Trump, Selat Hormuz, dan Retaknya Sekutu Teluk
ORBITINDONESIA.COM – Trump dan Selat Hormuz kini menjadi satu paket krisis yang menguji wibawa Amerika Serikat di Teluk. The Washington Post menilai kegagalan membuka kembali jalur energi itu membuat Donald Trump meluapkan frustrasi kepada sekutu, termasuk Oman.
Selat Hormuz adalah nadi perdagangan energi global, karena sebagian besar ekspor minyak Teluk melintas di sana. Ketika lalu lintas kapal tersendat berbulan-bulan, tekanan ekonomi merembet dari pasar energi hingga logistik regional.
Dalam laporan yang dikutip Fars News Agency pada 21 Agustus 2026, The Washington Post menekankan Trump belum bisa memaksa Teheran menyerah. Kegagalan itu mengubah perang menjadi ujian kepemimpinan, bukan sekadar operasi militer.
Trump disebut mengancam Oman dan bahkan Korea Selatan, sebuah sinyal bahwa frustrasi mulai melampaui medan konflik utama. Ancaman itu juga memperlihatkan bagaimana Washington menuntut loyalitas, tetapi kesulitan memberi hasil yang cepat.
The Washington Post mengutip Alan Eyre, mantan diplomat AS, yang melihat pernyataan Trump sepanjang pekan sebagai ekspresi kekecewaan karena tujuan paling mendasar belum tercapai. Tujuan itu sederhana di atas kertas, yakni mengembalikan lalu lintas kapal di Hormuz ke kondisi normal.
Masalahnya, Hormuz bukan sekadar selat, tetapi juga instrumen tawar-menawar strategis Iran. Setiap hari gangguan berlanjut, biaya asuransi naik, rute memanjang, dan para pengambil keputusan di Teluk semakin gelisah.
Di Washington muncul kekhawatiran baru yang lebih politis daripada militer. Iran dan negara-negara Teluk bisa saja membuat kesepakatan sendiri untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa menunggu Amerika.
Daniel Benaim, mantan pejabat Kementerian Luar Negeri AS era Biden, memperkirakan negara-negara Teluk akan tetap dekat dengan Washington. Namun mereka juga akan membuka ruang komunikasi dan negosiasi dengan Teheran demi mengurangi risiko perang melebar.
Di titik ini, Oman kembali menonjol sebagai kanal diplomasi. Benaim menyebut upaya Oman dapat mengarah pada kesepakatan pengelolaan lalu lintas Hormuz, termasuk kemungkinan pungutan bagi kapal yang melintas.
Skema pungutan itu terdengar teknokratis, tetapi dampaknya sangat politis. Jika negara Teluk menyetujui mekanisme itu, mereka secara de facto mengakui Iran sebagai pihak yang ikut mengatur stabilitas jalur energi.
Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab sejak awal berusaha menghindari keterlibatan langsung dalam perang. Namun mereka tetap menanggung dampak karena pangkalan, fasilitas, dan kepentingan Amerika berada di wilayah mereka.
Di sisi lain, negara-negara Teluk mulai membangun infrastruktur untuk mengalihkan sebagian arus energi dan perdagangan melalui jalur lain. Upaya diversifikasi itu bertujuan mengurangi ketergantungan pada Hormuz, sekaligus mengurangi daya tekan Iran.
Langkah-langkah tersebut memperlihatkan pola yang konsisten dalam geopolitik energi. Ketika jalur utama rawan, aktor regional akan membeli “opsi” baru, bahkan jika itu berarti mengurangi dominasi pelindung lama.
Nada keras Trump terhadap Oman menunjukkan paradoks kebijakan Amerika di Teluk. Washington ingin mempertahankan tekanan terhadap Iran, tetapi juga ingin Hormuz segera terbuka agar pasar dan sekutu tenang.
Masalahnya, dua tujuan itu saling menggerus ketika perang berlarut. Semakin lama Hormuz terganggu, semakin besar insentif negara Teluk untuk mencari solusi pragmatis, termasuk lewat dialog dengan Teheran.
Ancaman kepada sekutu juga berisiko memproduksi efek sebaliknya. Oman selama ini dipandang sebagai jembatan diplomatik, sehingga menekannya justru dapat mematahkan satu kanal yang masih mungkin menghasilkan de-eskalasi.
Di level politik domestik AS, Selat Hormuz berubah menjadi simbol “hasil” yang bisa dijual kepada publik. Ketika simbol itu tak kunjung tercapai, kemarahan mudah dialihkan ke pihak yang lebih aman diserang daripada Iran.
Namun sekutu Teluk bukan pemain pasif. Mereka membaca bahwa biaya menunggu Washington bisa lebih mahal daripada biaya bernegosiasi sendiri, terutama ketika perdagangan dan pasokan energi menjadi urat nadi stabilitas internal.
Trump boleh meninggikan suara, tetapi Hormuz tetap belum terbuka dan waktu terus berjalan. Ketika sekutu-sekutu Teluk mulai menyusun perhitungan sendiri, kendali Washington atas arah krisis justru berpotensi menyusut.
Pertanyaan yang tersisa bukan hanya siapa yang menang di medan konflik, tetapi siapa yang paling cepat beradaptasi dengan realitas baru. Jika jalur energi dunia ditentukan oleh kesepakatan regional tanpa Amerika, maka peta kekuasaan Teluk memasuki bab yang berbeda.
Di tengah perang dan diplomasi, Selat Hormuz mengingatkan satu hal yang sering dilupakan para pemimpin. Stabilitas bukan sekadar soal kekuatan, melainkan soal kemampuan memberi kepastian, bahkan kepada kawan sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Agustus 2026)