BTS Boikot Grammy 2027, Tolak Kategori Asian Pop
ORBITINDONESIA.COM – BTS memutuskan tidak mengajukan musik mereka untuk dipertimbangkan di Grammy Awards tahun depan, setelah Recording Academy memperkenalkan kategori baru “Asian Pop”. Keputusan ini dibaca luas sebagai sinyal protes terhadap pelabelan berbasis wilayah dan bahasa yang dikhawatirkan meminggirkan artis Asia dari kategori utama. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Dalam pernyataan lewat Instagram pada Rabu, ketujuh anggota BTS menyatakan tidak akan mengikuti proses pengajuan Grammy tahun ini. Mereka berharap musik mereka “didengar dan dicintai apa adanya, bukan dikategorikan berdasarkan wilayah atau bahasa,” mengacu pada terjemahan Yonhap News. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Pernyataan itu juga berterima kasih kepada penggemar yang dikenal sebagai ARMY karena terus mendampingi mereka. Meski tidak menyebut kata “protes”, momentum pengumuman itu beririsan dengan kritik bahwa kategori “Asian Pop” berpotensi menjadi jalur terpisah yang menyaring artis Asia dari panggung utama. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Dampaknya konkret: album comeback BTS “ARIRANG” tidak akan masuk kontestasi Grammy. Padahal “ARIRANG” sempat memuncaki Billboard 200 selama dua pekan berturut-turut, dan BTS sedang menjalani tur dunia untuk mempromosikannya. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Langkah BTS menekan titik sensitif dalam industri penghargaan: representasi sering datang bersama pengotakan. Kategori baru “Asian Pop” terdengar seperti pengakuan, tetapi juga bisa menjadi pagar tak kasatmata yang mengarahkan karya tertentu ke “rak” khusus. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Recording Academy melalui CEO Harvey Mason Jr. mengatakan ia “sedih” BTS memilih tidak berpartisipasi, namun menghormati keputusan itu. Ia membela kategori baru sebagai upaya merayakan “kedalaman, keragaman, dan pertumbuhan luar biasa” pop dari Asia, serta menegaskan penambahan kategori bukan untuk “memecah-belah”. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Mason juga menekankan aspek teknis yang penting: mengajukan karya pada kategori genre tidak menutup peluang untuk ikut kategori “General Field” seperti Record of the Year, Album of the Year, dan Song of the Year. Menurutnya, pengakuan di kategori genre dan General Field “tidak saling meniadakan”, sehingga artis bisa mengejar keduanya. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Namun, kritiknya bukan semata soal aturan tertulis, melainkan soal praktik dan persepsi. Jika panitia, pemilih, dan media secara default menempatkan artis Asia ke kategori “Asian Pop”, maka kategori utama bisa tetap didominasi pusat industri lama, sementara “keragaman” diparkir di etalase khusus. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Riwayat BTS di Grammy menambah konteks emosional dan politis. Mereka sudah mengantongi lima nominasi, termasuk tiga nominasi beruntun Best Pop Duo/Group Performance pada 2021, 2022, dan 2023, serta nominasi Best Music Video pada 2023 untuk “Yet to Come (The Most Beautiful Moment)”, tetapi belum pernah menang. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Dalam kacamata strategi, tidak mengirim “ARIRANG” adalah taruhan reputasi dan ekonomi yang tidak kecil. BTS menukar peluang trofi dengan pesan: penilaian musik global seharusnya berangkat dari kualitas dan dampak, bukan dari paspor budaya yang melekat pada penciptanya. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Kategori “Asian Pop” bisa dibaca sebagai dua hal sekaligus: jembatan dan tembok. Ia menjadi jembatan jika membuka ruang kurasi yang adil, menambah sorotan, dan memperluas jejaring pemilih terhadap karya-karya Asia yang sebelumnya diabaikan. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Tetapi ia menjadi tembok jika berfungsi seperti “kotak aman” agar kategori utama tidak perlu berubah. Penghargaan sering mengklaim inklusif, namun tetap mempertahankan pusat gravitasi lama lewat kebiasaan voting, promosi label, dan narasi media yang menempatkan “Barat” sebagai standar universal. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Keputusan BTS juga menunjukkan bahwa kekuatan budaya pop kini tidak selalu tunduk pada validasi institusi. Ketika tur dunia, puncak Billboard 200, dan basis ARMY sudah menjadi ekosistem yang mandiri, Grammy menjadi simbol prestise, bukan penentu tunggal legitimasi. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Pada akhirnya, perdebatan ini bukan tentang apakah Asia “layak” punya kategori, melainkan tentang apakah Grammy berani menata ulang pusatnya. Jika “Asian Pop” hanya menjadi lorong tambahan, maka masalah representasi tetap utuh; jika ia menjadi pintu masuk untuk menormalkan artis Asia di General Field, maka ia bisa menjadi koreksi sejarah. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Boikot BTS terhadap Grammy 2027 menempatkan satu pertanyaan di meja publik: apakah pengakuan harus datang dengan label yang memisahkan. Recording Academy boleh berkata “tidak membagi”, tetapi respons BTS menunjukkan bahwa rasa dipisahkan sering lahir dari pengalaman panjang, bukan dari bunyi aturan. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Jika Grammy ingin benar-benar merayakan musik global, ukurannya adalah seberapa sering karya Asia bersaing dan menang di kategori utama tanpa perlu “jalur khusus”. Dan bagi pendengar, mungkin inilah momen untuk bertanya: kita mencintai musik karena bunyinya, atau karena kita diajari menaruhnya di rak tertentu. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)