Whisnu Santika Tinggalkan Alkohol, Hidup Baru Musisi EDM
ORBITINDONESIA.COM – Whisnu Santika memilih meninggalkan minuman beralkohol, sebuah keputusan yang jarang dibahas gamblang di industri musik malam. Di balik panggung EDM yang identik dengan pesta, ia bercerita soal kehidupan dan batas yang ingin ia jaga.
Nama Whisnu Santika kerap dilekatkan pada energi klub, jadwal tampil padat, dan kultur hiburan yang dekat dengan alkohol. Namun pada titik tertentu, ritme seperti itu menuntut harga yang tidak selalu terlihat penonton.
Di Indonesia, percakapan tentang alkohol sering terjebak pada moralitas, bukan kesehatan dan keselamatan kerja. Padahal bagi musisi yang bekerja di ruang malam, alkohol bisa menjadi “alat sosial” yang perlahan berubah menjadi kebiasaan.
Keputusan berhenti minum alkohol bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan bentuk manajemen risiko. Industri hiburan menuntut stamina, fokus, dan konsistensi performa yang sulit dijaga jika tubuh terus dipaksa pulih.
WHO mencatat alkohol berkontribusi pada jutaan kematian global tiap tahun dan terkait dengan berbagai penyakit tidak menular. Dalam konteks pekerja kreatif, dampaknya sering muncul sebagai gangguan tidur, kecemasan, dan penurunan kualitas kerja yang tidak langsung terbaca di media sosial.
Panggung musik elektronik juga memiliki dinamika unik karena jam kerja yang terbalik dan tekanan untuk selalu “on”. Ketika alkohol menjadi bagian dari ritual tampil, batas antara kebutuhan profesional dan pelarian emosional menjadi kabur.
Di sinilah keputusan Whisnu Santika menarik karena menantang narasi bahwa pesta adalah syarat kreativitas. Ia memberi contoh bahwa disiplin bisa menjadi sumber kebebasan baru, bukan penjara yang mematikan spontanitas.
Fenomena “sober curiosity” atau keingintahuan untuk hidup lebih sadar juga berkembang di banyak kota besar dunia. Tren ini mendorong orang untuk menilai ulang alkohol bukan sebagai simbol pergaulan, melainkan sebagai variabel yang bisa dikurangi demi kualitas hidup.
Langkah Whisnu Santika bisa dibaca sebagai upaya merebut kendali atas diri sendiri di tengah industri yang sering memonetisasi citra liar. Ia seperti mengatakan bahwa karier panjang tidak dibangun dari euforia sesaat, melainkan dari keputusan kecil yang konsisten.
Publik kerap menyukai kisah “bangkit” setelah jatuh, tetapi jarang menghargai pencegahan sebelum jatuh. Padahal berhenti minum alkohol adalah bentuk pencegahan yang sunyi, tanpa drama, dan justru karena itu lebih sulit.
Ada juga dimensi keberanian sosial karena menolak minum sering dianggap menolak pertemanan. Dalam budaya kerja yang banyak terjadi di belakang panggung, kemampuan berkata “cukup” adalah keterampilan profesional yang tidak diajarkan di sekolah musik.
Jika musisi mulai terbuka soal batas, industri bisa ikut berubah secara perlahan. Ruang kreatif akan lebih sehat ketika pilihan hidup sadar tidak dipandang aneh, melainkan dianggap normal.
Keputusan Whisnu Santika meninggalkan alkohol menyorot satu hal sederhana: hidup tidak harus dikorbankan demi citra. Panggung boleh bising, tetapi kepala tetap bisa jernih.
Pertanyaannya kini bukan apakah semua orang harus berhenti minum, melainkan kapan kita berani mengevaluasi kebiasaan yang diam-diam menguras diri. Di era ketika hiburan bergerak cepat, mungkin bentuk kemewahan yang paling langka adalah kemampuan menjaga batas. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juli 2026)