Gen Z Work Smarter di Kanada: Realistis untuk POC dan LGBTQIA+?

ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja Gen Z “work smarter, not harder” viral di media sosial, tetapi pasar kerja Kanada yang makin ketat membuat slogan itu terdengar seperti kemewahan. Di Toronto, POC dan LGBTQIA+ bercerita bahwa bertahan kerja kini bukan sekadar soal efisiensi, melainkan soal peluang dan rasa aman.

Kanada mencatat pengangguran usia muda 14,3 persen pada April, dan kelompok usia 15–24 paling merasakan dampaknya. Dalam situasi seperti ini, pekerjaan bukan lagi batu loncatan, melainkan tempat berlindung yang harus dipertahankan.

Ketimpangan makin jelas ketika data menunjukkan pengangguran pemuda yang dirasialisasi lebih tinggi dibanding non-rasialisasi dan non-Pribumi. StatCan pada Februari melaporkan 23,2 persen pemuda kulit hitam menganggur, dibanding 14,4 persen tingkat pengangguran pemuda secara umum pada bulan yang sama.

Angka-angka ini menjelaskan mengapa “kerja pintar” tidak selalu bisa dipraktikkan dengan tenang. Ketika akses kerja timpang, strategi kerja pun ikut ditentukan oleh identitas dan posisi sosial.

(Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Di Toronto, Seb M., Gen Z yang mengidentifikasi diri sebagai queer, menggambarkan pasar kerja yang penuh kontrak sementara. Ia menyebut pernah punya empat hingga lima pekerjaan, tetapi “tidak pernah bertahan” karena sifatnya temporer.

Dalam kondisi seperti itu, Seb memilih bekerja sekeras mungkin jika mendapat kesempatan. Ia bahkan siap menambah pendidikan pasca-sekolah menengah dan jam komunitas demi membuktikan dedikasi, karena yang dipertaruhkan adalah keberlanjutan kerja.

Kisah Seb menunjukkan paradoks Gen Z. Mereka dikenal menolak budaya hustle, tetapi realitas kontrak jangka pendek memaksa sebagian justru “berhustle” untuk sekadar stabil.

Berbeda dengan Seb yang tidak merasa mengalami pengalaman buruk di tempat kerja, Sally-Anne O. merasakan tekanan sebagai perempuan kulit hitam di bidang medis. Ia mengatakan sebagai dokter keluarga, ia sering didatangi pasien perempuan kulit hitam, dan itu “indah,” tetapi sekaligus memunculkan beban untuk memenuhi ekspektasi yang lahir dari pengalaman diskriminasi di tempat lain.

Tekanan ini bukan hanya soal performa individu. Ia adalah dampak sosial dari ketidakpercayaan sistemik, ketika pasien mencari representasi karena layanan sebelumnya tidak adil.

Aashna A. tidak selalu merasa ditekan, tetapi ia menyadari pengalamannya berbeda dari kolega kulit putih. Ia menggambarkan momen ketika ia menjadi “orang yang paling berbeda di ruangan,” dengan latar hidup yang tidak sama.

Di titik ini, “work smarter, not harder” berubah makna. Bagi Aashna, itu bukan kemalasan, melainkan cara menghindari burnout dan tetap produktif melalui metode yang efisien.

Namun efisiensi tidak selalu bisa berdiri sendiri. Ketika seseorang harus lebih dulu “membuktikan diri” akibat stereotip atau minimnya jaringan, kerja pintar sering menjadi kerja ganda yang tak terlihat.

(Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Gagasan “work smarter, not harder” sering dipasarkan sebagai pilihan personal. Padahal, bagi POC dan LGBTQIA+, ia kerap menjadi negosiasi dengan struktur: siapa yang dipercaya, siapa yang diberi kesempatan, dan siapa yang dianggap pantas.

Ketika pengangguran pemuda tinggi, ketidaksetaraan akses kerja makin tajam terlihat. Dalam situasi ini, “kerja pintar” bisa terdengar seperti nasihat dari posisi aman, bukan strategi dari posisi rentan.

Tekanan yang dialami Sally-Anne memperlihatkan dimensi lain: representasi membawa harapan, tetapi juga beban. Ia bukan hanya dokter yang bekerja, melainkan simbol keamanan bagi pasien yang lelah dilukai sistem.

Seb memperlihatkan sisi yang jarang dibahas dalam narasi Gen Z. Slogan anti-hustle runtuh ketika pekerjaan yang tersedia bersifat sementara, dan setiap kontrak terasa seperti audisi tanpa akhir.

Aashna menawarkan jalan tengah yang penting: efisiensi sebagai perlawanan terhadap budaya burnout. Namun efisiensi membutuhkan ruang psikologis, dan ruang itu tidak selalu tersedia bagi mereka yang terus-menerus merasa “berbeda” di meja rapat.

Karena itu, pertanyaan kuncinya bukan apakah Gen Z malas atau rajin. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: siapa yang punya hak untuk bekerja “secukupnya” tanpa takut kehilangan masa depan.

(Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Pasar kerja Kanada yang menegang membuat banyak Gen Z tidak sedang memilih gaya kerja, melainkan bertahan hidup. Data StatCan tentang pengangguran pemuda kulit hitam yang jauh lebih tinggi memperlihatkan bahwa kesempatan tidak dibagikan secara merata.

“Work smarter, not harder” tetap relevan sebagai kritik terhadap budaya kerja yang melelahkan. Tetapi ia hanya benar-benar adil jika akses, keamanan, dan pengakuan di tempat kerja juga adil.

Jika POC dan LGBTQIA+ masih harus bekerja ekstra untuk dianggap setara, maka “kerja pintar” adalah privilese yang belum semua orang miliki. Pertanyaannya, kapan dunia kerja berani mengukur kinerja tanpa bias, dan memberi ruang bagi semua orang untuk hidup tanpa burnout.

(Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)