UEFA Kecam Proposal FIFA: Tata Kelola Sepakbola dan Uang $20 Juta

Goal.com

Goal.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – UEFA melontarkan kecaman keras terhadap proposal FIFA yang dinilai hendak “menjual” sepakbola lewat skema baru yang disusun terburu-buru. Isu tata kelola sepakbola dan transparansi keuangan kembali jadi pusat pertarungan, setelah FIFA disebut menawarkan pembayaran satu kali hingga $20 juta mulai 1 Januari 2027.

Kemarahan UEFA meledak bahkan sebelum FIFA mengumumkan rencana itu secara resmi. Dalam pernyataan bernada keras, UEFA menegaskan “jiwa dan tata kelola sepakbola bukanlah aset untuk diperjualbelikan” dan menolak gagasan bahwa FIFA berhak menjual permainan.

Inti sengketa bukan sekadar format kompetisi, melainkan siapa yang memegang kendali atas nilai ekonomi sepakbola global. UEFA menyorot ketiadaan transparansi tentang “siapa yang akan diuntungkan secara finansial,” sebuah frasa yang mengisyaratkan kecurigaan pada jaringan kepentingan di balik proposal.

Setelah itu, detail yang memicu kontroversi muncul ke publik. FIFA disebut mendorong persetujuan cepat dengan paket insentif: pembayaran satu kali hingga $20 juta per asosiasi mulai 2027, ditambah dana pengembangan FIFA Forward hingga $20 juta pada siklus 2027–2030.

Secara nominal, angka $20 juta terdengar seperti bantuan pembangunan yang sulit ditolak, terutama bagi federasi kecil. Namun, logika “uang muka” seperti ini sering bekerja sebagai alat konsolidasi suara, karena keputusan sepakbola global ditentukan lewat koalisi politik, bukan sekadar argumen olahraga.

UEFA menilai skema itu bukan pengembangan, melainkan transaksi kekuasaan. Mereka menyatakan FIFA “tidak bisa terus menggunakan olahraga kita untuk memperkaya diri mereka sendiri dan teman-teman mereka,” lalu mengklaim pengembangan bisa dilakukan “dengan cara yang benar.”

Kontradiksi juga tak bisa diabaikan, karena UEFA sendiri punya rekam jejak memperluas dan mengomersialkan Liga Champions. Tapi perbedaan pentingnya ada pada sumber legitimasi, karena Super League pernah ditentang UEFA sejak awal, dan kini proposal FIFA dipandang sebagai versi lain dari sentralisasi keuntungan.

Respons dari aktor besar Eropa mempertegas garis perlawanan. FA Inggris, FA Jerman, dan banyak kelompok suporter mengecam langkah tersebut atau menyatakan kekhawatiran serius, sebuah sinyal bahwa resistensi tak hanya datang dari elite birokrasi.

Menariknya, Sepp Blatter ikut menyuarakan kritik dengan kalimat, “Tidak seorang pun berhak menjual permainan kita.” Blatter adalah pembawa pesan yang problematik, tetapi kutipannya menunjukkan bahwa bahkan figur lama FIFA pun membaca risiko moral dan reputasional dari skema semacam ini.

Di luar Eropa, peta dukungan lebih cair dan pragmatis. Presiden FA Ceko David Trunda mendukung gagasan itu secara terbuka, sementara asosiasinya baru diperkirakan membahas posisi resmi pada Agustus, menandakan ada jarak antara opini pemimpin dan mekanisme institusi.

CONCACAF mengambil posisi hati-hati dengan menyorot kurangnya transparansi dan meminta FIFA menerapkan “tata kelola yang baik.” Namun mereka tidak mengecam langsung, dan sikap serupa juga terlihat dari Konfederasi Sepakbola Asia, yang memilih nada diplomatis ketimbang konfrontatif.

Di balik perang pernyataan, ini adalah perebutan definisi tentang “kepemilikan” sepakbola modern. UEFA berbicara soal jiwa permainan, tetapi yang dipertaruhkan sebenarnya adalah arsitektur pendapatan, hak komersial, dan hak menentukan arah kompetisi.

Skema insentif $20 juta berpotensi mengubah diskusi menjadi lelang legitimasi. Ketika uang dipakai sebagai pelicin konsensus, transparansi bukan sekadar etika, melainkan syarat minimum agar keputusan tidak berubah menjadi pembelian suara.

Yang paling mengkhawatirkan adalah normalisasi keputusan besar tanpa penjelasan rinci tentang penerima manfaat. Jika publik, pemain, dan suporter tak tahu siapa yang diuntungkan, sepakbola berubah dari ruang bersama menjadi produk tertutup yang dikelola seperti portofolio investasi.

Namun, kemarahan UEFA juga perlu dibaca dengan skeptis, karena mereka bukan lembaga anti-komersialisasi. Pertanyaannya sederhana: apakah ini benar-benar perang demi tata kelola yang sehat, atau sekadar perang wilayah antara dua pusat kekuasaan yang sama-sama ingin mengendalikan kas dan panggung?

Kontroversi proposal FIFA dan kecaman UEFA memperlihatkan bahwa krisis sepakbola global bukan kekurangan uang, melainkan kekurangan kejelasan tentang siapa yang memegang mandat. Ketika federasi ditawari jutaan dolar dan diminta bergerak cepat, publik berhak menuntut transparansi, audit manfaat, dan proses konsultasi yang terbuka.

Sepakbola selalu hidup dari rasa memiliki yang kolektif, bukan dari kontrak yang disusun di ruang rapat tertutup. Jika “tidak satu pun dari kita adalah pemilik sepakbola,” seperti kata UEFA, maka pertanyaan akhirnya adalah: siapa yang berani memastikan permainan ini tetap milik semua, bukan milik yang paling mampu membayar? (Orbit dari berbagai sumber, 15 Agustus 2026)