Galaxy AI Samsung Dipakai 95% Pengguna Asia Tenggara

detikInet

detikInet

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Galaxy AI Samsung kini dipakai sekitar 95% pengguna Galaxy di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Klaim ini muncul dari panggung Galaxy Unpacked 2026 di London, saat Samsung menegaskan AI bukan lagi fitur pajangan, melainkan kebiasaan harian.

Samsung menyebut angka penggunaan Galaxy AI naik dari 84% pada September 2025 menjadi sekitar 95% pada 2026. Head of Marketing Samsung Electronics Southeast Asia & Oceania, Chon Hong, mengatakan perusahaan terus memantau dan mendengarkan cara pengguna memanfaatkan fitur AI di perangkat.

Kenaikan ini terjadi ketika pasar smartphone makin jenuh oleh perang spesifikasi, sementara diferensiasi bergeser ke pengalaman perangkat lunak. Di titik ini, AI menjadi “bahasa baru” yang dipakai merek untuk menjelaskan manfaat, sekaligus untuk mengunci loyalitas pengguna.

Secara angka, lompatan 84% ke 95% berarti penetrasi fitur AI mendekati universal di ekosistem Galaxy kawasan ini. Samsung juga mencatat adopsi lebih tinggi pada perangkat lipat, dengan 96% pengguna Galaxy Z7 memakai Galaxy AI.

Fitur yang paling sering dipakai disebut Circle to Search dan Now Brief, dua alat yang menyingkat jarak antara rasa ingin tahu dan jawaban. Chon Hong menegaskan sifat “kontekstual” membuat AI terasa relevan, karena pengguna tidak perlu berpindah aplikasi atau merangkai kata kunci panjang.

Namun, angka tinggi tidak otomatis berarti penggunaan mendalam, karena “memakai” bisa sekadar mencoba sekali atau mengikuti prompt bawaan. Tanpa transparansi metrik—misalnya frekuensi mingguan, durasi, atau fitur yang dipakai berulang—klaim 95% lebih tepat dibaca sebagai indikator adopsi awal yang sangat luas.

Di Asia Tenggara, konteks sosial turut mendorong AI cepat diterima, karena kebutuhan informasi praktis muncul dari mobilitas tinggi dan konsumsi konten yang serba cepat. Ketika pencarian visual dan rangkuman menjadi kebiasaan, AI berperan seperti “jalan pintas” kognitif untuk menyaring banjir informasi.

Samsung sedang memenangkan narasi bahwa AI adalah kebiasaan baru, dan angka 95% menjadi amunisi pemasaran yang kuat. Tetapi pertanyaan pentingnya bukan hanya “berapa banyak yang memakai,” melainkan “untuk apa” dan “dengan konsekuensi apa.”

Jika Circle to Search dan rangkuman seperti Now Brief menjadi pintu utama memahami dunia, maka kurasi algoritmik ikut menentukan apa yang dianggap penting. Di sini, kenyamanan berpotensi menggeser daya kritis, karena pengguna makin sering menerima ringkasan ketimbang menelusuri sumber primer.

Selain itu, adopsi masif AI juga menuntut akuntabilitas lebih besar soal privasi, pemrosesan data, dan potensi bias hasil. Tanpa literasi yang memadai, AI bisa berubah dari alat bantu menjadi “penentu arah” keputusan kecil sehari-hari, dari belanja sampai cara menilai informasi.

Samsung menyatakan akan terus mengembangkan AI pada seri terbaru seperti Z Fold8, dan itu logis dari sudut bisnis. Namun, perlombaan AI yang sehat seharusnya menempatkan kontrol pengguna, penjelasan hasil, dan opsi pembatasan data sebagai fitur inti, bukan catatan kaki.

Lonjakan penggunaan Galaxy AI Samsung di Asia Tenggara menunjukkan teknologi ini sudah menempel pada rutinitas, terutama lewat Circle to Search dan Now Brief. Tetapi keberhasilan adopsi harus diimbangi pertanyaan tentang kedalaman pemakaian, kualitas informasi, dan kendali pengguna atas data.

Jika AI menjadi kebiasaan baru, maka kebiasaan baru itu perlu etika baru: lebih transparan, lebih dapat diaudit, dan lebih berpihak pada pengguna. Pada akhirnya, kita perlu bertanya, apakah AI sedang membuat kita lebih memahami dunia, atau hanya lebih cepat melewati dunia. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Agustus 2026)