Denny JA: Guruh Soekarnoputra dan Warna Indonesia di Dunia Seni

Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, 1953–2026.

Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, 1953–2026.

Opini

GURUH SOEKARNOPUTRA DAN WARNA INDONESIA DI DUNIA SENI

- In Memoriam Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, 1953–2026

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Pagi ini Jakarta masih gelap ketika ia pergi. Seorang seniman yang namanya sendiri terdengar seperti bunyi langit menjelang hujan: Guruh.

Pukul 04.16 WIB, di Rumah Sakit MRCCC Siloam Semanggi, napasnya berhenti. Kota belum sepenuhnya terjaga. Tetapi sebuah zaman kebudayaan Indonesia seperti ikut menutup mata.

Ada kematian yang hanya menghentikan tubuh. Ada pula kematian yang membuat kita tiba-tiba mendengar kembali lagu lama, lalu menyadari sebagian hidup kita tersimpan di sana.

Guruh termasuk yang kedua. Sebab karya memiliki jam biologis yang berbeda dari manusia. Penciptanya berhenti bernapas. Melodi yang ditinggalkannya justru memulai kehidupan berikutnya.

Karena itu, mengenang Guruh bukan terutama mengenang putra Bung Karno. Kita mengenang seorang Indonesia yang sepanjang hidupnya menjawab satu kegelisahan besar.

Bagaimana menjadi modern tanpa kehilangan Indonesia?

-000-

Pada 1980-an, sebagai aktivis mahasiswa yang membaca Bung Karno, saya beberapa kali menonton Swara Maharddhika. Ada sesuatu yang terasa baru ketika itu.

Nasionalisme yang biasanya hadir dalam pidato, buku sejarah, dan demonstrasi, mendadak menjelma cahaya, musik, kostum, tubuh, dan koreografi.

Saya masih mengingat keterkejutan itu. Anak-anak muda bertepuk tangan untuk tari tradisi dengan kegairahan yang biasanya diberikan kepada konser musik modern.

Guruh seperti menyampaikan manifesto tanpa berkhotbah: mencintai Indonesia tidak berarti memuseumkan Indonesia.

Tradisi bukan benda tua di balik kaca. Ia adalah api. Setiap generasi harus memberinya udara baru agar terus menyala.

Bertahun-tahun kemudian, saya berkesempatan bercakap langsung dengannya. Guruh bercerita tentang filosofi di balik keseniannya: warisan budaya Indonesia harus terus dihidupkan, tetapi dengan aura modern.

Kita tidak perlu memilih antara menjadi Indonesia dan menjadi modern. Keduanya justru dapat saling memperkaya.

Saya menangkap satu keyakinan dalam dirinya: akar diperlukan bukan agar pohon terpenjara di masa lalu, melainkan agar ia cukup kokoh untuk tumbuh tinggi menuju masa depan.

Itulah Guruh.

Ia mengambil bunyi, gerak, busana, dan imajinasi Nusantara, lalu memberinya bahasa baru. Di tangannya, tradisi tidak menjadi renta. Tradisi menjadi muda kembali.

Ketika berjumpa lagi dengannya pada 2007, Guruh menyalami saya erat sekali.

Saat itu, saya bersama istri, Mulia Jayaputri, juga sedang menempuh jalan serupa dalam dunia berbeda. Kami membangun Bunga Rampai, menghadirkan kuliner Indonesia dengan suasana dan kualitas berkelas internasional.

Saya masih mengingat genggaman tangan Guruh, memberi semangat. Kini, setelah ia tiada, salam itu memperoleh makna yang berbeda.

Dulu saya menyaksikannya membawa kebudayaan Indonesia ke panggung modern. Bertahun kemudian, saya mencoba membawa semangat serupa ke meja makan.

Dari Guruh saya semakin memahami satu hal: mencintai tradisi bukan berarti berjalan mundur menuju masa silam.

Mencintai tradisi adalah memberinya masa depan.

