Proses Pembekuan Antartika: Saat Gondwana Retak Mengubah Iklim
ORBITINDONESIA.COM – Proses pembekuan Antartika ternyata dimulai jauh sebelum lapisan es permanen menutupinya, bahkan ketika suhu global masih relatif hangat. Studi di jurnal Science menyorot pemicu kunci yang sering luput: pecahnya Gondwana dan pengangkatan Antartika Timur yang membuatnya cukup tinggi untuk “mengunci” es.
Selama ini, penjelasan populer tentang pembekuan Antartika sering berhenti pada turunnya kadar karbon dioksida (CO2) dan perubahan sirkulasi laut. Narasi itu penting, tetapi belum menjawab mengapa Kutub Selatan membeku lebih dulu dibanding Kutub Utara.
Riset yang dikutip KOMPAS.com dan diringkas SciTechDaily menghadirkan potongan puzzle yang lebih tua: geologi dalam Bumi. Ketika Antartika dan Afrika mulai berpisah pada Jura, sekitar 201–143 juta tahun lalu, gangguan di mantel memulai rangkaian efek yang panjang.
Pecahnya lempeng tektonik memicu gelombang di mantel yang mengikis “akar” benua secara bertahap. Material yang lebih berat tenggelam, sementara permukaan di atasnya justru terangkat selama puluhan juta tahun.
Pengangkatan itu membentuk tebing pantai curam, dataran tinggi luas, dan Pegunungan Gamburtsev yang kini tersembunyi di bawah 1–3 kilometer es. Thomas Gernon dari Universitas Southampton menegaskan, “permukaan daratan Antartika secara bertahap terangkat hingga ke titik di mana es bisa memperoleh pijakan permanen.”
Tim peneliti merekonstruksi lebih dari 100 juta tahun evolusi lanskap dengan simulasi komputer yang menghubungkan tektonik, dinamika mantel, erosi, pertumbuhan pegunungan, hingga kemunculan es permanen. Model ini menempatkan topografi sebagai pengungkit, bukan sekadar latar.
Sekitar 45 juta tahun lalu, sebagian besar Antartika Timur disebut telah melewati ambang ketinggian sekitar 2 kilometer. Pada ketinggian ini, suhu udara cukup rendah untuk membuat gletser gunung bertahan sepanjang musim panas dan terus menebal.
Thea Hincks, peneliti senior Southampton, menyebut model mereka realistis dalam menggambarkan tebing pantai setinggi dua kilometer, dataran tinggi, dan pegunungan pedalaman yang menjadi cikal bakal Lapisan Es Antartika Timur. Ini memberi jembatan logis dari batuan ke salju, dari mantel ke iklim.
Argumen kuncinya sederhana tetapi tajam: penurunan CO2 saja tidak menjelaskan asimetri kutub. Gernon menilai, jika CO2 satu-satunya penggerak, seharusnya respons kedua kutub lebih simetris.
Guy Paxman dari Universitas Durham menekankan peran topografi karena suhu dapat turun hingga sekitar 1 derajat Celsius tiap kenaikan 100 meter. Artinya, ketinggian bukan detail kecil, melainkan mesin pendingin alami.
Sebelum 50 juta tahun lalu, sebagian besar Pegunungan Gamburtsev berada di bawah 1,5 kilometer. Namun saat glasiasi besar Antartika sekitar 34 juta tahun lalu, hampir separuh pegunungan itu telah melampaui 2 kilometer, cukup tinggi untuk mempertahankan salju dan membentuk tudung es permanen.
Temuan ini memaksa kita meninjau ulang kebiasaan menjelaskan krisis iklim hanya lewat angka CO2, seolah Bumi adalah ruang laboratorium yang datar. Padahal, Bumi punya “arsitektur” yang dibangun ratusan juta tahun, dan arsitektur itu menentukan kapan pendinginan menjadi tak terbendung.
Di sini, proses pembekuan Antartika tampak sebagai hasil kolaborasi waktu panjang: tektonik menciptakan panggung, topografi menurunkan suhu lokal, lalu dinamika atmosfer dan laut memperluas efeknya. Ini bukan pembelaan untuk meremehkan CO2, melainkan peringatan bahwa sistem iklim bekerja dengan banyak tuas.
Refleksi kritisnya jelas: jika topografi dapat memberi “keunggulan” pada satu kutub, maka perubahan kecil pada sirkulasi laut atau pola angin hari ini juga bisa memberi keunggulan baru pada proses yang tak kita inginkan. Ketika Bumi sudah punya prasyarat fisik tertentu, dorongan tambahan dari emisi modern bisa mempercepat perubahan dengan cara yang sulit diprediksi publik.
Pelajaran dari Antartika bukan hanya tentang masa lalu yang beku, tetapi tentang sebab yang sering tersembunyi di bawah kaki kita. Benua itu tidak sekadar mendingin karena atmosfer berubah, melainkan karena daratannya terlebih dulu “naik” ke ketinggian yang membuat es bisa bertahan.
Jika geologi dapat menyiapkan titik balik selama puluhan juta tahun, maka keputusan manusia dapat memicu titik balik dalam hitungan dekade. Pertanyaannya kini sederhana dan mengganggu: apakah kita cukup rendah hati untuk mengakui kompleksitas Bumi, sekaligus cukup tegas untuk mengurangi faktor yang paling cepat kita kendalikan, yaitu emisi gas rumah kaca?
(Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)