Tokenisasi Stablecoin: BlackRock dan State Street Rebut Dana Onchain

ORBITINDONESIA.COM – Tokenisasi stablecoin kini jadi pintu baru Wall Street untuk mengejar uang besar yang memilih parkir dana di stablecoin, bukan di rekening bank atau reksa dana konvensional. BlackRock dan State Street membaca arah angin yang sama: investor institusional ingin likuiditas cepat, akses 24/7, dan hasil yang tetap “terlihat aman” lewat instrumen Treasury.

Stablecoin awalnya dipandang sebagai “jembatan” keluar-masuk kripto, tetapi perlahan berubah menjadi tempat parkir kas yang serius. Ketika arus kas besar menetap di stablecoin, industri manajer aset melihat risiko ditinggal dan peluang untuk menarik dana itu kembali ke produk mereka.

Di sinilah tokenisasi masuk sebagai bahasa baru bagi uang lama. Alih-alih memaksa investor kembali ke jalur tradisional, manajer aset mencoba membawa produk pasar uang dan Treasury ke rantai blok, mengikuti kebiasaan investor yang sudah hidup “onchain”.

BlackRock mengajukan dua langkah yang jelas: tokenized money-market fund dan kelas saham onchain untuk dana likuiditas berbasis Treasury. Dalam dokumen pengajuan, kendaraan bernama BlackRock Daily Reinvestment Stablecoin Reserve Vehicle disebut akan berinvestasi pada kas, surat utang pemerintah AS jangka pendek, dan overnight repo yang dijaminkan Treasury.

BlackRock juga menyiapkan onchain share class untuk BlackRock Select Treasury Based Liquidity Fund. Keduanya menetapkan minimum investasi US$3 juta, sinyal bahwa targetnya bukan ritel, melainkan institusi dan pemegang stablecoin skala besar.

State Street Investment Management bergerak dengan pendekatan yang lebih eksplisit ke komunitas kripto melalui State Street Galaxy Onchain Liquidity Sweep Fund. Produk ini diposisikan sebagai cash-management tokenized yang memungkinkan pemegang stablecoin “menyapu” aset mereka ke instrumen onchain yang menghasilkan imbal hasil.

Kim Hochfeld, global head of cash, securities lending and digital assets di State Street, menyebut langkah ini sebagai upaya menjembatani strategi investasi berkualitas tinggi ke format yang selaras dengan cara investor mengelola modal mereka di onchain. Ia juga menegaskan produk ini sebagai fondasi untuk memperluas rangkaian solusi investasi onchain di masa depan.

State Street memilih Solana sebagai jaringan peluncuran dan berencana mengintegrasikan Stellar serta Ethereum. Pilihan ini memindahkan fokus risiko dari “siapa penerbitnya” ke “seberapa tangguh arsitekturnya”, karena kecepatan transaksi dan finalitas di blockchain berarti kesalahan teknis bisa berdampak seketika.

Gabriel Shahin, pendiri dan CEO Falcon Wealth, menggambarkan pergeseran itu dengan analogi yang tajam: dana Treasury tradisional seperti “armored truck” yang lambat tapi terbukti. Versi Solana seperti naik dari kereta kuda ke mobil F1, cepat luar biasa, namun pada 200 mph gangguan kecil bisa langsung dan sulit dibatalkan.

Tren ini menunjukkan tokenisasi bukan sekadar kosmetik digital, melainkan strategi distribusi. Produk yang mirip pasar uang dapat “dibawa” ke tempat uang kripto berdiam, sehingga manajer aset tidak perlu menunggu investor kembali ke jam operasional bank dan mekanisme settlement lama.

Tokenisasi stablecoin tampak seperti modernisasi, tetapi ia juga menyembunyikan pertanyaan lama: siapa yang menanggung risiko ketika infrastruktur baru gagal. Investor mungkin merasa memegang aset “seaman Treasury”, namun jalur kepemilikannya kini bergantung pada smart contract, jembatan integrasi, dan stabilitas jaringan.

Di sisi lain, Wall Street sedang memoles narasi bahwa onchain bisa “seramah” instrumen pasar uang, padahal karakter kripto adalah transparansi sekaligus keterpaparan pada risiko teknologi. Ketika institusi masuk, standar kepatuhan dan kontrol akan menguat, tetapi kemungkinan besar mengorbankan sebagian kebebasan yang dulu menjadi daya tarik kripto.

Minimum investasi US$3 juta juga mengungkap motif utama: ini bukan demokratisasi akses, melainkan perebutan likuiditas institusional. Tokenisasi menjadi alat kompetisi, bukan misi sosial, karena yang diperebutkan adalah dana menganggur bernilai besar yang selama ini nyaman di stablecoin.

BlackRock dan State Street sedang menguji satu tesis: masa depan manajemen aset akan berjalan di dua rel, tradisional dan blockchain, dengan stablecoin sebagai stasiun transit utamanya. Jika berhasil, tokenisasi bisa membuat produk Treasury lebih cepat, lebih cair, dan lebih sesuai dengan ritme pasar digital.

Namun jika gagal, pelajarannya mahal karena kerusakan bisa terjadi dalam hitungan detik, bukan hari kerja. Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana dan menentukan: ketika uang bergerak secepat blockchain, apakah kepercayaan publik bisa ikut bergerak secepat itu juga.

(Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)