PSN 3M Plus dan Sanitasi Lingkungan: Jumantik Muda Cegah DBD
ORBITINDONESIA.COM – PSN 3M Plus dan sanitasi lingkungan kembali jadi kata kunci pencegahan DBD ketika mahasiswa KKN PK Universitas Hasanuddin mengedukasi siswa SMAN 5 Sidenreng Rappang di Sidrap. Mereka tidak sekadar memberi materi, tetapi mendorong lahirnya “Jumantik Muda” yang memeriksa jentik dan mengubah kebiasaan di rumah.
Demam berdarah dengue (DBD) berulang muncul sebagai siklus tahunan di banyak daerah, terutama saat curah hujan memanjangkan usia genangan air. Dalam situasi seperti itu, sanitasi lingkungan sering dipahami sebagai urusan “kebersihan”, padahal ia adalah benteng kesehatan publik.
Di Sidrap, kegiatan edukasi di SMAN 5 Sidenreng Rappang pada Kamis (23/7/2026) menunjukkan satu hal penting: sekolah adalah ruang strategis untuk membangun disiplin pencegahan. Lingkungan sekolah yang rindang, seperti diakui kepala sekolah, dapat menyimpan banyak titik risiko kontainer air dan tempat lembap.
Program bertajuk “Jumantik Muda: Edukasi Sanitasi Lingkungan terkait PSN 3M Plus pada Siswa SMA” dipimpin Poppy Evelyne Asik Sombo dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas. Targetnya jelas, yakni menaikkan literasi siswa soal Aedes aegypti dan memindahkan pengetahuan itu menjadi tindakan.
DBD bukan sekadar masalah nyamuk, melainkan masalah tata kelola lingkungan mikro di rumah dan sekolah. Aedes mudah berkembang biak di kontainer kecil yang luput dari perhatian, dari bak penampung air hingga wadah tak terpakai.
Di titik inilah PSN 3M Plus menjadi formula yang terus diulang karena sederhana dan dapat dikerjakan semua orang. Menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali barang bekas bekerja efektif bila dilakukan rutin, lalu diperkuat “Plus” seperti mencegah gigitan dan membersihkan titik rawan.
Edukasi yang disampaikan Poppy menekankan karakteristik Aedes dan ragam kontainer yang berpotensi menjadi sarang jentik. Pendekatan ini penting karena banyak orang hanya mengaitkan nyamuk dengan genangan besar, padahal “air bersih yang diam” justru favorit Aedes.
Metode interaktif melalui diskusi dan tanya jawab membuat siswa tidak sekadar menghafal istilah. Mereka diajak melakukan pemeriksaan sederhana sebagai Jumantik Muda, sehingga konsep sanitasi berubah menjadi pengalaman yang bisa diulang.
Model “anak sekolah sebagai pemantau” juga menutup celah klasik program kesehatan, yaitu putusnya pesan di level rumah tangga. Siswa diminta memeriksa wadah di rumah dan mengajak keluarga menerapkan PSN 3M Plus, sehingga sekolah menjadi pusat distribusi perilaku sehat.
Secara kebijakan, langkah ini sejalan dengan pendekatan promotif-preventif yang selama ini didorong sektor kesehatan. Kementerian Kesehatan RI secara konsisten menekankan PSN 3M Plus sebagai strategi utama pengendalian vektor, karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyentuh jentik.
Kutipan siswa bernama Kahfi memperlihatkan perubahan persepsi yang menjadi sasaran utama edukasi. “Sanitasi lingkungan sangat penting agar penyakit DBD tidak semakin merajalela serta nyamuk Aedes tidak terus berkembang biak,” ujarnya.
Yang patut dikritisi adalah kebiasaan publik yang menunggu “kejadian” baru bergerak. Banyak komunitas baru giat membersihkan lingkungan setelah ada kasus, lalu kembali longgar ketika situasi mereda.
Program Jumantik Muda sebenarnya menawarkan koreksi: pencegahan harus dijadikan rutinitas sosial, bukan respons darurat. Jika pemeriksaan jentik menjadi budaya, maka rantai penularan diputus sebelum masuk ke fase klinis.
Namun, edukasi sekali datang juga berisiko menjadi seremoni jika tidak ditopang sistem. Sekolah perlu membuat jadwal pemantauan, daftar titik rawan, dan mekanisme pelaporan sederhana yang melibatkan OSIS atau ekstrakurikuler.
Di sisi lain, keberanian mahasiswa KKN PK membawa isu sanitasi ke ruang kelas menunjukkan peran kampus sebagai penggerak perubahan lokal. KKN sering dipersepsikan sebagai program singkat, tetapi dampaknya bisa panjang bila meninggalkan perangkat kebiasaan yang mudah dilanjutkan.
Karena itu, dukungan kepala sekolah menjadi faktor penentu, bukan pelengkap. Ketika ia menyebut kerindangan sekolah sebagai potensi tempat jentik, ia sekaligus mengakui bahwa estetika lingkungan harus diimbangi dengan disiplin sanitasi.
Edukasi PSN 3M Plus dan sanitasi lingkungan di SMAN 5 Sidenreng Rappang memperlihatkan bahwa pencegahan DBD dapat dimulai dari tindakan kecil yang konsisten. Dari kelas, siswa bisa menjadi Jumantik Muda yang menyalakan perubahan di rumah.
Pertanyaannya kini sederhana tetapi menantang: setelah pelatihan selesai, apakah pemeriksaan jentik akan menjadi kebiasaan mingguan atau hanya ingatan sesaat. Jika masyarakat memilih yang pertama, maka sanitasi bukan lagi slogan, melainkan cara hidup yang menyelamatkan. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Agustus 2026)