Gletser Antartika Langhovde Meluncur: Air Lelehan Angkat Dasar Es

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Gletser Antartika kian sulit dibaca hanya dari citra satelit, karena kunci percepatannya terjadi jauh di bawah es. Di Gletser Langhovde, tim Profesor Shin Sugiyama membuktikan air lelehan permukaan bisa menekan dasar gletser dan membuatnya meluncur lebih cepat ke laut. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Selama ini, publik mengenal pencairan es sebagai kisah permukaan yang memutih lalu menipis. Namun dinamika paling menentukan justru terjadi di “zona gelap” antara es dan batuan dasar, tempat gesekan menahan laju gletser. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Di Eropa, Alaska, dan Greenland, percepatan gletser akibat air di dasar sudah tercatat. Antartika lama menjadi tanda tanya, karena pengukuran langsung di bawah es nyaris mustahil dilakukan. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Sugiyama dan tim Hokkaido University mengebor lebih dari 550 meter ke Gletser Langhovde dengan teknik hot-water jet. Metode ini memungkinkan pengeboran cepat sekaligus mengukur tekanan air tepat di dasar gletser, sebagaimana dikutip SciTechDaily. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Kamera dan sensor menunjukkan air dari danau serta kolam di permukaan mengalir turun melalui retakan hingga mencapai dasar es. Jalur itu terbentuk lewat hydrofracturing, ketika beban air lelehan mendorong retakan makin dalam dan membuka “pipa” alami ke bawah. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Begitu air tiba di dasar, tekanannya meningkat dan sedikit mengangkat gletser dari batuan. Efeknya sederhana tetapi brutal: gesekan turun, dan gletser lebih mudah meluncur menuju laut. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Dalam periode pencairan permukaan yang intens, serta setelah hujan langka Januari 2022, tekanan air di dasar gletser disebut menahan 97 persen berat es di atasnya. Sugiyama menyebut gletser terangkat sedikit, lalu luncurannya meningkat 10 hingga 20 persen. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Angka 97 persen bukan sekadar statistik, melainkan indikator betapa tipisnya batas antara gletser “terkunci” dan gletser “meluncur.” Jika kondisi ini makin sering terjadi, maka aliran es ke laut dapat melonjak tanpa menunggu es mencair habis di permukaan. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Temuan ini juga mematahkan asumsi nyaman bahwa Antartika selalu terlalu dingin untuk mekanisme seperti Greenland. Saat pemanasan global meningkatkan peluang lelehan permukaan dan peristiwa hujan, jalur hydrofracturing bisa menjadi jalan tol baru bagi air menuju dasar. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Di sela pengukuran fisika, kamera di lubang bor merekam anemon laut dan spons bertangkai ramping yang menempel pada batu. Mereka hidup di lapisan air laut setebal tiga meter yang terkubur di bawah 474 meter es, beberapa ratus meter melewati titik gletser terpisah dari dasar laut. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Penemuan ekosistem ini memperluas konteks, karena dasar gletser bukan hanya mesin gesek, melainkan ruang hidup. Ia menegaskan bahwa perubahan hidrologi di bawah es dapat berdampak pada biologi, sekaligus sebaliknya, biota dapat menjadi penanda stabilitas lingkungan bawah es. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Temuan Langhovde terasa seperti “bukti pengadilan” yang selama ini hilang dalam debat percepatan es Antartika. Kita tidak lagi sekadar mengira-ngira dari model dan satelit, karena tekanan air di dasar kini benar-benar terukur. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Namun justru karena terukur, pesannya menjadi lebih tidak nyaman: sistem ini responsif terhadap kejadian singkat seperti hujan langka. Jika satu peristiwa dapat mengerek tekanan hingga hampir menahan seluruh berat es, maka variabilitas cuaca ekstrem menjadi faktor yang tidak bisa dipinggirkan. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Di titik ini, narasi “pencairan lambat” perlu dikoreksi menjadi “pergeseran ambang” yang bisa cepat. Ketika gesekan hilang, gletser tidak harus menunggu suhu naik terus untuk bergerak lebih kencang, karena air sudah bekerja sebagai pelumas. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Sugiyama mengingatkan lapisan es Antartika menyimpan sekitar 90 persen es gletser dunia. Jika seluruhnya mencair dan mengalir ke laut, permukaan laut diperkirakan bisa naik sekitar 60 meter, sebuah skenario ekstrem yang menyorot besarnya taruhannya. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Karena itu, isu ini bukan hanya urusan ilmuwan kutub, melainkan juga perencanaan kota pesisir dan ketahanan pangan dataran rendah. Ketika aliran es ke laut melampaui akumulasi salju, biaya adaptasi akan mengejar, bahkan sebelum publik sempat memahami mekanismenya. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Gletser Langhovde menunjukkan bahwa air lelehan permukaan dapat menembus, menekan, dan mengangkat dasar es, lalu mempercepat luncuran gletser ke laut. Di bawah ratusan meter es, ada fisika yang mempercepat krisis dan ada kehidupan yang diam-diam bertahan. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Antartika bisa merespons pemanasan, melainkan seberapa sering ambang percepatan itu akan terlewati. Jika air bisa membuka jalan sendiri melalui hydrofracturing, apakah kita masih merasa aman menunda pengurangan emisi dan adaptasi pesisir? (Orbit dari berbagai sumber, 4 Agustus 2026)