Dua Gunung Besar Tersembunyi di Bawah Tanah: Lokasi dan Fakta Ilmiahnya
ORBITINDONESIA.COM – Dua gunung besar tersembunyi di bawah tanah kembali mengusik rasa ingin tahu publik, karena ukurannya disebut setara fitur raksasa di permukaan Bumi. Lokasinya bukan di peta wisata, melainkan di kedalaman yang hanya bisa “dilihat” lewat gelombang seismik dan pemodelan geofisika. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Berita tentang “dua gunung besar” di bawah tanah muncul dari riset yang membaca isi Bumi lewat jejak gempa. Metode ini memetakan anomali densitas dan kecepatan gelombang yang tidak kasatmata, tetapi konsisten di banyak catatan gempa. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Secara ilmiah, istilah “gunung” di kedalaman sering merujuk pada struktur besar di batas mantel dan inti, bukan batuan menjulang seperti di permukaan. Publik kerap membayangkan rongga raksasa atau kota bawah tanah, padahal konteksnya adalah dinamika mantel yang sangat padat dan panas. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Dalam geofisika, temuan semacam ini biasanya terkait “ultra-low velocity zones” (ULVZ) atau gumpalan material berbeda komposisi di dekat inti. Studi-studi sebelumnya di jurnal seperti Nature Geoscience dan Science Advances pernah menyorot kantong-kantong anomali yang memengaruhi jalur gelombang gempa. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Lokasi yang paling sering disebut dalam kajian serupa berada jauh di bawah wilayah samudra, dekat batas inti-mantel pada kedalaman sekitar 2.900 kilometer. Dua area yang kerap muncul dalam literatur adalah zona anomali di bawah Afrika dan di bawah Samudra Pasifik, yang terkait dengan “large low shear velocity provinces” (LLSVP). (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
LLSVP bukan gunung tunggal, melainkan provinsi raksasa dengan kecepatan gelombang geser lebih lambat dari sekitarnya. Sejumlah peneliti menafsirkannya sebagai material lebih panas, lebih padat, atau kaya unsur tertentu, sehingga gelombang gempa melambat saat melintas. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Jika riset baru menyebut “dua gunung besar”, kemungkinan yang dimaksud adalah dua struktur menonjol di atas batas inti-mantel, semacam “punggungan” material berbeda. Di beberapa pemodelan, fitur ini dapat memiliki tinggi ratusan kilometer, jauh melampaui gunung permukaan, meski berada di lingkungan ekstrem. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Data yang dipakai umumnya berasal dari jaringan seismometer global dan katalog gempa besar, karena gelombang dari gempa kuat menembus jauh ke mantel bawah. Teknik tomografi seismik lalu menyusun “CT-scan” Bumi, memetakan area yang memperlambat atau mempercepat gelombang. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Masalahnya, tomografi seismik punya resolusi terbatas dan bergantung pada sebaran gempa serta seismometer. Karena itu, ilmuwan biasanya menguji hasil dengan banyak model, banyak set data, dan berbagai asumsi mineralogi untuk menghindari ilusi peta. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Dalam riset terkait ULVZ, beberapa publikasi menunjukkan zona dengan penurunan kecepatan gelombang geser yang sangat besar, bahkan bisa puluhan persen dibanding sekitarnya. Interpretasi populer menyebut campuran batuan dengan lelehan parsial atau kaya besi, yang membuatnya “berbeda” dari mantel normal. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Yang membuat temuan dua “gunung” ini penting adalah kaitannya dengan mesin panas Bumi. Struktur di batas inti-mantel dapat memengaruhi arus konveksi, memicu plume mantel, dan pada akhirnya berkaitan dengan vulkanisme besar di permukaan dalam skala jutaan tahun. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Di sinilah kata “lokasi” perlu dibaca dengan hati-hati, karena koordinatnya bukan titik GPS, melainkan proyeksi di bawah wilayah tertentu. Ketika ilmuwan menyebut “di bawah Afrika” atau “di bawah Pasifik”, itu berarti posisi relatif terhadap kerak, bukan tempat yang bisa digali untuk dicapai. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Judul “dua gunung besar tersembunyi di bawah tanah” mudah memancing sensasi, tetapi sainsnya justru menuntut kesabaran. Kita hidup di permukaan tipis, sementara 99% volume planet berada di bawah kaki kita dan hanya bisa dipahami lewat sinyal tidak langsung. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Di era informasi cepat, risiko terbesar adalah mengubah anomali geofisika menjadi narasi misteri tanpa konteks. Padahal, yang sedang dikerjakan ilmuwan adalah kerja detektif data, menyatukan gelombang gempa, fisika mineral, dan simulasi suhu-tekanan ekstrem. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Sudut pandang yang lebih tajam adalah melihat temuan ini sebagai pengingat keterbatasan peta pengetahuan kita. Bumi bukan hanya benua dan lautan, melainkan sistem dalam yang aktif, dan “gunung” di kedalaman adalah bahasa metaforis untuk struktur yang membentuk sejarah permukaan. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Jika publik menuntut kepastian tunggal tentang bentuk dan ukuran, sains justru bergerak lewat probabilitas dan pembaruan. Hari ini dua struktur itu tampak jelas di data tertentu, besok bisa direvisi ketika jaringan seismik bertambah dan algoritma makin presisi. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Pada akhirnya, pertanyaan “di mana lokasinya” membawa kita ke jawaban yang lebih dalam daripada koordinat. Dua gunung besar tersembunyi di bawah tanah kemungkinan berada dekat batas inti-mantel, dengan proyeksi di bawah Afrika dan Samudra Pasifik, tetapi maknanya adalah cara Bumi mengatur panas dan geraknya. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)
Kita mungkin tidak akan pernah melihatnya langsung, namun kita bisa merasakan dampaknya lewat gempa, vulkanisme, dan perubahan planet dalam rentang waktu geologis. Pertanyaannya kini, seberapa serius kita mendanai dan membaca sains kebumian, ketika rahasia terbesar justru berada tepat di bawah pijakan kita. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)