Cerpen Rusmin Sopian: Pembulak

Ilustrasi pembulak (pembohong), yang tidak sesuai kata dengan perbuatan.

Ilustrasi pembulak (pembohong), yang tidak sesuai kata dengan perbuatan.

Puisi

ORBITINDONESIA.COM - Setiap lelaki berbaju safari itu becakap, orang-orang yang ada di sekitarnya selalu nyebut satu kata:

"Pembulak!"

Pembulak?

Kata itu memang dak ade dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tapi di kampung kami, Toboali, Bangka Selatan, kata itu sudah lama hidup dalam percakapan sehari-hari. Artinya sederhana: pembohong.

Entah sejak kapan julukan itu melekat pada lelaki yang kebetulan memiliki jabatan penting di kampung tersebut.

Mungkin karena apa yang diucapkannya sering berbalik arah dengan kenyataan. Apa yang keluar dari mulutnya kerap dak sejalan dengan apa yang terjadi kemudian.

Pada suatu hari, dalam pertemuan bersama para guru sebuah Sekolah Menengah Atas di kampung yang dipimpinnya, lelaki yang selalu mengenakan baju putih itu berpidato dengan penuh keyakinan.

"Ku minta kepada Kepala Sekolah dan guru-guru di sini untuk transparan. Tebukak. Jangan ade titip-menitip untuk masuk sekolah di sini. Utamakan yang memenuhi syarat. Dak terkecuali anak aku. Jangan diterimak kalau memang anak aku dak memenuhi syarat."

Suaranya lantang. Tegas.

Para guru bertepuk tangan. Mereka bangga mendengar ucapan itu.

Maklumlah, setiap tahun ajaran baru selalu ada saja orang-orang yang menitipkan anaknya agar diterima di sekolah tersebut, meskipun nilainya kadang dak memenuhi standar yang telah ditetapkan panitia penerimaan siswa baru.

Namun baru beberapa langkah lelaki itu meninggalkan sekolah yang berada di ujung kampung itu, seorang bawahannya datang menemui kepala sekolah.

Wajah bawahan itu tampak kikuk.

"Aku disuruh Pak Pemimpin nyampaikan ini," katanya pelan sambil menyerahkan selembar surat.

Kepala sekolah membacanya.

Jantungnya serasa berhenti berdetak.

Di dalam surat itu tertulis permintaan agar anak Pak Pemimpin diterima bersekolah di sana.

"Pak Pemimpin memang macam itulah," kata bawahan itu lirih. "Lain di mulut, lain kenyataannya."

Kepala sekolah hanya terdiam. Tatapannya terpaku pada surat yang ada di tangannya.

Bukan sekali itu saja.

Sudah sering warga menyaksikan ketidaksinkronan antara ucapan dan tindakan Pak Pemimpin.

Pada kesempatan lain, di hadapan warga kampung yang memenuhi kantornya, ia kembali berpidato.

"Aku tegaskan kepada ikak semue, penerimaan pegawai di kantor ini dak ade titip-menitip. Dak pakai duit pelicin. Yang bagus nilainya, itulah yang diterimak."

Warga bersorak gembira.

"Hidup Pak Pemimpin!"

"Hidup Pak Pemimpin!"

Sorak-sorai memenuhi halaman kantor.

"Kalau ade bawahan aku yang mintak duit, laporkan kepada aku. Akan kupecat. Kupecat!"

Tepuk tangan membahana.

Bahkan burung hantu yang sedang bertengger di pohon nangka dekat kantor seakan ikut terkejut mendengarnya.

Warga memang sudah lama resah dengan budaya sogokan yang selalu muncul setiap ada penerimaan pegawai.

Karena itu, pidato Pak Pemimpin terdengar begitu menyejukkan.

"Ini baru pemimpin," seru seorang warga.

"Kita lihat bae hasilnya," sahut warga lain yang berkopiah.

"Betul. Kita lihat ujungnya. Jangan-jangan UUD lagi."

"Apa tuh?"

"Ujung-Ujungnya Duit."

Mereka tertawa.

Namun tak lama kemudian, keresahan mulai muncul.

Beberapa peserta yang dinyatakan lulus seleksi didatangi oleh bawahan Pak Pemimpin.

Mereka diminta menyerahkan sejumlah uang.

"Ini perintah Pak Pemimpin," kata seorang bawahan.

"Tapi bukankah beliau bilang dak ade duit pelicin?" tanya seorang peserta yang lulus.

Bawahan itu kemudian mengeluarkan selembar surat.

"Ini suratnya."

Di dalam surat itu tertulis instruksi yang justru bertolak belakang dengan pidato yang sebelumnya disampaikan kepada masyarakat.

Kabar itu cepat menyebar dari warung kopi ke warung kopi.

Dari teras rumah ke teras rumah.

Sedikit demi sedikit kepercayaan warga mulai luntur.

Mereka semakin sulit mempercayai apa yang diucapkan Pak Pemimpin.

Tak heran jika setiap kegiatan yang dihadirinya kini semakin sepi.

Kalaupun ada warga yang datang, kebanyakan hanya ingin menikmati makanan, hiburan, atau sekadar melepas lelah setelah bekerja.

Pidato Pak Pemimpin sudah tak lagi menarik perhatian.

Kata-katanya tak lagi menggugah hati.

Narasi yang dahulu dielu-elukan kini hanya lewat seperti angin.

Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.

Bagi warga, ucapan Pak Pemimpin tak lebih dari suara kosong yang kehilangan makna.

Maka setiap kali ia berdiri di atas panggung dan mulai berbicara, selalu terdengar bisik-bisik dari kerumunan.

Mula-mula pelan.

Lalu semakin nyaring.

Semakin banyak yang ikut bersuara.

"Pembulak..."

"Pembulak..."

"Pembulak..."

Suara itu bergema dari berbagai penjuru.

Menembus udara kampung.

Mengikuti setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Dan sejak saat itu, nama jabatan yang disandangnya perlahan kalah terkenal dibandingkan satu julukan yang diberikan warga kepadanya:

Pembulak.

Juli 2026


*Rusmin Sopian, penulis cerpen ini adalah pegiat literasi yang bermukim di Toboali, Bangka Selatan.