Legenda Tudung Batu Akek Antak
Oleh Kulul Sari, Ketua Lembaga Adat Melayu Negeri Junjung Behaoh.
ORBITINDONESIA.COM - Di antara bentang alam, batu granit merupakan menjadi ciri khas Pulau Bangka. Tidak jauh dari bibir pantai di Desa Rajik Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, terdapat sebuah batu yang bentuknya menyerupai tudung atau caping.
Batu granit ini bukan sekadar bentukan alam bagi masyarakat setempat.
Di balik wujudnya yang unik, tersimpan sebuah legenda yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Masyarakat mengaitkan batu tersebut dengan sosok yang dikenal dalam cerita rakyat Bangka sebagai Cek Antak atau Akek Antak, seorang tokoh sakti yang namanya cukup dikenal dalam khazanah cerita tutur lisan masyarakat Pulau Bangka.
Konon, pada suatu masa, Cek Antak melakukan perjalanan ke negeri seberang. Dalam perjalanan itu, ia mengenakan sebuah tudung sebagai pelindung kepala.
Setelah kembali dari negeri seberang, ia tiba di tepian laut dan beristirahat di atas sebuah batu granit.
Angin laut yang sejuk berembus perlahan. Dalam suasana yang tenang, Cek Antak meletakkan tudungnya di atas batu granit tersebut sembari menikmati semilir angin dan memandang hamparan laut.
Namun, ketika hendak melanjutkan perjalanan ke bukit permisan, ia lupa mengambil tudungnya.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Tudung yang tertinggal itu dipercaya semakin lama semakin mengeras, hingga akhirnya berubah menjadi batu dan menyatu dengan batu granit di bawahnya.
Bentuknya yang menyerupai tudung atau caping kemudian menjadi penanda bahwa di tempat itulah, menurut cerita yang hidup di tengah masyarakat, pernah tertinggal tudung milik Akek Antak.
Kini, Tudung Batu Akek Antak itu menjadi bagian dari kekayaan cerita rakyat dan lanskap budaya Pulau Bangka.
Terlepas dari bagaimana batu itu terbentuk secara geologis, legenda tentangnya memberikan lapisan makna yang berbeda: alam tidak hanya dipandang sebagai bentang fisik, tetapi juga sebagai ruang tempat masyarakat menyimpan ingatan, kisah, dan warisan leluhur.
Legenda ini merupakan salah satu contoh bagaimana masyarakat Bangka mewariskan sejarah dan kearifan lokal melalui tutur lisan.
Dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, kisah tentang Akek Antak dan tudung batunya tetap hidup, menjadi pengingat bahwa setiap batu, bukit, hutan, dan pesisir di Pulau Bangka mungkin menyimpan cerita yang belum selesai dituturkan.
Tudung itu mungkin telah menjadi batu, tetapi kisahnya tetap hidup dalam ingatan masyarakat. ***