Kabut Asap Karhutla Kalimantan 2026: El Nino Godzilla Mengunci Hidup
ORBITINDONESIA.COM – Kabut asap karhutla Kalimantan 2026 kembali menutup langit, saat fenomena El Nino Godzilla mengeringkan gambut dan mengubah pagi menjadi abu. Di Banjarbaru, Riri Jayanti memotret anaknya berangkat sekolah seperti “ditelan” asap, sementara PM2.5 sempat menembus 400 µg/m³ dan masuk kategori berbahaya.
Lonjakan titik api terjadi serentak di semua provinsi di Kalimantan pada 19 Agustus 2026, dari 882 menjadi 1.615 hotspot dalam sehari. Pulau itu tampak “merah” di pantauan satelit, tetapi warga merasakan dampaknya dalam bentuk sesak napas, jarak pandang turun, dan aktivitas yang dipaksa melambat.
Di Banjarbaru, hujan nyaris absen tiga bulan, dan kebijakan sekolah baru menyesuaikan jam masuk setelah asap menebal. Riri mengaku api tahun ini paling dekat ke permukiman, sementara kesiagaan warga terasa seperti rutinitas tahunan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Karhutla di lahan gambut tidak bekerja seperti kebakaran di tanah mineral, karena api dapat merambat di bawah permukaan dan muncul kembali setelah dipadamkan. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, menyebut pemadaman perlu “suntik gambut” dengan air bertekanan, di tengah semak tinggi, parit, dan minim sumber air.
El Nino Godzilla memperdalam krisis karena muka air gambut turun dari normal sekitar 40 cm menjadi sekitar 90 cm di bawah permukaan. Kondisi ini membuat gambut menjadi “bahan bakar” kering, sehingga sedikit pemicu dapat berubah menjadi kebakaran luas yang sulit diputus.
Dampak kesehatan bergerak cepat, dan datanya memberi peringatan yang keras. Dinas Kesehatan Banjarbaru mencatat kenaikan ISPA sejak pertengahan Juni, dari 829 kasus per pekan menjadi lebih dari 1.000, dengan total 23.646 kasus hingga pekan ke-32.
Korban ekonomi juga nyata dan terukur, bukan sekadar angka di laporan. Abdul Kholik menghitung 230 ayam mati dan kerugian sekitar Rp50 juta, sementara istrinya yang hamil tiga bulan mengalami sesak napas akibat paparan asap yang paling tebal saat subuh.
Di Pontianak, Kalimantan Barat, hotspot sempat melonjak dari 15 menjadi 259 dalam sehari, tetapi kabut asap tidak selalu setebal wilayah lain karena faktor angin, kelembapan, dan sebaran lokasi kebakaran. Namun AQI 146 tetap “tidak sehat”, dan pengemudi ojek online mengeluh mata perih serta napas berat saat jarak pandang turun sekitar 200 meter.
Di Palangka Raya, kabut asap masuk ke dalam rumah, dan batuk pada anak bisa bertahan hingga dua pekan. Pemerintah daerah merespons dengan penyesuaian jam sekolah dan pembelajaran daring untuk PAUD, tetapi kebijakan ini tetap bersifat adaptasi, bukan pemutus sebab.
Kabut asap karhutla Kalimantan 2026 memperlihatkan paradoks tata kelola, yaitu negara kuat saat respons, tetapi rapuh saat mitigasi. Guru Besar UGM Priyono Suryanto menyebut “gotong royong krisis” hanya hidup ketika api sudah menyala, lalu melemah ketika musim hujan datang dan perhatian publik berpindah.
Walhi menambah lapisan kritik yang lebih tajam, karena 74% hotspot Januari–Juli 2026 disebut berada di dalam konsesi perusahaan. Jika temuan ini akurat, maka bencana berulang bukan sekadar kemarau panjang, melainkan juga kegagalan pengawasan dan insentif ekonomi yang membiarkan api menjadi alat murah pembukaan lahan.
Di titik ini, narasi “kearifan lokal” sering dipakai sebagai kambing hitam yang nyaman. Ketua Umum Dewan Adat Dayak Kaltim, Viktor Yuan, menegaskan praktik bakar masyarakat adat dilakukan dengan pengetahuan arah angin dan pembersihan batas, sedangkan pembakar tanpa pengetahuan sering mengejar biaya operasional rendah lalu “cuci tangan” ketika api menjalar.
Pernyataan DPR tentang dugaan pembiaran aparat menambah pertanyaan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan operasi pemadaman. Ketika hukum terlihat selektif, warga seperti Dony Restu akan terus bertanya mengapa pemerintah menunggu kebakaran dulu, baru semua pihak sibuk, sementara kabut asap menjadi warisan tahunan yang terasa normal.
Karhutla dan kabut asap di Kalimantan bukan hanya krisis udara, tetapi krisis keadilan, karena yang paling rentan adalah anak, ibu hamil, dan lansia yang tidak punya pilihan selain menghirup. Negara boleh mengerahkan 12.880 personel gabungan, tetapi tanpa mitigasi permanen di gambut dan disiplin konsesi, api akan selalu menemukan jalannya kembali.
Pertanyaannya sederhana, tetapi menuntut keberanian politik: apakah kita ingin terus hidup dengan kalender bencana yang sama, atau membangun sistem pencegahan yang membuat kabut asap benar-benar menjadi pengecualian. Jika asap adalah tanda kegagalan berulang, maka satu-satunya kemajuan adalah ketika warga tidak lagi harus “terbiasa” pada udara yang merusak tubuhnya sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)