Galaxy Watch Ultra 2 dan Watch 9: Baterai Besar, AI Kesehatan
ORBITINDONESIA.COM – Galaxy Watch Ultra 2 dan Galaxy Watch 9 resmi meluncur di Indonesia dengan janji baterai lebih besar, bodi lebih ringan, dan pemantauan kesehatan berbasis AI. Di tengah pasar smartwatch yang kian sesak, Samsung menaruh taruhan pada performa chipset baru dan akurasi GPS untuk merebut pengguna aktif luar ruang.
Smartwatch kini tidak lagi sekadar aksesori, melainkan alat ukur kebugaran yang ikut menentukan gaya hidup. Karena itu, peningkatan kecil seperti ketebalan, daya tahan baterai, dan akurasi pelacakan bisa menjadi pembeda besar di mata pengguna.
Samsung membaca kebutuhan itu dengan menyegarkan lini jam tangan pintarnya. Peluncuran Galaxy Watch Ultra 2 dan Galaxy Watch 9 menegaskan bahwa persaingan bergeser dari “fitur banyak” menjadi “fitur yang benar-benar dipakai.”
Head of MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, Ilham Indrawan, menekankan perubahan fisik yang terasa pada pemakaian harian. Ia menyebut Galaxy Watch Ultra 2 “12 persen lebih tipis” dan “kapasitas baterainya… sampai dengan 35 persen lebih besar” dibanding generasi sebelumnya.
Kombinasi lebih tipis dan baterai lebih besar adalah narasi yang terdengar sederhana, tetapi sulit dieksekusi. Ini memberi sinyal bahwa Samsung mengutamakan efisiensi desain, bukan sekadar menambah fitur yang membebani daya.
Langkah paling strategis ada pada dapur pacu, karena Samsung untuk pertama kalinya menyematkan Snapdragon Wear Elite pada Galaxy Watch Ultra 2 dan Galaxy Watch 9. Ilham mengatakan chipset itu meningkatkan respons perangkat sekaligus akurasi GPS, terutama untuk aktivitas luar ruang seperti trail running.
Di segmen pengguna outdoor, GPS bukan fitur pelengkap, melainkan fondasi kepercayaan. Ketika rute meleset beberapa meter saja, catatan pace, elevasi, dan estimasi kalori ikut menjadi kurang bermakna.
Samsung juga menambahkan dukungan unggah berkas GPX agar jam tangan tetap menampilkan rute dan informasi elevasi saat sinyal seluler terbatas. Ini menyasar kebutuhan nyata pelari lintas alam dan pendaki yang sering berada di area “blank spot.”
Namun, janji pemantauan kesehatan berbasis AI menuntut pembuktian yang lebih dari sekadar label. Publik akan bertanya apakah AI itu memberi wawasan yang bisa ditindaklanjuti, atau hanya merangkum data yang sebenarnya sudah ada sejak generasi sebelumnya.
Peluncuran Galaxy Watch Ultra 2 dan Galaxy Watch 9 menunjukkan Samsung makin serius memosisikan smartwatch sebagai perangkat “utility,” bukan “vanity.” Ketika desain lebih tipis dan baterai membesar, pesan yang muncul adalah: perangkat ini harus kuat dipakai, bukan hanya bagus difoto.
Meski begitu, ada risiko umum di industri wearable, yaitu kesehatan dijadikan jargon pemasaran. Tanpa transparansi metode pengukuran, batas akurasi, dan konteks medis, fitur AI kesehatan mudah berubah menjadi ilusi presisi.
Keputusan menonjolkan GPS dan GPX terasa lebih jujur karena manfaatnya langsung terlihat di lapangan. Jika rute stabil dan elevasi terbaca konsisten, pengguna merasakan dampaknya dalam satu sesi olahraga.
Yang patut dicermati adalah bagaimana Samsung menyeimbangkan performa dengan daya tahan aktual, karena klaim baterai sering berbeda dari realita pemakaian. Pengguna akan menguji perangkat ini pada skenario berat: GPS menyala, layar aktif, notifikasi ramai, dan pelacakan kesehatan berjalan bersamaan.
Galaxy Watch Ultra 2 dan Galaxy Watch 9 datang dengan paket peningkatan yang relevan: lebih tipis, baterai lebih besar, chipset baru, serta fokus pada GPS dan rute offline. Ini adalah jawaban atas kebutuhan pengguna yang lelah mengecas dan lelah melihat data olahraga yang tidak akurat.
Tetapi pertanyaan terpenting tetap sama: apakah AI kesehatan benar-benar membantu orang mengambil keputusan yang lebih sehat, atau hanya membuat mereka lebih sering menatap angka. Pada akhirnya, teknologi wearable terbaik adalah yang membuat kita lebih sadar tubuh, tanpa membuat kita diperbudak metrik.
(Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)