Jaringan Jamur Mikoriza: Internet Bawah Tanah Penyangga Iklim

detikInet

detikInet

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Jaringan jamur mikoriza arbuskular (AM) membentang diam-diam di bawah tanah, menghubungkan akar mayoritas tanaman di Bumi. Riset SPUN menyebut total panjangnya melampaui 110 kuadriliun kilometer, setara sekitar 11.000 tahun cahaya.

Di saat publik sibuk menghitung emisi dan menanam pohon, “internet bawah tanah” ini justru ikut menentukan nasib panen, hutan, dan iklim. Ironisnya, jaringan raksasa ini ternyata rapuh dan sedang kita rusak.

Jamur AM bukan jamur konsumsi, melainkan benang halus mikroskopis yang merajut tanah dan masuk ke akar tanaman. Mereka telah berevolusi ratusan juta tahun, jauh sebelum pohon pertama menutupi daratan.

Selama ini ilmuwan paham perannya sebagai pengantar air dan nutrisi ke tanaman. Namun ukuran sebenarnya dari jaringan jamur mikoriza global baru belakangan bisa dipetakan dengan lebih serius.

SPUN melaporkan benang jamur AM di dunia dapat membentang lebih dari 110 kuadriliun kilometer. Mereka juga diperkirakan menyimpan sekitar 300 megaton karbon, empat hingga enam kali lipat berat gabungan seluruh manusia.

Jamur AM kerap disebut sistem peredaran darah Bumi karena memperpanjang jangkauan akar. Benang jamur menjelajah lebih dalam dan lebih jauh dibanding akar, lalu mengalirkan air serta nutrisi kembali ke tanaman.

Transaksi biologinya sederhana dan efisien. Tanaman “membayar” jamur dengan gula hasil fotosintesis, sementara jamur menukar gula itu dengan fosfor, nitrogen, dan air.

Skalanya juga bukan kasus pinggiran. Jamur AM terhubung dengan sekitar 70 persen spesies tanaman, sehingga kerusakan jaringan ini setara memutus jalur pasokan bagi sebagian besar vegetasi.

Dampaknya merembet ke ketahanan pangan. Jika jamur mikoriza melemah, tanaman lebih mudah stres kekeringan, kurang nutrisi, dan produktivitas turun, meski pupuk ditambah.

Di sisi iklim, kemitraan ini ikut mengatur arus karbon. Saat tanaman menyerap CO2, sebagian karbon dialirkan ke jamur dan tersimpan sebagai bahan organik tanah.

Studi sebelumnya memperkirakan sekitar 4 miliar ton CO2 mengalir ke jamur AM setiap tahun. Angka itu hampir setara total emisi tahunan Amerika Serikat, sehingga perannya bukan sekadar “tambahan kecil”.

Namun rasa aman karena jaringan ini luas ternyata menipu. Riset yang sama menegaskan kita sedang menghancurkannya, meski detail pemicu lokalnya berbeda-beda.

Pertanian intensif, olah tanah agresif, penggunaan pupuk berlebih, dan perubahan tata guna lahan lazim disebut sebagai tekanan utama pada biota tanah. Ketika tanah diperlakukan seperti media inert, jaringan hidup di dalamnya ikut terputus dan kehilangan fungsi.

Kita terlalu lama memandang tanah sebagai “wadah” bagi akar, bukan sebagai ekosistem yang bekerja. Padahal, jamur mikoriza adalah infrastruktur biologis yang membuat air, nutrisi, dan karbon bergerak dengan biaya energi rendah.

Di sinilah kritiknya: kebijakan iklim sering terjebak pada simbol di permukaan, seperti jumlah pohon dan luas lahan hijau. Tanpa kesehatan tanah dan jaringan jamur, penghijauan bisa menjadi proyek kosmetik yang rapuh.

Ketika 70 persen spesies tanaman bergantung pada jaringan ini, kerusakan mikoriza adalah risiko sistemik. Kita tidak hanya kehilangan jamur, tetapi juga kehilangan “logistik” yang menopang produktivitas dan stabilitas ekosistem.

Riset SPUN memberi bahasa angka untuk sesuatu yang selama ini tak terlihat. Jika panjangnya mencapai 11.000 tahun cahaya, maka kerusakannya pun tidak bisa dianggap sebagai isu lokal semata.

Ini juga mengubah cara kita menilai solusi. Restorasi lahan, pertanian regeneratif, pengurangan olah tanah, dan pemupukan presisi bukan sekadar tren, melainkan upaya menyambung kembali jaringan yang telah diputus.

Jaringan jamur mikoriza arbuskular adalah “internet bawah tanah” yang mengantar nutrisi, menahan kekeringan, dan membantu menyimpan karbon. Ia bekerja sunyi, tetapi menopang panen, hutan, dan iklim dalam skala yang sulit dibayangkan.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah jaringan itu penting, melainkan seberapa cepat kita mau berhenti merusaknya. Jika kehidupan di permukaan bergantung pada benang-benang di bawah kaki, mungkin ukuran kemajuan adalah seberapa hati-hati kita memperlakukan tanah. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)