Kanibalisme Manusia dan Tabu Budaya: Risiko Penyakit Kalahkan Kalori

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kanibalisme manusia kembali dibahas bukan dari sisi moral, melainkan dari hitung-hitungan untung rugi yang dingin dan matematis. Studi PNAS menilai tabu kanibalisme dan risiko penyakit seperti kuru justru menjelaskan mengapa praktik ini muncul sesekali, lalu menghilang lagi.

Kanibalisme adalah paradoks dalam sejarah Homo sapiens. Ia dianggap paling tabu, tetapi catatannya muncul berulang dalam situasi ekstrem, perang, kelaparan, hingga ritual pemakaman.

Karena itu, pertanyaan kuncinya bukan sekadar “mengapa ada,” melainkan “mengapa tidak pernah bertahan.” Peneliti dari University of Wrocław dan Charles University mencoba menjawabnya lewat model matematika yang menghitung manfaat kalori versus biaya biologis.

Secara nutrisi, daging manusia tetap memberi energi sebagaimana daging hewan lain. Dalam kondisi kelaparan akut, logika survival dapat mendorong seseorang memakannya demi tetap hidup.

Namun studi yang dipublikasikan di PNAS menyimpulkan kanibalisme rutin tidak stabil untuk jangka panjang. Petr Tureček, ahli biologi teoretis dan evolusi dari Charles University, menyatakan model mereka “dengan jelas menunjukkan bahwa kanibalisme rutin tidak dapat bertahan bagi populasi manusia.”

Model itu menemukan skenario “masuk akal” sangat sempit: makanan lain sangat langka, korban sudah meninggal sehingga tak ada energi berburu, daging dimasak untuk keamanan, dan korban bukan bekas kanibal. Begitu syarat ini runtuh, biaya biologis menumpuk lebih cepat daripada manfaat kalori.

Masalah utamanya adalah epidemiologi, bukan rasa jijik. Patogen yang beredar dalam spesies yang sama lebih mudah beradaptasi dan menyebar dibanding patogen lintas spesies.

Risiko meningkat tajam ketika terbentuk “rantai kanibal,” yaitu seseorang memakan orang yang sebelumnya juga memakan manusia. Dalam rantai seperti itu, patogen mendapat jalur transmisi berulang, sehingga komunitas yang bergantung pada kanibalisme diproyeksikan cepat runtuh.

Tureček menegaskan “biaya epidemiologis dari penyebaran penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan cepat mengalahkan manfaat kalori apa pun.” Kesimpulannya konsisten: komunitas akan menuju kehancuran, bukan bertahan.

Contoh nyata yang sering dikutip adalah suku Fore di Papua Nugini yang pernah dilanda kuru. Penyakit otak mematikan ini mereda setelah praktik memakan jenazah kerabat dalam ritual pemakaman dihentikan.

Kuru termasuk penyakit prion, yakni penyebaran protein salah lipat yang tidak bisa “dibunuh” dengan memasak seperti banyak patogen lain. Fakta ini memperlihatkan bahwa bahkan “memasak untuk aman” pun punya batas, terutama ketika agen penyakitnya bukan bakteri biasa.

Pembacaan matematis ini terasa dingin, tetapi justru menolong kita melihat tabu kanibalisme sebagai perangkat evolusioner yang rasional. Jika sebuah kebiasaan memberi keuntungan sesaat namun menghancurkan populasi lewat penyakit, maka larangan sosial menjadi bentuk teknologi bertahan hidup.

Di titik ini, tabu bukan sekadar moralitas, melainkan kebijakan kesehatan publik paling purba. Ia bekerja sebelum manusia mengenal mikroba, vaksin, atau teori kuman, tetapi efeknya sejalan: memutus rantai penularan.

Yang menarik, studi ini juga mengoreksi romantisasi “kanibalisme sebagai adaptasi.” Adaptasi yang baik adalah yang meningkatkan peluang bertahan lintas generasi, sedangkan kanibalisme rutin—menurut model—lebih mirip jebakan evolusi yang mengundang bencana.

Meski begitu, temuan ini tidak otomatis menutup ruang bagi kanibalisme dalam konteks ekstrem yang sangat terbatas. Justru di situlah pelajaran pahitnya: manusia bisa melakukan apa saja untuk hidup hari ini, tetapi alam menghitung biaya yang dibayar besok.

Kanibalisme manusia mungkin menawarkan kalori, tetapi risiko penyakit—dari patogen biasa hingga prion seperti kuru—membuatnya sulit bertahan sebagai pola hidup. Karena itu, tabu kanibalisme tampak bukan hanya “aturan baik,” melainkan mekanisme perlindungan yang menyelematkan komunitas dari kehancuran.

Perenungan akhirnya sederhana namun mengganggu: berapa banyak norma yang kita anggap murni moral, padahal lahir dari logika bertahan hidup yang tak kita sadari. Jika tabu bisa menjadi perisai evolusioner, norma apa lagi yang sesungguhnya menyimpan jejak pertempuran panjang manusia melawan penyakit dan kepunahan. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)