Pengantar Pengarang Noorca M. Massardi - Novel “Kembali ke Pangkuan”

Novel “Kembali ke Pangkuan”

Novel “Kembali ke Pangkuan”

Review Buku

Setelah 34 Tahun: Utang Sejarah yang Kembali Pulang

ORBITINDONESIA.COM - ​Awal Juli 1992. Saya masih ingat suasana kantor Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN) di Jalan Otista, Jakarta Timur. Hari itu, Mas Amoroso Katamsi (alm), sang Direktur Utama yang baru dua tahun menjabat, menyambut saya dengan kehangatan seorang kawan lama—sesama alumni Teater Ketjil pimpinan Arifin C. Noer (alm).

​Kala itu, PPFN sedang mencari "nyawa" baru. Setelah trilogi film monumental karya Arifin C. Noer (Serangan Fajar, Djakarta 66, dan Pengkhianatan G30S/PKI), rumah produksi milik negara itu seolah kehilangan tajinya. Mas Amoroso mewarisi beban berat untuk membangkitkan kembali kreativitas di tengah kemelut finansial.

​Pembicaraan basa-basi kami berakhir ketika Mas Amoroso mengutarakan niat utamanya mengapa ia mengundang kehadiran saya hari itu.

​“Kami mau bikin film tentang Trikora — pembebasan Irian Barat — saat Mayor Jenderal Soeharto ditunjuk Bung Karno sebagai Panglima Komando Mandala,” katanya mantap. “Saya minta Noorca yang menulis skenarionya. Apakah bersedia?”

​Saya tertegun. Mengapa saya? Mengapa bukan Mas Arifin lagi? Saat itu, portofolio skenario layar lebar saya baru sebatas Sekuntum Duri (1980), yang diangkat dari novel saya sendiri, yang sebelumnya pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Kompas (1978) dan kemudian diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada 1978.

Namun, saya segera simpan keraguan itu. Saya teringat selentingan bahwa Mas Arifin selalu menyebut saya sebagai salah satu penulis lakon terbaik dari generasi di bawahnya. Maka, dengan sedikit rasa nekat, saya menjawab, “Insyaallah, saya siap.”

​Mas Amoroso kemudian membekali saya dengan tumpukan buku resmi dari Pusat Sejarah ABRI dan sebuah amplop kecil untuk biaya riset awal. Saya pulang ke Jalan Bank, Prapanca, Kemang, Kebayoran Baru, dengan kepala yang mulai riuh oleh bayangan masa kecil: perdebatan panas soal Irian Barat di radio, aksi nasionalisasi perusahaan Belanda, hingga pengusiran warga Belanda yang dramatis.

​Demi keseriusan proyek itu, saya pun "mengungsi" dari rumah mertua di Kebayoran Baru, ke rumah kami yang sunyi di Perumahan Reni Jaya, Pamulang. Di sana, ditemani penjaga rumah, dan laptop Toshiba edisi perdana yang masih menggunakan floppy disk, saya menenggelamkan diri ke dalam riset. Ada sekitar 30 judul buku referensi yang saya beli, saya baca, saya teliti dan saya tandai dengan stabilo, serta menempelkan puluhan post-it terkait teks yang menyebutkan Irian Barat.

​Tepat 7 Agustus 1992, saya menyusun kumpulan catatan tentang Irian Barat menjadi sebuah bundel cetakan komputer setebal 88 halaman. Di dalamnya tersusun 254 peristiwa kunci, yang membentang mulai dari Agresi Militer II Belanda ke Jogjakarta pada 19 Desember 1948, hingga pidato “Tahun Kemenangan” Bung Karno (1962), dan hasil final Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di Irian Barat (1969). Saya kemudian memberikan judul sementara: Kembali ke Pangkuan.