Guruh tidak mengajak Indonesia pulang ke masa lalu. Ia mengajak masa lalu Indonesia berjalan bersama kita menuju hari esok.

-000-

Anak Istana yang Memilih Panggung

Guruh lahir di Jakarta, 13 Januari 1953, sebagai anak bungsu Soekarno dan Fatmawati. Darah kesenian tampak sangat dini dalam perjalanan hidupnya.

Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat, sejak sekitar usia lima tahun ia sudah mempelajari tari Jawa, Sunda, dan Bali, belajar piano, bahkan membentuk kelompok musik anak-anak.

Bayangkan paradoks kecil itu. Seorang anak lahir begitu dekat dengan pusat kekuasaan, tetapi dunia yang pertama memanggilnya justru gerak, bunyi, warna, dan panggung.

Kemudian sejarah berubah. Kekuasaan ayahnya runtuh. Istana yang pernah menjadi rumah keluarga berubah menjadi bagian masa lalu yang penuh luka politik.

Pada awal 1970-an, Guruh belajar arkeologi di Universiteit van Amsterdam selama sekitar tiga tahun.

Ada simbolisme indah di sana. Seorang anak Indonesia pergi ke Eropa mempelajari masa silam, lalu kembali untuk membuat warisan masa silam berdansa bersama masa depan.

Tradisi, di tangannya, bukan jenazah kebudayaan. Ia adalah akar: tak terlihat dari kejauhan, tetapi menentukan seberapa tinggi pohon dapat bertumbuh.

-000-

Lalu Meledaklah Guruh Gipsy

Pertengahan 1970-an melahirkan salah satu eksperimen penting dalam musik Indonesia. Guruh berkolaborasi dengan Gipsy, kelompok yang di antaranya beranggotakan Chrisye dan Keenan Nasution.

Album Guruh Gipsy, yang dirilis pada 1977 setelah proses rekaman panjang, mempertemukan rock progresif dengan berbagai idiom musik tradisional, terutama gamelan Bali.

Lagu pembukanya, Indonesia Maharddhika, berdurasi hampir 16 menit. Pada 2009, Rolling Stone Indonesia memasukkannya ke dalam daftar 150 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa.

Yang penting bukan sekadar hadirnya gamelan. Siapa pun dapat menempelkan instrumen tradisional pada musik modern, lalu menyebut hasilnya perpaduan Timur dan Barat.

Guruh melakukan sesuatu yang lebih dalam. Dua dunia estetika dibuat berbicara sebagai pihak yang setara. Tradisi tidak ditempatkan sebagai ornamen eksotis bagi modernitas.

Pada masa ketika modernisasi sering diam-diam disamakan dengan westernisasi, eksperimen itu membawa pernyataan kebudayaan yang kuat: Indonesia tidak perlu menjadi tiruan.

Kita dapat menjadi modern justru dengan menggali semakin dalam siapa diri kita. Modernitas terbaik bukan penghapusan memori, melainkan keberanian mengolahnya kembali.

-000-

Swara Maharddhika: Indonesia Naik ke Panggung

Pada Minggu, 27 Maret 1977, lahirlah Swara Maharddhika, organisasi kesenian anak muda yang kemudian menjadi laboratorium besar bagi eksperimen artistik Guruh.

Di sana tari tradisional bertemu gerak modern. Musik daerah berjumpa tata suara kontemporer. Warna Nusantara memasuki pertunjukan yang gemerlap, teatrikal, dan kosmopolitan.

Puluhan anak muda belajar sesuatu yang penting: mencintai Indonesia tidak harus dilakukan dengan wajah muram. Nasionalisme juga boleh hadir sebagai kegembiraan dan keindahan.

Lingkungan itu ikut membentuk nama-nama seperti Denny Malik, Titi DJ, Memes, Marissa Haque, dan Soraya Haque.

