, maka industri keuangan sedang mengakui bahwa sistemnya masih menyaring talenta berdasarkan privilese, bukan kompetensi.
Pertanyaannya kini sederhana tetapi mengganggu: apakah sektor finansial siap membuat orang tidak perlu “luar biasa kuat” hanya untuk dianggap layak? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah kisah generasi berikutnya masih tentang bertahan, atau akhirnya tentang bertumbuh. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)