Marjane Satrapi Meninggal: Warisan Persepolis dan Perlawanan Iran

magdalene.co

magdalene.co

Culture

ORBITINDONESIA.COM – Marjane Satrapi meninggal dunia di Paris pada usia 56 tahun, dan kabar itu segera mengguncang pembaca Persepolis di seluruh dunia. Istana Kepresidenan Prancis mengumumkannya pada 4 Juni, sementara keluarga menyebut duka mendalam setahun terakhir sebagai faktor yang terkait dengan kepergiannya.

Nama Marjane Satrapi bukan sekadar penulis novel grafis Iran-Prancis, melainkan saksi sejarah yang mengubah memoar menjadi senjata budaya. Kematian Satrapi membuat pertanyaan lama kembali tajam: apa yang terjadi ketika seni yang jujur bertemu rezim yang takut pada ingatan?

Satrapi disebut mengalami depresi berat setelah suaminya, fotografer Mattias Ripa, meninggal dalam kecelakaan mobil di Paris pada Juni 2025. Dalam keterangan keluarga kepada AFP, kesedihan itu tidak pernah benar-benar surut selama setahun terakhir.

Namun duka personal Satrapi tidak pernah berdiri sendiri, karena hidupnya sejak remaja sudah ditempa duka politik. Ia lahir di Rasht pada 1969 dan tumbuh di Teheran dalam keluarga modern berhaluan kiri, tepat ketika Revolusi Islam 1979 mengubah ruang privat menjadi ruang pengawasan.

Puncak trauma awalnya datang saat paman tercintanya, Anoosh, dieksekusi oleh Republik Islam Iran. Peristiwa itu menjadikan negara bukan lagi konsep abstrak, melainkan mesin yang bisa merampas orang baik dengan stempel “musuh”.

Di sekolah, tubuh perempuan juga dijadikan medan kebijakan ketika jilbab diwajibkan pada 1980. Satrapi kecil menyaksikan sekolah Prancis yang sekuler ditutup paksa, lalu pemisahan gender dan penutup kepala dipaksakan sebagai “normal baru”.

Di tengah larangan budaya Barat, ia tetap mendengarkan Iron Maiden, Kim Wilde, hingga Michael Jackson. Tindakan sederhana seperti sepatu kets dan musik pop menjadi bentuk pembangkangan yang cukup untuk memancing aparat moral.

Ketika perang Iran-Irak memperkeras represi, orang tuanya mengirimnya ke Austria pada usia 14 tahun demi keselamatan. Dari titik itu, Satrapi menjadi imigran yang belajar satu hal: identitas sering kali dibentuk oleh apa yang dipaksa kita tinggalkan.

Persepolis, yang terbit pertama kali pada 2000 dan berkembang menjadi empat volume, mengubah cara publik memandang komik dan memoar politik. Karya itu diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa, dan menjembatani pembaca yang tak pernah menginjak Teheran untuk memahami ketakutan, humor, dan daya tahan hidup di bawah otoritarianisme.

Kekuatan Persepolis ada pada tekniknya yang tampak sederhana namun mematikan bagi propaganda: ia mengembalikan manusia ke pusat cerita. Alih-alih menjual Iran sebagai karikatur “Timur yang gelap”, Satrapi menampilkan keluarga, pesta, pertengkaran, cinta, dan rasa malu sebagai bahasa universal.

Ia juga menolak narasi benturan peradaban yang sering dipakai untuk membenarkan kebijakan keras dari dua sisi. Dalam berbagai pernyataan publik, Satrapi menegaskan garis pemisah yang sesungguhnya adalah antara fanatisme dan akal sehat, bukan antara Barat dan Timur.

Di titik ini, kritik Satrapi menjadi dua arah dan justru lebih sulit ditelan. Ia mengecam rezim Republik Islam Iran, tetapi ia juga menyoroti sejarah intervensi Barat di Iran, termasuk dukungan pada rezim Syah dan kepentingan minyak yang ikut membentuk ketidakstabilan.

Sikap itu tampak ketika ia menolak Légion d’honneur pada 2024, sebagaimana dikutip The Guardian. Ia menilai pemerintah Prancis munafik dalam diplomasi dengan Iran dan kebijakan visa, serta belum cukup mendukung perjuangan demokrasi rakyat Iran.

Aktivismenya tidak berhenti pada simbol. Pada 2023 ia mengoordinasikan buku kolaboratif Femme, Vie, Liberté yang mendokumentasikan gelombang protes setelah kematian Mahsa Amini pada 2022, yang meninggal setelah ditangkap polisi moral terkait aturan hijab.

Ia bahkan memimpin protes di depan Kedutaan Besar Iran di Paris pada 2023 untuk mendukung remaja perempuan yang ditangkap karena video TikTok menari. Detail ini penting karena menunjukkan cara Satrapi membaca politik: represi selalu dimulai dari hal yang terlihat “sepele”, lalu menjadi kebiasaan negara.

Konsekuensi dari suara itu nyata, karena Satrapi berulang kali menerima ancaman pembunuhan dan dituduh sebagai mata-mata. Dalam wawancara BBC, ia menekankan rasa takut itu wajar, tetapi manusia punya pilihan untuk tidak membiarkan takut mengendalikan hidupnya.

Kematian Marjane Satrapi terasa seperti kehilangan kompas moral di era ketika opini sering lebih laku daripada kebenaran. Ia membuktikan keberanian bukan berarti tanpa luka, melainkan tetap berbicara ketika luka itu justru dipakai lawan untuk membungkam.

Yang paling mengganggu dari warisan Satrapi adalah cerminnya bagi pembaca Barat dan diaspora. Ia menolak “savior complex” yang menempatkan Barat sebagai penyelamat, karena posisi itu sering hanya bentuk lain dari dominasi yang lebih halus.

Di sisi lain, Satrapi juga menolak romantisasi perlawanan yang hanya berakhir pada estetika poster dan tagar. Ia selalu kembali pada pertanyaan etis yang sederhana: jika anak 17 tahun ditembak di jalanan, apa alasan orang dewasa yang aman untuk diam?

Dalam lanskap media global yang gemar menyederhanakan konflik, Satrapi mengajarkan disiplin empati. Ia memaksa kita melihat bahwa korban dan pelaku tidak selalu datang dari negara yang berbeda, tetapi dari pilihan yang berbeda terhadap kekuasaan.

Karena itu, Persepolis bukan hanya arsip masa lalu, melainkan alat baca masa kini. Ketika negara mana pun mulai mengatur pakaian, musik, buku, atau tawa, Satrapi seakan berkata: di situlah kemerdekaan pertama kali dicabut.

Satrapi pernah memperingatkan dalam wawancara BBC pada 2024 bahwa jika seni dan budaya dihilangkan dari sebuah masyarakat, masyarakat itu akan runtuh dengan sendirinya. Kalimat itu kini terdengar seperti wasiat, karena ia menunjukkan seni bukan hiasan, melainkan sistem imun publik.

Marjane Satrapi telah tiada, tetapi halaman-halamannya tetap bekerja sebagai pengingat bahwa ingatan kolektif tidak boleh diserahkan pada negara atau algoritma. Pertanyaannya tinggal untuk kita: setelah membaca keberaniannya, apakah kita masih akan menyebut diam sebagai netral? (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juni 2026)