Pergelaran Karya Cipta Guruh 1979 menjadi salah satu tonggaknya. Arsip Nasional menggambarkannya sebagai pertunjukan yang mengolah unsur tradisional menjadi kreasi yang lebih populer.

Di tangan Guruh, panggung berubah menjadi republik kecil. Bali bertemu Jakarta. Gamelan bertemu synthesizer. Masa lampau bertemu masa depan tanpa saling meniadakan.

Di sanalah salah satu kekuatan Guruh. Identitas tidak dipertahankan dengan menguncinya. Identitas justru bertahan ketika memiliki keberanian untuk berubah.

-000-

Lagu yang Diam-Diam Menjadi Ingatan

Lalu datang lagu-lagu itu. Kala Sang Surya Tenggelam. Zamrud Khatulistiwa. Melati Suci. Kembalikan Baliku. Renjana. Judul-judul yang akhirnya menjadi bagian dari ingatan kolektif.

Ada lagu yang memenangkan festival lalu menghilang. Ada pula lagu yang tahun kelahirannya kita lupakan, tetapi diam-diam menetap puluhan tahun di kepala.

Lagu-lagu Guruh termasuk jenis kedua. Renjana meraih penghargaan di Festival Lagu Populer Tingkat Nasional 1976. Pada 1987, Kembalikan Baliku, dibawakan Yopie Latul, meraih Kawakami Award dan Audience Selections Award di World Popular Song Festival, Tokyo.

Tetapi piala bukan ukuran terdalam seorang pencipta. Ukurannya adalah kemampuan karya menyeberangi generasi tanpa meminta paspor dari zaman yang melahirkannya.

Itulah yang terjadi ketika Kala Sang Surya Tenggelam kembali terdengar lewat suara Nadin Amizah dalam serial Gadis Kretek pada 2023, 45 tahun setelah Chrisye memperkenalkannya dalam album Sabda Alam.

Generasi baru mendengarnya tanpa beban nostalgia. Lagu itu lahir kembali.

Karya besar memang mempunyai sifat ganjil: ia menua, tetapi tidak menjadi tua.

-000-

Ketika Seniman Memasuki Politik

Perjalanan Guruh kemudian bergerak semakin jauh ke dalam politik. Ia duduk di DPR pada 1992–1997, kemudian kembali sejak 1999 hingga 2024.

Ia berada di PDI, kemudian PDI Perjuangan. Dalam wawancara dengan The Jakarta Post pada 2010, Guruh memandang seni dan politik sebagai alat perjuangannya untuk membawa perubahan.

Di sinilah muncul pertanyaan yang sulit dihindari. Apakah politik akhirnya mengambil terlalu banyak waktu Guruh dari dunia kesenian?

Pertanyaan itu sah. Tetapi jawabannya tidak boleh disederhanakan. Korelasi waktu bukan bukti sebab-akibat. Kehidupan seorang seniman lebih rumit daripada kronologi.

Memang, ledakan kreativitas Guruh paling terlihat sejak 1970-an hingga dekade-dekade berikutnya. Musik, koreografi, pergelaran, bahkan film seperti Untukmu Indonesiaku! (1980) memenuhi ruang kebudayaan Indonesia.

Ketika keterlibatan politiknya semakin intensif, karya-karya barunya tidak lagi hadir di ruang publik dengan frekuensi dan daya ledak seperti masa sebelumnya.

Namun mengatakan politik “mematikan” kreativitasnya akan melampaui bukti. Pada 2024, Guruh masih bercerita bagaimana sebuah lagu dapat muncul spontan, bahkan selesai dalam hitungan menit.

Rumusan yang lebih adil barangkali ini: bukan berarti kreativitas Guruh telah padam. Yang berubah adalah intensitas kehadiran karya barunya di ruang publik Indonesia.

-000-

Ada yang dapat mengatakan bahwa kita terlalu romantis terhadap Guruh. Bukankah perpaduan tradisi dan modernitas bukan ciptaannya seorang diri?

