Indonesia Tidak Pernah Ditinggalkan - Refleksi Kebangsaan di Tengah Kegelisahan Zaman
Oleh Tidar Heritage Foundation (THF)
ORBITINDONESIA.COM - Di berbagai ruang percakapan hari ini, kita mendengar nada yang sama: kegelisahan.
Ada yang gelisah karena ekonomi dunia melambat. Ada yang khawatir melihat ketegangan geopolitik antara negara-negara besar. Ada yang mempertanyakan arah bangsa. Ada pula yang merasa seolah-olah Indonesia sedang berjalan menuju masa depan yang tidak pasti.
Perasaan itu wajar.
Namun dalam suasana seperti inilah kita perlu mengambil jarak sejenak dari hiruk-pikuk berita harian dan melihat perjalanan bangsa ini dari perspektif yang lebih panjang.
Karena sesungguhnya, bila kita melihat Indonesia hanya dari peristiwa hari ini, kita akan mudah cemas. Tetapi bila kita melihat Indonesia dari perjalanan 80 tahun terakhir, kita justru menemukan alasan untuk bersyukur.
Sebuah Keajaiban yang Sering Kita Lupakan
Ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945, banyak pihak meragukan bahwa negara ini dapat bertahan.
Bagaimana mungkin ribuan pulau yang dipisahkan lautan, ratusan suku bangsa, berbagai agama, bahasa, adat, dan budaya dapat bersatu dalam satu negara?
Banyak negara yang secara geografis jauh lebih sederhana justru pecah menjadi beberapa bagian.
Tetapi Indonesia bertahan.
Lebih dari itu, Indonesia berkembang.
Dari negara miskin pasca-kolonial menjadi negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Dari bangsa yang sebagian besar buta huruf menjadi bangsa dengan jutaan sarjana, insinyur, dokter, pengusaha, dan profesional.
Kita sering terlalu fokus pada kekurangan sehingga lupa melihat betapa jauhnya perjalanan yang telah ditempuh.
Ada Sesuatu yang Lebih Besar dari Manusia
Dalam dunia modern, segala sesuatu sering dijelaskan dengan teori ekonomi, strategi politik, atau kepemimpinan.
Semua itu penting.
Namun sejarah Indonesia mengandung sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh teori-teori tersebut.
Terlalu banyak momen ketika bangsa ini berada di tepi jurang, tetapi kemudian menemukan jalan keluar yang tidak terduga.
Revolusi kemerdekaan.
Pergolakan tahun 1965.
Krisis ekonomi 1998.
Konflik sosial di berbagai daerah.
Tsunami Aceh.
Pandemi global.
Berkali-kali Indonesia diuji.
Berkali-kali pula Indonesia bertahan.
Karena itu banyak orang tua, para ulama, rohaniwan, pemuka adat, dan tokoh kebatinan meyakini bahwa perjalanan Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan para pemimpinnya.
Ada kehendak yang lebih besar.
Ada tangan sejarah yang bekerja melampaui perhitungan manusia.
Dalam tradisi Jawa dikenal keyakinan bahwa manusia hanya menjalankan perannya, sedangkan arah akhir perjalanan berada dalam kehendak Yang Maha Kuasa.
Jangan Terlalu Cepat Menghakimi Zaman
Sejarah juga mengajarkan bahwa tidak semua tindakan pemimpin dapat dipahami pada saat itu juga.
Sering kali masyarakat baru memahami arti suatu kebijakan bertahun-tahun kemudian.
Ada keputusan yang pada masanya dianggap keliru, tetapi ternyata menyelamatkan keadaan.
Ada pula kebijakan yang dipuji pada awalnya, tetapi kemudian menimbulkan masalah.
Karena itu kebijaksanaan menuntut kita untuk tidak terlalu cepat tenggelam dalam euforia maupun keputusasaan.
Bangsa yang matang bukan bangsa yang selalu memuji pemimpinnya.
Tetapi juga bukan bangsa yang selalu mencurigai segala sesuatu.
Bangsa yang matang adalah bangsa yang tetap menjaga akal sehat, kesabaran, dan persatuan dalam menghadapi perubahan zaman.
Indonesia Selalu Menemukan Jalan Tengah
Salah satu kekuatan terbesar Indonesia adalah kemampuannya menemukan keseimbangan.
Kita bukan negara liberal ekstrem.
Kita juga bukan negara yang tertutup.
Kita bukan negara agama.
Tetapi juga bukan negara yang memusuhi agama.
Kita tidak sepenuhnya Timur.
Kita juga tidak sepenuhnya Barat.
Dalam perjalanan sejarahnya, Indonesia hampir selalu menemukan jalan tengahnya sendiri.
Inilah yang dalam filsafat Jawa sering disebut sebagai upaya menjaga harmoni.
Bukan berarti tanpa konflik.
Tetapi selalu berusaha mengembalikan keseimbangan ketika keadaan mulai terlalu jauh bergerak ke satu sisi.
Tugas Kita Bukan Takut, Tetapi Menyiapkan Diri
Masa depan memang tidak pasti.
Tidak ada seorang pun yang dapat menjamin bagaimana keadaan dunia lima atau sepuluh tahun ke depan.
Tetapi sejarah Indonesia menunjukkan satu pelajaran penting:
Bangsa ini selalu lebih kuat daripada yang diperkirakan.
Karena itu yang diperlukan hari ini bukan ketakutan yang berlebihan.
Yang diperlukan adalah ketenangan.
Yang diperlukan adalah kerja nyata.
Yang diperlukan adalah memperkuat keluarga, pendidikan, karakter generasi muda, ekonomi produktif, serta semangat gotong royong.
Bangsa yang besar tidak dibangun oleh rasa takut.
Bangsa yang besar dibangun oleh harapan.
Menjaga Keyakinan kepada Indonesia
Di usia 80 tahun kemerdekaannya, Indonesia tentu masih memiliki banyak persoalan.
Namun dibandingkan dengan apa yang telah berhasil dilalui selama delapan dekade terakhir, kita memiliki alasan yang jauh lebih besar untuk optimis daripada pesimis.
Kita boleh berbeda pandangan politik.
Kita boleh mengkritik kebijakan pemerintah.
Kita boleh khawatir terhadap keadaan dunia.
Tetapi jangan sampai kehilangan keyakinan terhadap Indonesia.
Karena sejarah telah membuktikan bahwa bangsa ini berkali-kali mampu melewati badai yang jauh lebih besar daripada yang kita hadapi hari ini.
Mungkin justru di tengah kegelisahan zaman inilah kita perlu kembali mengingat bahwa tidak semua hal dapat dipahami oleh akal manusia.
Ada kerja keras manusia.
Ada kebijaksanaan para pemimpin.
Ada pengorbanan rakyat.
Tetapi bagi mereka yang beriman, ada pula penyertaan Tuhan yang tidak pernah berhenti menjaga negeri ini.
Dan selama bangsa ini tetap menjaga persatuan, gotong royong, serta kepercayaannya kepada Yang Maha Kuasa, Indonesia akan terus menemukan jalannya.
Indonesia tidak pernah menjadi bangsa yang tanpa masalah.
Tetapi selama 80 tahun terakhir, Indonesia juga tidak pernah menjadi bangsa yang ditinggalkan.
— Tidar Heritage Foundation (THF) ***