​Namun, drama sesungguhnya justru terjadi di luar teks itu.​ Pada pertengahan Agustus 1992, Mas Amoroso mengundang saya kembali ke kantornya untuk mempertemukan saya dengan tim kecil proyek film Trikora itu: sutradara Imam Tantowi dan sang mahaguru skenario, Misbach Yusa Biran (alm). Dengan antusias, saya serahkan hasil riset selama satu bulan itu.

​Saya jelaskan bahwa ini adalah "bahan mentah"—fondasi sejarah yang akan saya jahit dengan jalinan kisah tokoh-tokoh fiktif agar film itu tidak kaku seperti dokumenter, dan bukan khayalan semata-mata. Reaksi yang muncul di luar dugaan. Pak Misbach, sosok yang biasanya humoris, langsung membolak-balik jilid hasil riset itu dengan gestur menyepelekan. Suaranya yang lantang berubah sinis. “Ini sih bukan skenario! Ini cuma kumpulan peristiwa kronologis! Kalau skenario bukan begini!” katanya diakhiri tawa yang merendahkan.

​Ruangan mendadak tegang. Saya mencoba menjelaskan dengan sabar—lalu dengan nada yang kian meninggi—bahwa tanpa riset kronologis yang presisi, skenario dan kisah sejarah hanyalah bualan. Saya bukan anak kuliahan yang hobi menulis catatan kaki. Bagi saya, lampiran daftar pustaka di halaman belakang sudah lebih dari cukup. Namun, sang mahaguru tetap bergeming. Baginya, bundel riset sejarah itu bukan karya kreatif.

​Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan. Itulah kali terakhir saya membahas proyek Trikora dengan Mas Amoroso. Proyek ambisius itu pun urung lahir, tersapu oleh rencana Allah yang misterius. Mas Amoroso kembali ke Pangkuan Ilahi pada April 2018, membawa mimpinya tentang Trikora yang belum sempat mewujud di layar perak.

​Tiga puluh empat tahun kemudian.

​Secara kebetulan, saya menemukan file Kembali ke Pangkuan, itu di hard disk eksternal komputer lama. Membacanya kembali membuat jantung saya berdegup. Perebutan Irian Barat ternyata adalah palagan yang penuh intrik, kepedihan, dan kerumitan politik yang luar biasa. Ia tidak berhenti pada 1962, tapi berujung pada Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969.

​Hampir seperempat abad — sejak Proklamasi 1945 hingga Pepera 1969 — Republik ini telah ditempa oleh jatuh bangunnya konsep dan laku demokrasi, mulai dari demokrasi liberal hingga demokrasi terpimpin, lanjut inflasi yang menggila, hingga konflik politik 1965 yang memakan korban jiwa, dan melibatkan para tokoh besar hingga rakyat jelata.

​Sebagai pengarang dan pewarta, saya merasa memiliki tanggung jawab kepada sejarah yang sempat terlupakan ini. Proyek yang tertunda tiga dekade lalu itu kini saya coba lahirkan kembali. Bukan sebagai bahan skenario film yang pernah dipandang sebelah mata, melainkan sebagai sebuah novel fiksi sejarah yang utuh. Tentu saja dengan harapan suatu saat karya ini juga dapat diproduksi oleh Negara sebagai film sejarah untuk kepentingan generasi baru dan yang akan datang.

​Melalui novel Kembali ke Pangkuan ini, saya mencoba melengkapi kepingan sejarah bangsa. Jika novel saya September (1986) merekonstruksikan sejarah dan tragedi 1965 dalam fiksi, dan d.I.a., Cinta dan Presiden menggambarkan kisah cinta dan rahasia di balik gerakan Reformasi 1998, maka novel ini adalah akar atau prekuel dari sebuah trilogi dengan latar sejarah 1948 - 1969: dua dasawarsa pertama Republik Indonesia.

​Semoga kisah dalam novel ini mampu menghidupkan kembali ingatan kita tentang harga sebuah kedaulatan. Dan betapa pentingnya Papua bagi keutuhan NKRI. Dulu, kini dan akan datang.

Jakarta, Mei 2026