KKN Profesi Kesehatan Unhas Dorong 3M Plus dan Spray SERAIKU

Katasulsel.com

Katasulsel.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – KKN Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin mendorong kesadaran warga lewat gerakan 3M Plus dan demonstrasi spray anti nyamuk SERAIKU. Di banyak kampung, pesan pencegahan DBD sering kalah oleh rutinitas, padahal satu genangan kecil cukup jadi awal rantai penularan.

Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi ancaman musiman di banyak daerah, terutama saat hujan membuat wadah air sulit terpantau. Kunci pencegahan sebenarnya sederhana, tetapi disiplin rumah tangga sering rapuh ketika tidak ada pengingat yang terus-menerus.

Gerakan 3M Plus menuntut perubahan perilaku yang konsisten, bukan sekadar kampanye sesaat. KKN menjadi jembatan karena mahasiswa hadir di ruang hidup warga, bukan hanya di ruang rapat.

3M Plus menekankan menguras, menutup, dan mendaur ulang, lalu ditambah langkah pencegahan lain seperti penggunaan larvasida, kelambu, atau repelan. WHO menegaskan pengendalian vektor berbasis komunitas efektif bila dilakukan rutin dan terukur, bukan reaktif saat kasus meningkat.

Demonstrasi spray anti nyamuk SERAIKU menarik karena memberi opsi repelan yang dekat dengan bahan lokal, yakni serai. Namun efektivitas produk seperti ini tetap perlu standar uji, sebab repelan yang baik harus jelas kandungan, cara pakai, dan durasi perlindungannya.

Di titik inilah KKN bisa melampaui seremoni, dengan mengubah demo menjadi edukasi berbasis bukti. Mahasiswa dapat mengajarkan cara memetakan tempat perindukan, membuat jadwal “cek jentik” keluarga, dan menilai perubahan perilaku dari minggu ke minggu.

KKN Profesi Kesehatan Unhas patut diapresiasi karena menempatkan pencegahan sebagai kerja sosial, bukan sekadar pesan medis. Tetapi kampanye akan cepat menguap jika tidak ada mekanisme tindak lanjut di tingkat RT, sekolah, dan puskesmas.

Demonstrasi SERAIKU sebaiknya diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti 3M Plus. Repelan membantu mengurangi gigitan, tetapi sumber masalah tetap ada jika wadah air dibiarkan menjadi “pabrik nyamuk” di halaman sendiri.

Program ini juga menguji keberanian kita untuk jujur pada publik: tidak semua inovasi alami otomatis efektif, dan tidak semua kebiasaan lama aman dipertahankan. Literasi kesehatan harus dibangun dengan bahasa sederhana, tetapi tetap disiplin pada data.

Jika KKN Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin konsisten mengawal 3M Plus, maka perubahan kecil di rumah bisa menjadi benteng besar bagi satu desa. SERAIKU dapat menjadi pintu masuk percakapan, tetapi pencegahan DBD tetap membutuhkan kerja rutin yang kadang membosankan.

Pertanyaannya, setelah mahasiswa pulang, siapa yang memastikan ember dikuras, talang dibersihkan, dan jentik dipantau setiap pekan. Di situlah kualitas program diuji: apakah ia meninggalkan pengetahuan, atau meninggalkan kebiasaan. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Agustus 2026)