Rusmin Sopian: Ichsan Mokoginta Dasin dan Kiprah Puluhan Tahun Seorang Pegiat Sastra yang Terlupakan

Oleh Rusmin Sopian, penulis yang tinggal di Toboali.

ORBITINDONESIA.COM - Sebuah postingan di Grup WhatsApp Rembug Budaya Bangka Belitung belum lama ini menuliskan lampiran nama para pelaku/ pegiat sastra penerima apresiasi dari Kemendikdasmen.

Daftarnya rapi. Jumlahnya cukup banyak. Tahunnya tertulis sangat jelas: 50 tahun, 40 tahun, 25 tahun berkiprah.

Tapi ada yang menarik perhatian penulis. Tidak ada satu pun nama pelaku/pegiat sastra dari Bangka Belitung yang tertera dalam Surat Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa nomor 163 tahun 2026 yang ditandatangani Hafidz Muksin, sebagai Kepala Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa itu tertanggal 25 Mei 2026 itu.

Benarkah demikian?

Tiba-tiba penulis ingat satu nama. Ichsan Mokoginta. Ya, Ichsan Mokoginta. Penulis memanggilnya dengan sapaan akrab Datuk Mendo. Publik mengenalnya sebagai Amang Ikak.

Hikayat Amang Ikak adalah rubrik yang ia asuh selama waktu tahunan saat masih menjadi jurnalis Bangka Pos.

Setiap minggu pagi, Hikayat Amang Ikak hadir. Di meja pembaca. Ditemani segelas kopi panas. Dan tentunya dengan siraman cahaya matahari pagi yang menyehatkan.

Rubrik itu jadi ikon. Jadi ruang kelas. Jadi panggung. Jadi rumah pengetahuan.

Di sana ia menulis beragam topik tentang kehidupan masyarakat di Bangka Belitung dengan ciri khas dialeg Mendobarat (Bangka).

Ia bercerita seperti seorang kakek yang berkisah kepada cucunya di beranda sore.

Tanpa menggurui. Namun penuh muatan pesan moral dan bahkan kritik sosial.

Kertas koran jadi saksi. Setiap edisi, ia menanam satu kata. Satu diksi. Satu narasi ke tanah Bangka. Menjaga warisan budaya dan Kearifan lokal.

Jauh sebelum namanya lekat dengan Amang Ikak, penulis telah mengenalnya sekitar tahun 1999-2000. Kami sama-sama sebagai jurnalis Harian Suara Bangka. Saat itu karya sastranya sudah memenuhi ruang pembaca Harian Suara Bangka.

Bahkan kabarnya, sejak 1990-an, saat masih berstatus sebagai mahasiswa di Palembang, ia sudah mengirim cerpen ke media yang berada di ibu kota Sumatra Selatan itu.

Hitung sendiri. Untuk kategori 25 tahun, ia lebih dari layak. Bahkan sudah lewat.

Tapi penulis tahu. Penghargaan bukan urusan utamanya. Apalagi menyodorkan diri. Itu bukan tipikal Amang Ikak.

Bagi Amang Ikak, menulis itu sendiri yang penting. Berkarya itu sendiri yang utama.

Seorang pelaku dan pegiat sastra menulis dan berkarya untuk menghasilkan beragam tulisan itu adalah hal yang sangat penting dan lebih utama.

Seperti yang diungkapkan Rapi, penulis buku Lawang Uma bahwa penghargaan memang indah, seperti lampu panggung yang jatuh lembut, pada nama yang dipanggil dengan tepuk tangan.

Namun di balik gemerlapnya, tulis Rapi dalam artikel Ketika Penghargaan Tak Lagi Sekadar Menghargai.

Ada tanya yang lirih.

"Siapa yang benar-benar pantas, dan siapa yang hanya kebetulan terlihat?"

Lalu bagaimana dengan mereka yang berjalan sendiri di ujung peta? Yang bekerja tanpa kamera. Yang jasa-jasanya hanya disaksikan oleh matahari dan debu jalanan?

Mereka yang tak pernah menuntut panggung? Namun setiap langkahnya adalah puisi pengabdian. Narasi kehidupan.

Andai penghargaan punya mata yang lebih tajam, mungkin ia akan melihat, bahwa cahaya tak selalu datang dari pusat kota.

Kadang ia berpendar diam-diam di pelosok yang nyaris dilupakan.

Sastra adalah produk bangsa.

Penyubur jiwa masyarakatnya. Bangsa yang besar bisa diukur dari sastranya yang unggul.

Sayangnya, karya unggul tak tumbuh sendiri. Membutuhkan dukungan. Membutuhkan suplemen. Membutuhkan nutrisi. Dan tentunya suport.

Sudah saatnya pemerintah dan lembaga kebudayaan memberikan dukungan konkret kepada para pelaku dan pegiat sastra yang berkiprah di negeri ini.

Pembelian karya sastra dengan harga manusiawi. Beasiswa untuk penulis berbakat, agar bisa fokus menulis tanpa dicekik ekonomi adalah bentuk dukungan untuk para pelaku dan pegiat sastra.

Sudah saatnya pemerintah dan lembaga yang berwenang hadir. Bukan hanya memberi daftar. Tapi memberi ruang besar untuk melahirkan karya sastra bagi para pelaku /pegiat sastra untuk peradaban bangsa besar ini.

Semoga 2027 nanti, nama Ichsan Mokoginta ada di daftar itu. Sebagai pelaku/pegiat sastra Bangka Belitung yang telah berkiprah 25 tahun dari Kemendikdasmen Republik Indonesia.

Dan itu tugas kita semua.

Bukankah begitu, Mang?

Ngomong-Ngomong, pembaca pernah membaca Aji Sukor Nek Jadi Raje? ***