Kasus Pemerkosaan Cornell: Jaksa Tolak Bukti Tambahan
ORBITINDONESIA.COM – Kasus pemerkosaan Cornell University kembali mengguncang publik setelah terungkap jaksa wilayah Tompkins County menolak meninjau bukti tambahan dari polisi kampus. Dokumen yang diperoleh The New York Times menunjukkan kantor jaksa hanya bertumpu pada pernyataan enam halaman dari korban yang kini disebut Jane Doe.
Dalam artikel sumber, jaksa distrik Matthew Van Houten mengatakan bukti yang ia tinjau pada 2024 membuatnya mustahil mengajukan dakwaan dalam penyelidikan pemerkosaan di Cornell. Namun catatan internal menunjukkan kantornya tidak mau memeriksa bukti lain di luar satu pernyataan tertulis yang ditandatangani Jane Doe.
Pada 25 November 2024, penyidik Cornell Police, Jeffrey Northrop, menghubungi staf kejaksaan Jeff Huddle untuk membahas wawancara tambahan yang sudah dilakukan. Menurut catatan Northrop, jaksa menyatakan sepakat bahwa berdasar pernyataan korban “tuntutan pidana tidak akan dikejar dalam kasus ini.”
Saat itu polisi kampus sudah mewawancarai banyak pihak, menelaah pesan chat, mencatat tip anonim, menghubungi pengacara beberapa terduga pelaku, dan berbicara dengan setidaknya dua orang lainnya. Investigasi kampus berlanjut hingga Januari 2025, tetapi pintu penuntutan sudah seperti tertutup sejak awal.
Gubernur New York Kathy Hochul kemudian mengkritik keras cara jaksa dan polisi Cornell menangani perkara ini. Hochul menunjuk Jaksa Agung Letitia James sebagai jaksa khusus dengan kewenangan mengajukan tuntutan pidana.
Inti persoalan bukan hanya soal “bukti kurang,” melainkan soal proses penyaringan bukti yang dipersempit sejak awal. Catatan menunjukkan kantor jaksa menolak menilai bahan baru, padahal kejahatan seksual lazimnya membutuhkan rekonstruksi berlapis dari saksi, jejak digital, dan dinamika persetujuan.
Van Houten membela keputusan awalnya dengan menyatakan pernyataan Jane Doe “menggambarkan partisipasi penggunaan narkoba dan aktivitas seksual sebagai sukarela, sadar, dan konsensual.” Ia juga mengatakan fakta pada pernyataan awal tidak memenuhi unsur tindak pidana menurut hukum New York.
Namun, transkrip wawancara 14 November memuat kalimat yang lebih tegas dan tidak dimasukkan polisi ke pernyataan tertulis: “Saya bisa mengatakan dengan 100 persen yakin saya diperkosa.” Dalam gugatan terbaru, bahasa Jane Doe lebih kuat lagi, termasuk klaim bahwa ia “tidak mampu memberikan persetujuan” ketika tiba di pesta.
Deborah Tuerkheimer, profesor hukum Northwestern, menekankan kasus kekerasan seksual menuntut waktu untuk membangun kepercayaan agar korban bisa memberi narasi paling lengkap. Ia menyebut ada pola “short-circuiting,” yakni polisi menutup laporan dengan pernyataan yang tidak menangkap bagian penting, lalu jaksa menjadikannya dasar menyimpulkan perkara tak layak.
Rick Trunfio, mantan jaksa kejahatan seksual di wilayah utara New York, menyatakan kantor kejaksaan seharusnya tidak mengandalkan penyelidikan polisi kampus. “Kami tidak akan pernah bergantung pada investigasi polisi kampus,” katanya, karena konflik kepentingan dan keterbatasan pengalaman bisa memengaruhi kualitas penanganan.
Di titik ini, keyword “kasus pemerkosaan Cornell” bertemu sub-keyword yang dicari publik: “bukti tambahan ditolak jaksa,” “polisi kampus,” dan “jaksa khusus Letitia James.” Yang terbaca adalah kegagalan koordinasi, tetapi yang lebih tajam adalah kegagalan kemauan untuk menguji versi peristiwa secara menyeluruh sebelum memutuskan.
Catatan juga menyebut polisi kampus tidak segera mengupayakan surat perintah untuk menyita ponsel para terduga pelaku pada hari-hari pertama setelah laporan. Dalam perkara berbasis pesta dan komunikasi digital, jeda waktu seperti ini sering berarti hilangnya jejak, penghapusan pesan, dan melemahnya pembuktian.
Upaya mewawancarai para pria pun disebut “ringan,” dan mereka menghindar sampai banyak yang menyewa pengacara yang menyarankan tidak bekerja sama. Ini bukan kesalahan hukum dari sisi terduga, tetapi menunjukkan betapa rapuhnya strategi investigasi jika tidak dikejar cepat dan tegas.
Pada 31 Januari 2025, Northrop memberi tahu Jane Doe bahwa jaksa menolak menuntut. Catatan menyebut Jane Doe “kesal, tetapi menyatakan mengerti,” lalu perkara ditutup “menunggu perkembangan lebih lanjut.”
Keputusan menolak meninjau bukti tambahan adalah sinyal bahwa sistem kadang lebih nyaman dengan kepastian administratif ketimbang ketidakpastian investigatif. Dalam kasus kekerasan seksual, kepastian semu sering lahir dari dokumen yang ringkas, bukan dari kebenaran yang rumit.
Ketika jaksa berkata bukti tambahan “tidak relevan” karena sudah ada “catatan komprehensif” dari Jane Doe, publik patut bertanya: komprehensif bagi siapa. Jika transkrip wawancara memuat pengakuan eksplisit “saya diperkosa” namun tak masuk ke pernyataan resmi, maka “komprehensif” berubah menjadi klaim yang meragukan.
Masalah lain adalah struktur kewenangan yang membuat polisi kampus “berutang” pada institusi yang mereka layani. Trunfio mengingatkan Cornell akan menghadapi konsekuensi pelaporan federal jika kasus pemerkosaan berkelompok diproses otoritas sipil, dan insentif kelembagaan seperti ini bisa memengaruhi intensitas penanganan.
Penunjukan Letitia James sebagai jaksa khusus memberi pesan politik yang jelas: negara bagian menilai ada yang tidak beres pada tahap awal. Tetapi langkah itu juga mengakui kenyataan pahit, bahwa peluang pembuktian bisa tergerus oleh waktu yang terbuang.
Semua pria yang disebut dalam gugatan membantah melakukan pelanggaran, dan tidak ada yang didakwa. Karena itu, kehati-hatian tetap wajib, tetapi kehati-hatian tidak boleh identik dengan menghindari pemeriksaan bukti yang mungkin mengubah kesimpulan.
Kasus pemerkosaan Cornell memperlihatkan bagaimana satu pernyataan bisa menjadi palu penutup, bukan pintu pembuka penyelidikan. Ketika aparat menolak menilai bukti tambahan, yang runtuh bukan hanya satu perkara, tetapi juga kepercayaan bahwa sistem bekerja untuk menggali kebenaran.
Publik tidak sedang menuntut vonis cepat, melainkan proses yang utuh, profesional, dan bebas konflik kepentingan. Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar: berapa banyak kasus kekerasan seksual berhenti bukan karena tidak terjadi, melainkan karena tidak pernah benar-benar diselidiki?
(Orbit dari berbagai sumber, 5 Oktober 2026)