Piala Dunia 2026: Inggris vs Prancis 6-4, Saka Hat-trick

BBC

BBC

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Piala Dunia 2026 menyajikan laga Inggris vs Prancis yang berakhir 6-4, sekaligus mengantar The Three Lions merebut peringkat tiga. Bukayo Saka mencetak hat-trick dan Jude Bellingham menutup drama, dalam pertandingan 10 gol yang langsung masuk daftar klasik sepak bola modern.

Perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 biasanya menjadi panggung pelipur lara, tetapi kali ini berubah menjadi duel paling liar. Inggris datang dengan luka semifinal, sementara Prancis membawa beban laga terakhir Didier Deschamps sebagai pelatih.

Thomas Tuchel melakukan tujuh perubahan, termasuk mencadangkan Harry Kane dan sempat menaruh Jude Bellingham di bangku cadangan. Keputusan itu membuat satu pertanyaan mengambang sejak kick-off: apakah Inggris sedang mencari kemenangan, atau sedang menguji ulang identitasnya sendiri.

Sejak 1966, Inggris selalu dihantui narasi “hampir”, dan finis ketiga adalah hasil terbaik mereka di Piala Dunia dalam enam dekade. Fakta ini membuat kemenangan atas Prancis bukan sekadar skor, melainkan pembuktian bahwa generasi baru mampu menulis sejarah tanpa harus menunggu final.

Kekacauan dimulai pada menit ketiga, ketika Declan Rice memotong umpan dan menembak dari luar kotak penalti untuk membuka skor. Inggris lalu menggandakan keunggulan lewat sundulan Ezri Konsa dari sepak pojok, menandai 20 menit awal yang brutal bagi Prancis.

Ruang antarlini Prancis tampak koyak, dan Inggris memakainya seperti jalan tol serangan balik. Saka mencetak dua gol sebelum jeda, dan Prancis tertinggal 4-0 di paruh waktu untuk pertama kalinya sejak April 1930.

Babak kedua berubah total, seolah Deschamps “menyalakan” timnya dari ruang ganti. Kylian Mbappe mencetak dua gol yang mengapit gol Bradley Barcola, dan skor 4-3 membuat pertandingan kembali menjadi ujian mental, bukan sekadar adu taktik.

Mbappe juga menegaskan statusnya sebagai mesin gol turnamen, memimpin perburuan Sepatu Emas 2026 dan melampaui Lionel Messi sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia dengan 22 gol. Ia bahkan menjadi pemain pertama yang mencetak dua digit gol dalam satu edisi sejak Gerd Muller pada 1970, sebuah indikator betapa Prancis hidup dari daya ledak individu.

Namun, titik balik justru datang ketika Prancis sedang menekan paling keras. Pelanggaran Malo Gusto terhadap Djed Spence berujung penalti, dan Saka menuntaskannya pada menit ke-87 untuk melengkapi hat-trick, menyamai catatan Sir Geoff Hurst pada 1966.

Ousmane Dembele sempat mencetak gol pada menit keenam injury time untuk membuat skor 5-4, dan Inggris kembali terlihat rapuh. Tetapi Bellingham mengakhiri semua dengan gol solo pada menit ke-98, menembus dari garis tengah dan mengecoh Maxence Lacroix sebelum menuntaskan peluang.

Angka-angka menguatkan kesan bahwa laga ini bukan pertandingan normal. Total tercipta 38 tembakan dengan 20 tepat sasaran, dan ini menjadi laga perebutan tempat ketiga dengan jumlah gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia, melampaui Prancis 6-3 Jerman Barat pada 1958.

Prancis juga menelan rekor memalukan yang jarang menempel pada tim sebesar itu. Mereka kebobolan enam gol untuk pertama kalinya di Piala Dunia, dan untuk pertama kalinya dalam kompetisi apa pun dalam 66 tahun.

Di kubu Inggris, Bellingham menutup turnamen dengan tujuh gol, terbanyak yang pernah dicetak pemain Inggris dalam satu edisi. Pujian pun mengalir, dengan Stephen Warnock menyebutnya “salah satu permainan sepak bola menyerang terbaik sepanjang turnamen”, sementara Danny Murphy menilai skema yang muncul “yang terbaik” yang pernah ia saksikan.

Kemenangan ini terasa seperti jawaban, tetapi juga memunculkan dakwaan halus kepada Tuchel. Jika intensitas dan keberanian menyerang seperti ini bisa muncul, mengapa pendekatan serupa hilang saat semifinal, terutama ketika Saka bahkan tidak dimainkan.

Tuchel tampak lebih berani bereksperimen ketika tekanan lebih rendah, dan itu menguntungkan Inggris. Namun, sepak bola level Piala Dunia tidak memberi hadiah untuk keberanian yang datang terlambat, karena sejarah biasanya mengingat pemenang final, bukan pemenang pelajaran.

Inggris juga menunjukkan paradoks klasik: mereka bisa sangat tajam sekaligus sangat longgar. Keunggulan 4-0 hampir menguap, dan ini mengisyaratkan bahwa “menyerang total” tanpa kontrol bisa berubah menjadi bumerang ketika lawan memiliki Mbappe.

Bagi Prancis, laga ini adalah epilog yang dramatis untuk era Deschamps. Ia pergi setelah 187 pertandingan dan 27 laga putaran final Piala Dunia, membawa warisan juara 2018, tetapi juga meninggalkan pertanyaan tentang regenerasi dan disiplin bertahan yang runtuh dalam 45 menit.

Prancis sebenarnya memiliki momen untuk menyamakan kedudukan, tetapi penyelesaian akhir dan penyelamatan Dean Henderson membuat mereka gagal membayar kebangkitan. Michael Olise pun menutup turnamen tanpa gol, sebuah catatan yang terasa kontras dengan reputasinya sebagai kreator utama.

Laga Inggris vs Prancis 6-4 di Piala Dunia 2026 adalah pesta gol yang memikat, tetapi juga cermin rapuhnya struktur ketika emosi mengambil alih. Inggris pulang dengan peringkat tiga dan Saka dengan sejarah, sementara Prancis pulang dengan penutup era yang sekaligus megah dan menyakitkan.

Sepak bola sering menjanjikan bahwa “yang terbaik akan menang”, tetapi pertandingan ini menunjukkan bahwa yang paling berani, paling klinis, dan paling tahan paniklah yang bertahan sampai akhir. Pertanyaannya kini sederhana dan tajam: apakah Inggris akan menjadikan malam gila ini sebagai fondasi, atau hanya sebagai cerita indah yang tak pernah benar-benar diulang.

(Orbit dari berbagai sumber, 31 Juli 2026)