Inflasi AS Hantam Lansia: Bantuan SNAP LIHEAP Jadi Kunci
ORBITINDONESIA.COM – Inflasi dan biaya hidup di AS membuat banyak lansia hidup dari satu kali makan sehat sehari, lalu bertahan dengan mi instan. Keluhan semacam ini muncul di ruang publik, menandai bahwa kenaikan harga pangan, listrik, dan layanan kesehatan kini terasa seperti krisis sunyi.
Data Consumer Price Index (CPI) September 2025 menunjukkan “food at home” naik lebih dari 2,7% dibanding setahun sebelumnya. Pada saat yang sama, listrik naik 5,1%, biaya perumahan 3,6%, dan layanan energi 6,4% dibanding September 2024.
Biaya perawatan medis juga naik 3,9% dalam periode yang sama, menambah beban bagi kelompok yang paling sering membutuhkan layanan kesehatan. Di tengah tekanan itu, kenaikan Social Security 2025 hanya 2,5%, sementara perkiraan COLA 2026 sebesar 2,8% dinilai belum menutup selisih inflasi.
Masalahnya bukan sekadar angka inflasi, tetapi ketidakselarasan antara kenaikan kebutuhan pokok dan pertumbuhan pendapatan tetap. Josh Hodges dari NCOA menilai kondisi ini “disheartening” karena memukul lansia yang teliti mengatur anggaran sekalipun.
Ketika biaya makan, energi, dan kesehatan naik bersamaan, ruang bernapas anggaran rumah tangga mengecil dari tiga sisi sekaligus. Pangan menjadi pos yang paling cepat dipangkas, karena tagihan listrik, sewa, dan obat kerap tidak bisa ditunda.
Di sinilah ironi besar muncul: sekitar $58 miliar manfaat bantuan publik dilaporkan tidak diklaim setiap tahun. Banyak yang tidak tahu, ragu prosedur, atau takut “mengambil jatah orang lain,” padahal program itu memang dirancang untuk yang memenuhi syarat.
SNAP, misalnya, adalah program anti-kelaparan terbesar di AS, namun hingga 9 juta lansia disebut belum memanfaatkannya. Angka itu membuat sekitar 70% lansia yang memenuhi syarat tetap tanpa bantuan pangan, sehingga “makan sehat” berubah menjadi kemewahan.
LIHEAP menawarkan bantuan tagihan energi dan bahkan dukungan darurat saat terancam pemutusan listrik. Program ini penting karena kenaikan layanan energi 6,4% dan listrik 5,1% membuat rumah aman dan layak huni menjadi biaya yang terus membengkak.
Untuk kesehatan, Medicare Savings Programs (MSP) dapat menanggung premi, deductible, copay, dan coinsurance, tetapi banyak yang tidak sadar berhak. NCOA menyebut hingga 5,8 juta lansia yang memenuhi syarat MSP belum mendaftar, meninggalkan miliaran dolar bantuan tidak terserap.
Extra Help juga krusial karena biaya obat resep bisa menghabiskan ratusan dolar per tahun bagi penerima Medicare. Program yang dikelola SSA dan CMS ini mensubsidi biaya obat, bahkan dapat membuat premi Part D menjadi nol dan menekan biaya di apotek.
Inflasi bukan sekadar fenomena ekonomi, melainkan ujian moral bagi sistem perlindungan sosial. Jika satu dari empat penerima Social Security bergantung pada program itu untuk 90% pendapatan, maka setiap selisih kecil antara COLA dan realitas harga adalah potongan langsung pada kualitas hidup.
Yang paling mengkhawatirkan adalah normalisasi “strategi bertahan” yang merendahkan martabat, seperti mengganti makan dengan makanan murah berulang. Ketika negara memiliki program bantuan, tetapi warganya tidak mengakses karena stigma dan birokrasi, masalahnya bukan hanya kemiskinan, melainkan kegagalan komunikasi kebijakan.
NCOA lewat BenefitsCheckUp mencoba menutup jurang itu dengan alat pencarian manfaat dan hotline bantuan. Namun solusi jangka panjang tetap menuntut pembaruan cara publik memahami bantuan: bukan belas kasihan, melainkan hak yang disediakan untuk mencegah kerentanan berubah menjadi bencana.
Inflasi dan biaya hidup menekan lansia dari semua arah: makanan, listrik, rumah, dan kesehatan naik serentak, sementara COLA tertinggal. Program seperti SNAP, LIHEAP, MSP, dan Extra Help bukan pelengkap, melainkan penahan agar hidup tidak runtuh oleh tagihan.
Pertanyaannya kini sederhana tetapi tajam: berapa banyak orang tua yang masih harus memilih antara makan atau obat, hanya karena mereka tidak tahu cara mengakses bantuan yang sudah ada. Barangkali ukuran masyarakat yang sehat bukan seberapa cepat ekonominya tumbuh, melainkan seberapa sedikit lansia yang terpaksa hidup dari mi instan setelah “satu kali makan sehat.”
(Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)