Serangan Balasan Yaman ke Houthi, Bab al-Mandeb Jadi Taruhan
ORBITINDONESIA.COM – Serangan balasan Yaman terhadap Houthi kembali meledak, dengan Bab al-Mandeb sebagai target kunci yang diperebutkan. Ketua dewan kepresidenan Yaman Rashad al-Alimi menegaskan, “Kami telah menghabiskan semua peluang untuk deeskalasi dengan milisi Houthi.”
Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi meluncurkan serangan balasan pada Minggu untuk merebut kembali wilayah dari kelompok Houthi. Pernyataan itu disampaikan Rashad al-Alimi dalam pidato yang menandai eskalasi baru perang yang sudah berlarut.
Inti taruhannya adalah Selat Bab al-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Selat ini vital bagi perdagangan global dan ekspor minyak Saudi, sehingga kontrol wilayah pesisir di sekitarnya bernilai strategis.
Ketika Houthi menguasai wilayah di pesisir Laut Merah dekat selat, mereka memperoleh tuas tekanan yang besar. Tuas itu juga menguntungkan Iran yang mendukung Houthi, karena dapat menekan AS, sekutu Teluk, dan stabilitas ekonomi dunia.
Meski Arab Saudi meminta dukungan lebih keras, AS untuk saat ini tidak terlibat dalam pertempuran langsung melawan Houthi. Pejabat AS menyebut Washington memberi dukungan intelijen dan bantuan penargetan, bukan serangan “kinetik” langsung.
Serangan balasan ini disebut telah direncanakan berminggu-minggu oleh pemerintah Yaman yang diakui internasional dan Arab Saudi. Puluhan ribu pasukan darat loyalis pemerintah Yaman dilaporkan ikut serta, menandakan operasi ini bukan sekadar demonstrasi politik.
Militer Saudi terutama memberi perlindungan udara dan melakukan serangan udara ke target Houthi. Pola ini konsisten dengan kebutuhan Riyadh menekan risiko korban pasukan daratnya, sambil tetap mengunci keunggulan udara.
Sasaran operasional yang diumumkan adalah merebut kembali Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi selama beberapa tahun. Jika tujuan ini dikejar sekaligus dengan Bab al-Mandeb, operasi berpotensi melebar dan memanjangkan garis logistik.
Di sisi lain, Houthi tetap menembakkan rudal ke target Saudi sepanjang akhir pekan, termasuk fasilitas Aramco. Serangan terhadap infrastruktur energi bukan hanya taktik militer, tetapi juga pesan ekonomi yang dapat mengguncang persepsi pasar soal keamanan pasokan.
Dari perspektif geopolitik, Bab al-Mandeb adalah “chokepoint” yang dampaknya melampaui Yaman. Gangguan di titik ini bisa memaksa kapal mengambil rute lebih panjang dan mahal, sehingga biaya asuransi, logistik, dan harga komoditas ikut terdorong.
AS memilih berada di wilayah abu-abu: membantu lewat intelijen, tetapi menghindari keterlibatan tempur langsung. Seorang pejabat menyebut U.S. Central Command (CENTCOM) punya keberatan serius karena serangan di Yaman dianggap mengganggu fokus utama terhadap Iran.
Namun tekanan politik tidak hilang begitu saja. Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman, menurut seorang pejabat, menelpon Menhan AS Pete Hegseth pada Kamis untuk memaparkan rencana operasi dan kembali meminta serangan udara AS ke target Houthi.
Seorang pejabat AS kedua mengatakan AS “tidak akan mengambil tindakan kinetik untuk saat ini,” tetapi menegaskan itu bisa berubah bila operasi menemui masalah. Kalimat ini menyiratkan skenario eskalasi bertahap, ketika kegagalan di lapangan memaksa perubahan kalkulasi di Washington.
Perhatian juga tertuju pada pertemuan internal pemerintahan Trump di Camp David. Pada Jumat, para menteri kabinet utama Trump dilaporkan berkumpul berjam-jam membahas langkah berikutnya dalam perang Iran dan konflik di Yaman, menurut laporan Axios.
Serangan balasan Yaman terhadap Houthi tampak seperti upaya merebut kembali kedaulatan, tetapi juga cermin perang proksi yang lebih besar. Ketika Bab al-Mandeb dijadikan tujuan kunci, operasi ini bergerak dari logika domestik menuju logika keamanan global.
Trump berada dalam dilema klasik kebijakan luar negeri: setia pada sekutu dekat, namun alergi pada perang baru. Keinginan membantu Putra Mahkota Mohammed bin Salman berhadapan dengan risiko terseret ke front baru di Timur Tengah.
Kalkulasi AS yang menahan diri dari aksi kinetik menyiratkan pelajaran pahit dari intervensi masa lalu. Dukungan intelijen memberi pengaruh tanpa menanggung seluruh biaya politik, tetapi juga membiarkan sekutu memikul beban eskalasi di lapangan.
Bagi Saudi, Bab al-Mandeb dan Aramco adalah dua titik rapuh yang tak boleh dibiarkan menjadi alat tawar lawan. Tetapi semakin keras tekanan militer, semakin besar pula insentif Houthi untuk menargetkan simbol ekonomi, demi mengubah perang menjadi krisis biaya.
Yang paling rentan justru warga sipil Yaman, karena perebutan ibu kota dan pesisir berpotensi memicu gelombang pengungsian baru. Di titik ini, kemenangan tak lagi sekadar peta wilayah, melainkan kemampuan mencegah perang menelan generasi berikutnya.
Serangan balasan Yaman terhadap Houthi memperlihatkan bahwa Bab al-Mandeb bukan sekadar selat, melainkan tombol yang dapat memengaruhi perdagangan dan energi dunia. Ketika jalur sempit menjadi pusat perebutan, konflik lokal otomatis berubah menjadi urusan internasional.
Pertanyaannya kini bukan hanya siapa menguasai Sanaa atau pesisir Laut Merah, tetapi siapa yang mampu mengendalikan eskalasi. Jika semua pihak menganggap tekanan militer sebagai satu-satunya bahasa, maka dunia hanya menunggu kapan krisis berikutnya pecah di jalur dagang paling sensitif. (Orbit dari berbagai sumber, 6 Oktober 2026)