Film Animals Ben Affleck Dihujani Kritik, Skor Rotten Tomatoes 36%

Forbes

Forbes

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Film Netflix Animals garapan Ben Affleck memulai debutnya dengan skor Rotten Tomatoes 36% dari 47 ulasan kritikus. Menjelang tayang di bioskop terbatas dan streaming Netflix pada Jumat, film thriller kriminal ini justru lebih dulu disambut gelombang penilaian “rotten”.

Animals adalah film orisinal Netflix yang dibintangi sekaligus disutradarai Ben Affleck, dengan Kerry Washington, Steven Yeun, dan Gillian Anderson. Affleck juga ikut menulis naskah, sehingga film ini otomatis dibaca sebagai pertaruhan reputasi kreatifnya.

Ceritanya mengikuti Mark Kimball (Affleck), kandidat wali kota Los Angeles, yang menerima telepon mengejutkan bahwa putranya diculik. Bersama istrinya, Abigail (Washington), ia mengumpulkan uang tebusan sambil menghadapi ancaman gelap yang berpotensi membongkar rahasia keluarga.

Film ini berating R dan didukung pemain lain seperti Ray Fisher, Luis Gerardo Méndez, Adriana Paz, dan Jacob Estrada. Embargo ulasan dibuka Kamis malam, dan skor penonton serta konsensus resmi Rotten Tomatoes belum tersedia.

Skor 36% di Tomatometer menempatkan Animals dalam zona berbahaya bagi film thriller yang mengandalkan ketegangan dan ritme. Dengan 47 ulasan, angka ini cukup stabil untuk memberi sinyal bahwa masalahnya bukan sekadar selera minoritas.

Jika skor akhirnya bertahan di kisaran 38% “rotten”, Animals akan mendekati catatan terburuk Affleck sebagai sutradara. Sebelumnya, Live by Night (2017) menjadi titik rendah dengan 34%, sementara Gone Baby Gone (94%), The Town (92%), Argo (96%), dan Air (93%) mencatatkan reputasi “fresh” yang kuat.

Sejumlah kritik menyorot jurang antara kualitas pemain dan daya dorong cerita. Jeannette Catsoulis dari The New York Times menulis film ini seperti “bubur tak bisa dimakan dari bahan kelas atas,” karena naskah yang berlebihan menghasilkan thriller politik yang “luar biasa datar.”

Nick Schager dari The Daily Beast menyebutnya “tidak orisinal dan tanpa ketegangan,” serta minim energi dalam mengolah konflik kelas sosial. Jacob Oller dari AV Club bahkan menyindir bahwa Animals lebih tepat dianggap “film buruk” ketimbang tiruan murahan.

Dari sisi lain, Jake Coyle (Associated Press) menilai Affleck biasanya piawai merajut kisah manusia, mekanik genre, dan isu sosial, tetapi Animals “kurang bertenaga” dan terasa “dipaksa” secara melodramatis. Kritik ini penting karena mengarah pada problem struktural, bukan hanya eksekusi adegan.

Namun beberapa ulasan “fresh” memberi pembelaan yang terdengar ambigu. David Rooney dari The Hollywood Reporter menyebut para aktor “sangat enak ditonton,” dan menilai film ini cocok sebagai tontonan latar saat memasak, meski tema “binatang liar dalam diri manusia” terasa kurang menggigit.

Danny Leigh dari Financial Times memuji pemain pendukung, termasuk Kerry Washington dan Gillian Anderson yang “dingin membeku,” serta menyebut film ini semacam “bom kluster” rahasia dan agenda tersembunyi. Pujian itu sekaligus mengisyaratkan bahwa kekuatan film mungkin lebih ada pada atmosfer dan akting, bukan pada ketegangan yang naik bertahap.

Kasus Animals memperlihatkan paradoks film streaming: bintang besar dan premis tinggi tidak otomatis menghasilkan thriller yang menekan napas. Ketika naskah terlalu “keras berteriak” dan tidak memberi ruang bagi misteri tumbuh, penonton justru kehilangan alasan untuk peduli.

Affleck selama ini dipuji karena disiplin genre dan ketajaman moral, terutama di Gone Baby Gone dan Argo. Karena itu, kritik yang menyebut Animals datar dan melodramatis terasa seperti peringatan bahwa formula lama tidak selalu bekerja di ekosistem Netflix yang serba cepat.

Menariknya, ulasan positif pun tidak sepenuhnya memposisikan Animals sebagai tontonan wajib. Saat sebuah film dipuji karena “cukup baik untuk diputar di latar,” itu menandakan standar baru: film tidak harus mengguncang, cukup menemani.

Di titik ini, skor Rotten Tomatoes 36% bukan sekadar angka reputasi. Ia menjadi penanda perubahan cara publik menilai film thriller kriminal di era streaming, yakni apakah film benar-benar menegangkan atau hanya sekadar “konten” berwajah bintang.

Animals mungkin tetap menemukan penonton karena daya tarik Ben Affleck, Kerry Washington, dan Gillian Anderson, serta rasa ingin tahu pada kisah penculikan dan politik kota. Namun gelombang kritik menunjukkan bahwa penonton kini menuntut lebih dari sekadar pemain mahal dan premis yang heboh.

Pertanyaannya, apakah Netflix dan para sineas akan kembali memprioritaskan naskah yang rapat dan berlapis, atau menerima kenyataan bahwa banyak film dibuat untuk “mengisi ruang” di katalog. Pada akhirnya, film yang bertahan bukan yang paling ramai dipasarkan, melainkan yang paling jujur menekan emosi dan pikiran kita. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Oktober 2026)