Hamas, Kushner, dan Roadmap Perdamaian Gaza Trump
ORBITINDONESIA.COM – Hamas menyatakan siap berkomitmen pada roadmap perdamaian Gaza versi Trump setelah bertemu Jared Kushner. Pernyataan itu menempatkan rencana Board of Peace (BoP) kembali di pusat tarik-menarik Hamas, Israel, dan Amerika Serikat.
Pertemuan Kushner dengan Hamas pada 16 Agustus menjadi sinyal bahwa Washington ingin menguji jalur negosiasi yang tidak hanya lewat Tel Aviv. Namun, rencana perdamaian Gaza Trump sejak awal membawa prasyarat yang sensitif, terutama soal senjata dan peran politik Hamas.
Di sisi lain, Israel di bawah Benjamin Netanyahu kerap menempatkan pelucutan senjata sebagai garis merah keamanan. Hamas justru menuntut AS menekan Netanyahu agar mematuhi peta jalan rekonstruksi dan perdamaian yang ditawarkan BoP.
Khalil Al Hayya menegaskan Hamas “menunggu tanggapan pemerintah AS terkait sikap Israel” terhadap kesepakatan roadmap, menurut AFP. Kalimat itu terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memindahkan beban pembuktian dari Gaza ke Washington.
Kushner, menurut sejumlah sumber, meminta Hamas membuktikan kesediaan melucuti senjata dan melepaskan peran dalam pemerintahan Palestina di masa depan. Dua syarat itu bukan sekadar teknis, karena menyentuh identitas Hamas sebagai gerakan perlawanan sekaligus aktor politik.
Di titik ini, roadmap BoP tampak seperti meja negosiasi yang kakinya belum seimbang. Israel ingin jaminan keamanan yang konkret, sementara Hamas ingin jaminan politik bahwa rekonstruksi tidak berubah menjadi penguncian permanen.
Kushner lalu menemui Netanyahu pada 17 Agustus untuk “memastikan agar Israel menyetujui roadmap BoP” sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia. Pertemuan tertutup yang dijadwalkan bersama Nickolay Mladenov menandakan ada upaya mengunci dukungan teknokratik dan diplomatik sekaligus.
Namun, diplomasi semacam ini sering tergelincir pada satu masalah klasik, yaitu urutan langkah. Jika pelucutan senjata diminta di awal, Hamas akan melihatnya sebagai menyerah tanpa garansi, sementara Israel menilai tanpa pelucutan senjata, semua janji rekonstruksi hanya jeda sebelum konflik berikutnya.
Karena itu, kata kunci “roadmap” menjadi penting, sebab ia menyiratkan tahapan, verifikasi, dan imbal-balik. Tetapi artikel ini tidak merinci mekanisme verifikasi, tenggat, atau insentif, sehingga publik hanya melihat headline tanpa mengetahui mesin perjanjiannya.
Pernyataan Hamas yang meminta AS menekan Netanyahu menunjukkan mereka membaca peta kekuasaan dengan realistis. Mereka tahu Israel lebih mungkin bergerak jika ada tekanan atau insentif dari Washington, bukan sekadar seruan moral dari komunitas internasional.
Namun, tuntutan Kushner agar Hamas menyingkir dari pemerintahan masa depan juga mengandung risiko politik yang besar. Jika Hamas dipaksa keluar tanpa jalur transisi yang kredibel, ruang kosong itu bisa diisi faksi yang lemah, atau lebih buruk, kekacauan administratif yang memicu kekerasan baru.
Di sisi Israel, Netanyahu menghadapi kalkulasi domestik yang membuat kompromi terlihat mahal. Setiap kelonggaran pada Gaza dapat dibaca sebagai kelemahan, terutama jika tidak dibarengi narasi kemenangan keamanan yang bisa dijual ke publiknya.
Karena itu, rencana perdamaian Gaza Trump melalui BoP tampak seperti uji coba dua hal sekaligus. Ia menguji apakah Hamas bisa “diubah” lewat paket rekonstruksi, dan menguji apakah Israel mau mengikat diri pada kerangka yang membatasi kebebasan militernya.
Pertemuan Kushner, Hamas, dan Netanyahu memperlihatkan bahwa perdamaian sering dipasarkan sebagai dokumen, padahal isinya adalah pertukaran rasa takut. Roadmap BoP akan dinilai bukan dari pernyataan komitmen, melainkan dari apakah ia mampu memaksa para pihak membayar harga kompromi secara bertahap.
Jika AS benar-benar menjadi penekan sekaligus penjamin, peluangnya terbuka, meski rapuh. Tetapi jika roadmap hanya menjadi panggung untuk memindahkan tanggung jawab, Gaza akan kembali menjadi tempat di mana kata “rekonstruksi” terdengar seperti jeda sebelum reruntuhan berikutnya.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana dan menohok, siapa yang diminta menyerah lebih dulu, dan siapa yang diminta percaya lebih dulu. Di situlah nasib perdamaian Gaza akan ditentukan, bukan di ruang pertemuan tertutup, melainkan di ujian realitas setelah kamera mati.
(Orbit dari berbagai sumber, 19 Agustus 2026)