Tentu benar. Kebudayaan Indonesia selalu merupakan perjumpaan. Keroncong, dangdut, batik pesisir, arsitektur, bahasa, bahkan kuliner kita lahir dari persilangan panjang berbagai dunia.

Kritik yang lebih tajam datang dari arah lain. Bukankah panggung gemerlap dapat mengubah tradisi menjadi tontonan eksotis, indah dipandang tetapi tercerabut dari makna ritualnya?

Kekhawatiran itu sah untuk setiap seni pertunjukan modern. Namun Guruh belajar kepada para maestro tari dan karawitan Bali dan Jawa. Ia memperlakukan tradisi sebagai tata bahasa, bukan sekadar hiasan.

Kebesaran seniman tidak selalu terletak pada menemukan gagasan yang belum pernah ada. Ia dapat terletak pada kekuatan perwujudannya.

Guruh memberi perjumpaan tradisi dan modernitas bentuk yang spektakuler bagi generasinya. Ia membuat tradisi bukan sekadar diwarisi, tetapi kembali diinginkan anak muda perkotaan.

Ia menjadikan Indonesia bukan objek nostalgia, melainkan bahan baku masa depan.

Museum menjaga benda. Seniman membuatnya hidup kembali.

-000-

Dua Buku untuk Memahami Guruh. Pertama, buku berjudul Beyond Exoticism: Western Music and the World. Penulisnya Timothy D. Taylor, Duke University Press, 2007.

Buku ini langsung membahas perjumpaan musik Barat dengan kebudayaan lain, termasuk persoalan eksotisme dan ketimpangan dalam kolaborasi.

Taylor menelusuri bagaimana musik Barat berjumpa dengan kebudayaan lain, dari kolonialisme hingga globalisasi. Pertemuan itu membawa kreativitas, tetapi juga ketimpangan: siapa mencipta, siapa menentukan nilai?

Ia menunjukkan bahwa bunyi dari luar Barat sering diperlakukan sebagai sesuatu yang eksotis. Bahkan kolaborasi modern dapat mengulang hubungan lama, ketika perbedaan budaya menjadi komoditas.

Buku ini mengajak kita mendengar lebih kritis: apakah perpaduan musikal memberi ruang kepada suara lain, atau hanya meminjam keindahannya untuk memperkaya panggung yang sudah berkuasa?

Dalam membaca Guruh, perspektif tersebut mempertajam pertanyaan tentang gamelan dan rock: apakah keduanya berdialog setara? Di situlah keberanian artistiknya perlu didengar, dipahami, dan dinilai kembali.

The Invention of Tradition, Eric Hobsbawm dan Terence Ranger, eds., Cambridge University Press, 1983.

Buku ini menunjukkan sesuatu yang mengejutkan: sebagian tradisi yang dianggap sangat tua ternyata dibentuk, dirumuskan kembali, bahkan diciptakan pada masa yang relatif modern.

Pesannya penting. Tradisi tidak selalu berupa benda beku yang diwariskan utuh dari leluhur. Setiap generasi menyeleksi, menafsirkan, dan terkadang menciptakan kembali bentuk tradisinya.

Dari sudut ini, eksperimen Guruh memperoleh makna lebih besar. Ia tidak mengkhianati tradisi ketika memodernkannya.

Ia melakukan pekerjaan yang selalu dilakukan kebudayaan yang hidup: berubah tanpa kehilangan ingatan.

-000-

Putra Bung Karno yang Menjadi Dirinya Sendiri

Menjadi anak manusia besar adalah anugerah sekaligus beban. Nama ayah dapat membuka banyak pintu, tetapi juga menciptakan bayangan yang panjang sekali.

Bagaimana seorang anak memperoleh namanya sendiri ketika ayahnya sudah menjadi nama sebuah zaman?

Pertanyaan itu barangkali mengikuti semua anak tokoh sejarah.

Guruh menemukan jawabannya secara artistik. Ia tidak berusaha menjadi Soekarno kedua. Ia menerjemahkan nasionalisme ayahnya ke dalam bahasa yang sepenuhnya berbeda.

