Buy Now Pay Later untuk Groceries: Alarm Utang Baru

ORBITINDONESIA.COM – Buy now pay later (BNPL) kian sering dipakai untuk kebutuhan harian, bahkan groceries, saat harga tinggi menekan dompet keluarga. Data LendingTree menunjukkan hampir 1 dari 3 pengguna BNPL memakainya untuk belanja bahan makanan, dan 47% mengaku pernah telat bayar dalam setahun terakhir.

BNPL tumbuh karena menawarkan cicilan kecil yang terasa ringan, cepat, dan nyaris tanpa rasa “berutang.” Skema ini membuat belanja tampak terkendali, padahal kewajiban menumpuk diam-diam di balik beberapa aplikasi.

Ketika BNPL dipakai untuk barang besar, risikonya lebih mudah dipetakan karena sifatnya insidental. Namun saat dipakai untuk kebutuhan pokok seperti groceries, sinyalnya berubah menjadi pertanda rapuhnya arus kas rumah tangga.

Dalam laporan yang dikutip, LendingTree mencatat pergeseran fungsi BNPL dari “alat fleksibilitas” menjadi “alat bertahan hidup.” Pergeseran ini terjadi di tengah biaya hidup yang terus menekan, sehingga banyak orang menambal kekurangan sebelum gajian.

Angka “hampir 1 dari 3” pengguna BNPL untuk groceries bukan sekadar statistik, melainkan indikator daya beli yang melemah. Jika makanan saja dicicil, maka ruang aman finansial sudah menipis dan tabungan darurat sering kali tidak ada.

Lebih keras lagi, 47% pengguna BNPL mengaku pernah telat bayar dalam setahun terakhir, menurut LendingTree. Keterlambatan ini mengubah BNPL dari “tanpa bunga” menjadi biaya tambahan, karena denda dan penalti bisa menggerus anggaran berikutnya.

Thomas Nitzsche dari Money Management International menyebut masalah terbesar BNPL adalah mudahnya orang kehilangan jejak kewajiban. Ia menilai banyak orang meremehkan cara cicilan bertumpuk, karena pembayaran tersebar di berbagai platform dan tanggal jatuh tempo.

Nitzsche juga menyorot pola psikologisnya: BNPL dipakai sebagai “perpanjangan pendapatan.” Saat cicilan dianggap bagian dari gaji, orang cenderung membuka rencana cicilan baru untuk menutup kebutuhan lama, lalu terjebak putaran yang makin rapat.

Struktur BNPL memang punya “pagar pengaman” karena memaksa pelunasan lebih cepat dibanding kartu kredit. Namun pagar itu tidak banyak membantu jika sumber masalahnya adalah defisit bulanan, bukan sekadar manajemen pembayaran.

Kisah Ky Lewandowski menunjukkan BNPL bisa berguna untuk biaya mendadak, seperti tagihan dokter hewan. Tetapi Lewandowski juga mengakui alat ini tidak selalu cocok, sehingga frekuensi dan konteks pemakaian menjadi penentu utama.

Perubahan perilaku Lewandowski terjadi setelah mengikuti konseling utang di Money Management International. Ia menyebut saldo awal utangnya sekitar 25.000 dolar AS dan turun menjadi kurang dari 9.000 dolar AS, sebuah lompatan yang mengubah cara pandangnya tentang belanja.

Di titik ini, BNPL tampak seperti pisau bermata dua: membantu saat darurat, tetapi berbahaya saat menjadi rutinitas. Ketika cicilan menjadi kebiasaan, “kemudahan” berubah menjadi sistem yang memanen kelengahan.

Para ahli menyarankan langkah teknis yang sederhana namun jarang dilakukan konsisten. Catat semua cicilan, aktifkan pengingat, dan lihat biaya penuh, bukan hanya angka kecil per periode.

Mereka juga menekankan tanda bahaya yang mudah dikenali. Di antaranya memakai BNPL untuk necessities, meminjam sebelum payday, lupa jatuh tempo, telat bayar, dan membuka banyak cicilan sekaligus.

Ledakan BNPL bukan semata tren fintech, melainkan cermin ekonomi rumah tangga yang makin rapuh. Saat kebutuhan pokok dicicil, problemnya bukan gaya hidup, melainkan ketidakcocokan antara pendapatan dan biaya hidup.

BNPL menjual ilusi keterjangkauan lewat pecahan pembayaran, dan ilusi ini bekerja karena manusia menilai “yang dekat” lebih penting daripada “total.” Akibatnya, keputusan belanja bergeser dari pertanyaan “mampu atau tidak” menjadi “cicilannya berapa.”

Di sisi lain, menyalahkan konsumen saja juga tidak adil, karena tekanan harga dan stagnasi pendapatan adalah konteks yang nyata. Namun, normalisasi BNPL untuk groceries berisiko membuat masyarakat menerima defisit sebagai hal wajar, bukan masalah yang harus diselesaikan.

Di sinilah literasi keuangan perlu naik kelas dari sekadar tips hemat menjadi disiplin arus kas. “Budget” yang sering terdengar menakutkan, seperti kata Nitzsche, bisa diganti menjadi “spending plan” yang lebih manusiawi dan operasional.

Yang lebih penting, stigma harus dipatahkan karena rasa malu adalah pengunci krisis. Jika konseling nonprofit tersedia tanpa biaya dan bersifat rahasia, menunda bantuan hanya memperpanjang bunga sosial berupa stres, konflik keluarga, dan keputusan finansial yang makin buruk.

Menariknya, Nitzsche bahkan menyebut komunitas anonim dan alat AI sebagai pintu masuk yang rendah tekanan. Ini menandai perubahan zaman: bantuan tidak selalu dimulai dari ruang konselor, tetapi bisa dari percakapan pertama yang jujur tentang angka.

BNPL bisa menjadi jembatan, tetapi jembatan yang dipakai setiap hari menandakan rumah sudah kebanjiran. Jika groceries harus dicicil, langkah paling rasional bukan mencari limit baru, melainkan memeriksa ulang arus uang masuk dan uang keluar.

Mulailah dari daftar kewajiban, otomatisasi pembayaran, dan komunikasi dengan kreditur sebelum terlambat. Jika beban sudah terlalu berat, konseling nonprofit dapat menjadi jalan keluar yang konkret, bukan sekadar motivasi.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bukan “apakah BNPL buruk,” melainkan “mengapa kebutuhan paling dasar kini harus ditunda bayarnya.” Jika jawabannya adalah ketidakcukupan pendapatan, maka krisisnya bukan di aplikasi, tetapi pada fondasi ekonomi yang kita anggap normal. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)