Galaxy Z Fold 8 Bikin iPhone Jadi “Dad Phone” di Korea
ORBITINDONESIA.COM – Galaxy Z Fold 8 mendadak jadi simbol gaya baru anak muda Korea Selatan, terutama perempuan, dan efeknya terasa sampai ke kubu iPhone. Di media sosial, iPhone bahkan mulai dicap “dad phone”, sementara desain lipat “passport-style” Samsung dianggap lebih segar dan berani.
Selama bertahun-tahun, iPhone punya posisi kuat di kalangan perempuan muda Korea Selatan karena citra premium dan ekosistemnya. Namun, tren gawai bukan hanya soal spesifikasi, melainkan juga soal identitas dan rasa “ikut zaman”.
Artikel KOMPAS.com mengutip laporan JoongAng Daily yang menyorot perubahan selera tersebut melalui data pre-order Galaxy Z Fold 8. Perubahan ini menarik karena terjadi di “rumah” Samsung sendiri, tempat persaingan simbol merek berlangsung sangat ketat.
Data Samsung.com menunjukkan sekitar separuh pemesan awal Galaxy Z Fold 8 berasal dari kelompok remaja hingga usia 30-an. Pada kelompok usia yang sama, pembeli perempuan disebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding generasi Z Fold sebelumnya.
Seorang sumber industri yang dikutip JoongAng Daily menambahkan konteks penting: 67 persen perempuan Korea Selatan usia 20-an menggunakan iPhone. Dengan basis iPhone yang setinggi itu, kenaikan pembelian Z Fold 8 di segmen perempuan muda berarti ada pergeseran preferensi yang tidak bisa dianggap kebetulan.
Yang menarik, pemicunya tidak semata fitur “canggih”, melainkan bahasa desain. Z Fold 8 disebut lebih pendek, lebih lebar, lebih tipis, dan lebih ringan, sehingga terasa lebih praktis dan lebih “fashionable” ketika dibawa.
Di titik ini, desain berubah menjadi argumen sosial, bukan sekadar estetika. Ketika iPhone dinilai terlalu aman dan mainstream, label “dad phone” muncul sebagai cara cepat untuk menegaskan jarak generasi dan selera.
Media sosial mempercepat efek domino tersebut. Kisah perpindahan pengguna iPhone ke Galaxy Z Fold 8, termasuk unggahan unboxing, membuat keputusan membeli terlihat seperti pernyataan publik, bukan pilihan privat.
Contoh yang disebut adalah Jeong Daum, 26 tahun, yang pindah dari iPhone 17 Pro ke Galaxy Z Fold 8 dan membagikannya di Instagram. Narasi “meninggalkan ekosistem Apple setelah sekitar satu dekade” memperlihatkan bahwa perpindahan ini juga menyentuh loyalitas, bukan hanya perangkat.
Fenomena Galaxy Z Fold 8 melawan dominasi iPhone di kalangan perempuan muda menunjukkan satu hal: pasar premium kini digerakkan oleh “rasa” dan status simbol, bukan sekadar performa. Ketika sebuah ponsel dianggap terlalu umum, ia kehilangan daya pikat sebagai penanda identitas.
Label “dad phone” juga mengandung kritik halus terhadap stagnasi desain. Jika iPhone terus tampil serupa dari tahun ke tahun, maka kebaruan akan dicari di tempat lain, bahkan jika itu berarti menanggung biaya adaptasi dari satu ekosistem ke ekosistem lain.
Namun ada sisi yang patut diwaspadai: tren yang dibangun oleh estetika mudah berumur pendek. Samsung bisa menang hari ini karena bentuk lipat terasa “baru”, tetapi kemenangan itu harus dijaga dengan konsistensi kualitas, ketahanan engsel, dan pengalaman aplikasi yang benar-benar matang.
Galaxy Z Fold 8 mengajarkan bahwa inovasi yang paling memukul pasar kadang bukan yang paling rumit, melainkan yang paling terlihat dan paling mudah diceritakan. Ketika desain menjadi cerita, konsumen muda menjadikannya bahasa untuk menunjukkan siapa mereka.
Pertanyaannya kini sederhana: apakah iPhone akan merespons dengan keberanian desain, atau justru mempertahankan “aman” yang membuatnya dicap biasa. Pada akhirnya, ponsel bukan hanya alat, tetapi cermin zaman, dan cermin itu sedang bergerak cepat. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Agustus 2026)