KM Nurul Salsa Selayar: Dugaan Overload dan Manifest Bermasalah
ORBITINDONESIA.COM – Tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Selayar kini mengarah pada dugaan overload, setelah polisi menemukan selisih tajam antara manifest penumpang dan data korban. Manifest mencatat 45 orang, tetapi data korban dan laporan identifikasi menunjukkan angka yang sudah mencapai 76 orang dalam penyelidikan.
Di tengah pencarian 16 korban yang masih hilang, perbedaan angka ini bukan sekadar detail administrasi. Ia adalah petunjuk awal tentang bagaimana keselamatan pelayaran bisa runtuh sejak sebelum kapal meninggalkan dermaga. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Agustus 2026)
Polda Sulawesi Selatan menyebut telah memeriksa 21 saksi hingga Rabu, 22 Juli 2026. Saksi berasal dari nahkoda, ABK, agen pelayaran, hingga petugas Kesyahbandaran yang terkait proses keberangkatan KM Nurul Salsa.
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto menegaskan belum ada tersangka karena penyelidikan masih berjalan. Namun polisi menyatakan telah menemukan indikasi dugaan tindak pidana, termasuk kelalaian yang menyebabkan kematian dan dugaan pemalsuan dokumen manifest. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Agustus 2026)
Selisih angka penumpang adalah alarm paling keras dalam kasus KM Nurul Salsa Selayar. Jika manifest 45 tetapi data korban sudah 76, maka ada 31 orang yang secara administratif “tidak ada” di atas kapal.
Dalam logika keselamatan pelayaran, penumpang yang tidak tercatat berarti tidak terhitung dalam perencanaan kapasitas, stabilitas, dan prosedur evakuasi. Kondisi ini memperbesar risiko overload, mempersempit ruang gerak saat darurat, dan membuat operasi SAR serta identifikasi korban jauh lebih rumit.
Didik menyebut, “Yang kita ketahui dari manifest kan ada 45, kemudian ditemukan data korban... sudah ada 76.” Pernyataan ini menguatkan fokus penyidik pada dugaan kelebihan muatan, sekaligus membuka dugaan lain tentang tata kelola keberangkatan yang longgar.
Data Basarnas menunjukkan total penumpang KM Nurul Salsa mencapai 78 orang. Dari jumlah itu, 59 orang ditemukan selamat, tiga orang meninggal, dan 16 masih dicari.
Angka 78 ini membuat pertanyaan semakin tajam tentang kapan dan bagaimana jumlah penumpang sebenarnya diverifikasi. Jika angka riil mendekati 78, maka manifest 45 tampak bukan sekadar keliru, tetapi berpotensi menjadi dokumen yang sengaja “diperkecil” untuk meloloskan keberangkatan.
Basarnas memperpanjang operasi pencarian tiga hari setelah dua jenazah ditemukan pada hari ketujuh operasi SAR. Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo menegaskan perpanjangan dilakukan karena masih ada korban yang belum ditemukan.
Operasi SAR mengerahkan alut laut dan udara, termasuk KN SAR dan unsur TNI AL, serta pesawat Boeing 737-200, dengan penyesuaian area berdasar arus dan angin melalui SARMAP. Ini menunjukkan skala pencarian yang besar, tetapi juga menggambarkan betapa mahalnya konsekuensi dari satu keberangkatan yang bermasalah.
Di Makassar, dua jenazah masih diidentifikasi di Posko DVI Biddokkes Polda Sulsel bersama ahli forensik Fakultas Kedokteran Unhas. Kabid Dokkes Kombes Pol M Haris menjelaskan identifikasi bisa melalui sidik jari, profil gigi, hingga DNA bila kondisi jenazah tidak memungkinkan.
Proses DVI yang panjang sering kali berkelindan dengan persoalan manifest. Ketika daftar penumpang tidak akurat, keluarga kesulitan memastikan siapa yang berada di kapal, sementara tim identifikasi kehilangan rujukan awal yang paling dasar.
Polisi juga mendalami dugaan turut serta dalam tindak pidana, yang mengisyaratkan kemungkinan rantai tanggung jawab lebih dari satu orang. Dalam kasus pelayaran, risiko tidak pernah berdiri sendiri, karena ada relasi antara operator, agen, dan pengawasan otoritas pelabuhan.
Di titik ini, penyelidikan 21 saksi menjadi penting, tetapi publik membutuhkan garis terang tentang mekanisme pemeriksaan sebelum kapal berangkat. Pertanyaan kuncinya sederhana, yaitu siapa yang mengizinkan kapal berangkat dengan data yang diduga tidak merefleksikan jumlah manusia di dalamnya. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Agustus 2026)
Kasus KM Nurul Salsa Selayar memperlihatkan bahwa keselamatan pelayaran sering kalah oleh kebiasaan, tekanan ekonomi, dan normalisasi pelanggaran kecil. Manifest yang tidak akurat mungkin dianggap “sekadar administrasi”, padahal ia adalah fondasi keputusan teknis dan tanggung jawab hukum.
Overload bukan hanya soal angka, tetapi soal budaya kepatuhan. Ketika penumpang “titipan” masuk tanpa tercatat, maka yang terjadi adalah pemindahan risiko dari pelaku usaha kepada tubuh penumpang dan kerja panjang tim SAR.
Negara melalui syahbandar seharusnya menjadi pagar terakhir, bukan stempel formalitas. Jika dugaan pemalsuan manifest terbukti, maka ini bukan kecelakaan biasa, melainkan kegagalan sistem pengawasan yang memberi ruang pada kebohongan yang berulang.
Publik juga perlu mengingat, penegakan hukum tidak boleh berhenti pada satu figur seperti nahkoda. Rantai keputusan di pelabuhan mencakup agen, operator, dan otoritas yang memberi izin, karena keselamatan adalah ekosistem, bukan individu.
Yang paling menyayat adalah dampak kemanusiaannya, karena 16 orang masih dalam pencarian. Di saat keluarga menunggu kabar, selisih angka manifest justru menambah ketidakpastian tentang siapa yang seharusnya dicari dan dikenali. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Agustus 2026)
Tenggelamnya KM Nurul Salsa Selayar menegaskan bahwa satu dokumen bisa menentukan hidup dan mati. Manifest yang benar adalah pintu pertama keselamatan, dan ketika pintu itu dipalsukan atau diabaikan, tragedi menjadi lebih mungkin terjadi.
Penyelidikan polisi, kerja DVI, dan perpanjangan operasi SAR adalah upaya menutup luka setelah kejadian. Namun pelajaran terbesarnya ada sebelum kapal berangkat, yaitu disiplin pencatatan, pembatasan muatan, dan keberanian menolak pelayaran yang tidak memenuhi syarat.
Pertanyaan yang tersisa bagi kita adalah apakah tragedi ini akan menjadi titik balik, atau hanya menjadi angka baru dalam daftar kecelakaan laut. Jika manifest saja bisa “dikurangi”, apa lagi yang selama ini kita biarkan longgar di jalur pelayaran rakyat. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Agustus 2026)