El Nino Super 2026 Ancam Kekeringan Parah di Indonesia Selatan

CNN Indonesia

CNN Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – El Nino super 2026 diprediksi mendorong suhu anomali melampaui 2 derajat Celsius dan membuat kemarau terasa lebih panas serta kering. Profesor Riset BRIN Erma Yulihastin menyebut pantauan satelit sudah mencapai 1,74 derajat Celsius dan masih merangkak naik menuju ambang “super” pada Agustus.

El Nino adalah fenomena iklim global yang menggeser pola hujan, tetapi ia bukan sinonim musim kemarau. BMKG menegaskan keduanya berbeda, meski El Nino kuat dapat memperparah defisit hujan terutama di selatan khatulistiwa.

Dalam narasi publik, kemarau sering dipahami sekadar “tidak hujan”, padahal yang berubah adalah distribusi air, durasi hari kering, dan lonjakan suhu. Saat anomali menguat, dampaknya merembet ke pangan, kesehatan, kualitas udara, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan.

Ukuran yang sering dikutip adalah anomali suhu permukaan laut yang memicu rangkaian perubahan atmosfer. Erma membandingkan El Nino 2023 dengan intensitas maksimum 1,6 derajat Celsius, sementara 2026 sudah 1,74 derajat Celsius dan diprediksi menembus 2 derajat Celsius.

Ambang 2 derajat Celsius penting karena menandai kategori “super”, yang secara historis pernah terjadi pada 1997 dan 2015. Jika 2026 lebih kuat, maka logikanya bukan hanya kemarau lebih panjang, tetapi juga gelombang panas lebih sering dan kelembapan udara lebih rendah.

Keragaman dampak menjadi kunci, karena tidak semua wilayah akan kering bersamaan. BRIN memperkirakan wilayah utara ekuator seperti Aceh, Sumatra barat, dan Kalimantan utara masih berpeluang diguyur hujan.

Namun, wilayah selatan ekuator diproyeksikan menerima pukulan paling keras. Erma menyebut secara statistik lebih dari 70 persen wilayah Indonesia akan mengalami kondisi “hotter” dan “dryer”, dengan dua hotspot utama di selatan Jawa serta Sumatra bagian selatan seperti Lampung.

BMKG juga mencatat El Nino telah masuk kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen untuk terus berkembang. Konsekuensinya adalah penurunan curah hujan di banyak wilayah Indonesia, terutama selama puncak musim kemarau di selatan garis khatulistiwa.

Rantai dampak paling cepat terlihat pada air dan pangan. BMKG memperingatkan gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga potensi puso ketika defisit air mengunci lahan dalam stres berkepanjangan.

Ancaman lain yang sering datang diam-diam adalah kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika bahan bakar alami mengering dan angin mempercepat rambatan api. Kalimantan disebut berpotensi terdampak, dan suhu Agustus diperkirakan lebih panas sehingga memperbesar peluang titik api.

Di kota-kota, El Nino kuat juga mengubah risiko kesehatan menjadi lebih nyata. BMKG menyebut peningkatan konsentrasi polutan, gangguan pernapasan seperti ISPA, serta penyakit akibat paparan suhu panas sebagai dampak turunan yang perlu diantisipasi.

Masalah terbesar bukan sekadar El Nino yang menguat, melainkan kebiasaan kita menunggu krisis menjadi berita harian. Ketika anomali sudah 1,74 derajat Celsius, ruang untuk “kaget” seharusnya habis, karena indikatornya sudah memberi peringatan sejak awal.

Frasa “70 persen wilayah terdampak” semestinya dibaca sebagai alarm tata kelola, bukan angka cuaca semata. Ia menuntut disiplin lintas sektor, dari penyesuaian pola tanam sampai pengaturan distribusi air, agar kekeringan tidak berubah menjadi bencana sosial.

Di titik ini, informasi iklim harus naik kelas menjadi dasar keputusan, bukan sekadar konten prakiraan. BMKG sudah menyarankan pengelolaan irigasi lebih efisien dan pemanfaatan informasi iklim, tetapi implementasinya kerap kalah oleh rutinitas dan ego sektoral.

El Nino juga menguji keadilan ekologis, karena wilayah yang paling kering sering bukan yang paling siap. Jika hotspot selatan Jawa dan Lampung terpukul, maka yang pertama merasakan adalah petani kecil, pekerja informal, dan rumah tangga yang bergantung pada air harian.

El Nino super 2026 berpotensi menjadi ujian besar bagi Indonesia, terutama wilayah selatan khatulistiwa yang rawan kekeringan, kebakaran, dan guncangan pangan. Data BRIN dan peringatan BMKG memberi sinyal bahwa puncak risiko bukan wacana, melainkan skenario yang sedang terbentuk.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan terdampak, melainkan seberapa siap kita mengurangi kerugian sebelum terlambat. Jika iklim makin ekstrem, mungkin yang paling perlu diubah adalah cara kita mengambil keputusan, dari reaktif menjadi antisipatif. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Agustus 2026)