Kebakaran TPA Cipayung Depok: Api Besar, Alarm Krisis Sampah

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kebakaran TPA Cipayung Depok pada Kamis malam membuat api menyala besar dan asap membubung di atas kawasan Cipayung. Empat unit mobil damkar dengan 16 personel dikerahkan, namun pemadaman masih berlangsung saat laporan awal disampaikan.

Peristiwa kebakaran TPA Cipayung Depok kembali menyorot rapuhnya tata kelola sampah di kota penyangga megapolitan. Ketika satu titik pembuangan terbakar, dampaknya tidak berhenti pada tumpukan sampah, tetapi merambat ke udara yang dihirup warga.

Menurut Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Depok, laporan kebakaran diterima pukul 20.23 WIB. Unit yang diturunkan berasal dari UPT Cipayung, Mako Damkar Depok, dan UPT Cinere, sementara penyebab kebakaran belum diketahui.

Dalam unggahan akun Instagram @depokfirerescue113 terlihat kobaran api cukup besar dan petugas menyemprotkan air tanpa henti. Situasi ini menegaskan bahwa kebakaran TPA bukan insiden kecil, melainkan kejadian berisiko tinggi karena material mudah terbakar dan gas yang terperangkap.

Kebakaran di tempat pembuangan akhir lazimnya dipicu kombinasi cuaca, akumulasi gas metana, dan pengelolaan timbunan yang tidak ideal. Namun pada fase awal, otoritas biasanya memprioritaskan operasi pemadaman sebelum membuka kronologi secara lengkap.

Api di TPA sering sulit dipadamkan karena sumber panas bisa berada di bawah permukaan timbunan. Air yang disemprotkan dapat memadamkan nyala, tetapi bara di lapisan dalam bisa bertahan dan memicu kebakaran ulang.

Dalam banyak kasus, tumpukan sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana yang mudah menyala. Jika sistem ventilasi, pemadatan, dan penutupan harian tidak disiplin, risiko kebakaran meningkat, terutama saat suhu tinggi dan kelembapan rendah.

Dampak paling cepat terasa adalah polusi udara dari asap pembakaran campuran plastik, kertas, dan residu rumah tangga. Asap seperti ini berpotensi mengandung partikel halus dan senyawa berbahaya, sehingga warga sekitar dapat mengalami iritasi pernapasan hingga gangguan kesehatan yang lebih serius.

Empat unit mobil damkar dan 16 personel menunjukkan respons awal, tetapi juga mengisyaratkan keterbatasan jika kebakaran meluas. Operasi di TPA sering memerlukan dukungan alat berat untuk mengurai timbunan, membuat sekat, dan menutup area yang masih panas.

Di sisi kebijakan, kebakaran TPA adalah gejala dari sistem yang bertumpu pada pembuangan, bukan pengurangan dari sumber. Ketika volume sampah kota terus mengalir ke satu lokasi, setiap gangguan di TPA berubah menjadi krisis layanan publik.

Publik juga berhak menuntut transparansi pascakejadian, mulai dari titik awal api, prosedur keselamatan, hingga evaluasi standar operasional. Tanpa audit yang jelas, kebakaran TPA akan berulang sebagai “musibah rutin” yang dianggap normal.

Kebakaran TPA Cipayung Depok seharusnya dibaca sebagai peringatan keras, bukan sekadar berita malam. Kota yang modern tidak boleh menggantungkan nasibnya pada satu gunung sampah yang sewaktu-waktu bisa terbakar.

Fokus pemadaman memang prioritas, tetapi narasi setelah api padam jauh lebih penting. Pemerintah daerah perlu menjawab pertanyaan publik tentang mitigasi metana, pengelolaan zona rawan, dan rencana darurat bila pemadaman berhari-hari.

Masalah sampah juga tidak bisa terus dibebankan pada damkar sebagai pemadam gejala. Akar persoalan ada pada pemilahan yang lemah, ketergantungan pada landfill, dan minimnya infrastruktur pengolahan yang konsisten berjalan.

Warga pun punya peran, tetapi peran itu harus difasilitasi dengan sistem yang masuk akal. Tanpa layanan pemilahan, insentif pengurangan, dan pengawasan pembuangan liar, ajakan “sadar sampah” hanya menjadi slogan.

Yang paling mengkhawatirkan adalah normalisasi risiko terhadap kesehatan masyarakat. Jika asap TPA dianggap biasa, maka standar keselamatan kota sedang turun, dan korban pertama biasanya kelompok rentan di sekitar lokasi.

Kebakaran TPA Cipayung Depok menegaskan bahwa krisis sampah adalah krisis tata kelola, kesehatan, dan kepercayaan publik. Api mungkin padam dengan selang dan tangki air, tetapi sumber masalahnya hanya padam bila kota serius mengurangi sampah dari hulu.

Setelah kejadian ini, pertanyaannya sederhana namun menentukan arah kebijakan: apakah Depok akan terus menunggu kebakaran berikutnya, atau membangun sistem yang membuat TPA tidak lagi menjadi bom waktu. Jawabannya akan terlihat dari transparansi investigasi, perbaikan operasional, dan keberanian mengubah cara kota memperlakukan sampah.

(Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)