Jika Soekarno menggerakkan nasionalisme melalui pidato, arsitektur, politik massa, dan simbol negara, Guruh menggerakkannya melalui melodi, kostum, koreografi, dan cahaya panggung.

Ayahnya membuat Indonesia berdiri. Anaknya membantu Indonesia menari.

Di sanalah kemerdekaan pribadi Guruh terasa paling indah. Ia lahir membawa nama Soekarnoputra, tetapi karya memberinya hak untuk dikenang cukup dengan satu nama.

Guruh.

-000-

Kala Sang Surya Tenggelam

Ada sesuatu yang hampir profetik pada judul salah satu lagunya yang paling indah: Kala Sang Surya Tenggelam. Hari ini metafora itu memperoleh makna baru.

Sang surya akhirnya tenggelam. Namun matahari memiliki paradoks yang juga dimiliki seniman besar: sesudah cakramnya hilang, cahayanya masih tinggal di langit.

Begitulah karya. Tubuh tunduk kepada waktu. Karya dapat menolak penyerahan itu, bukan dengan mengalahkan kematian, melainkan dengan terus dilahirkan kembali.

Besok seseorang akan memainkan Zamrud Khatulistiwa. Di tempat lain, seorang remaja menemukan Guruh Gipsy dan terkejut bahwa eksperimen seberani itu dibuat hampir setengah abad silam.

Seorang penari yang tak pernah bertemu Guruh mungkin bergerak dengan sebagian tata bahasa artistik yang diwariskan generasi Swara Maharddhika kepada panggung Indonesia.

Itulah keabadian kecil yang diberikan kebudayaan kepada manusia.

Kita hanya dapat menjalani satu kehidupan. Karya memungkinkan sebagian kehidupan itu berulang.

-000-

Pagi ini Guruh pergi. Jakarta masih gelap ketika ia mengembuskan napas terakhir. Namun sesungguhnya ia telah lama menitipkan sebagian dirinya kepada Indonesia.

Ia menitipkannya kepada gamelan yang dipertemukan dengan rock, kepada anak muda yang diajak menari, dan kepada panggung yang membuat tradisi kembali memesona.

Warisan itu membawa pesan yang semakin penting ketika globalisasi menyeragamkan selera: untuk menjadi warga masa depan, kita tidak perlu menghapus alamat kebudayaan sendiri.

Mungkin itulah yang dahulu saya rasakan ketika menyaksikan Swara Maharddhika pada 1980-an.

Indonesia tidak sedang mengenang masa lalu.

Indonesia sedang membayangkan dirinya sendiri.

Kini penciptanya telah pergi. Musik tinggal. Tarian tinggal. Gagasannya tinggal. Dan pertanyaan yang ia jawab sepanjang hidup tetap menjadi pertanyaan kita.

Bagaimana Indonesia memasuki dunia yang semakin modern tanpa menjadi orang asing di rumah kebudayaannya sendiri?

Jawaban Guruh tidak ditulis sebagai teori. Ia menjawabnya dengan gamelan dan rock, tubuh penari dan kostum, cahaya panggung dan lagu yang melampaui zamannya.

Tubuh Guruh telah berhenti. Tetapi bumi kebudayaan yang pernah digetarkannya tak pernah kembali sepenuhnya sama.

Sang surya boleh tenggelam.

Namun cahaya yang pernah mengajarkan sebuah bangsa mengenali keindahan dirinya sendiri tidak ikut malam bersamanya.*

Jakarta, 26 September 2026

REFERENSI

Timothy D. Taylor. Beyond Exoticism: Western Music and the World. Duke University Press, 2007.

Eric Hobsbawm dan Terence Ranger, eds. The Invention of Tradition. Cambridge University Press, 1983.

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA's World.

https://www.facebook.com/share/1DTh41FnwD/?mibextid=wwXIfr ***