Geger Reshuffle Kabinet dan Wantimpres: Panggung Sandiwara Zulkifli Hasan, "Bokeknya" PAN, dan Panen Raya Dua Parpol Pragmatis

Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan (Zulhas).

Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan (Zulhas).

Opini

Oleh Heru Subagia, pengamat politik & ekonomi.

ORBITINDONESIA.COM - Siapa sangka, rentetan candaan politik (political joke) yang dilemparkan oleh Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan (Zulhas), dalam puncak perayaan HUT ke-28 PAN di JCC pada 18 September 2026 kemarin, ternyata bukan sekadar banyolan pengisi waktu.

Di balik tawa renyah para elite, tersimpan desain kalkulasi politik tingkat tinggi. Taruhan dari candaan itu sangat jelas: jaminan kesetiaan buta dua periode untuk Prabowo Subianto, dengan imbalan transaksi kekuasaan yang instan.

Hanya berselang belasan hari dari pidato banyolan tersebut, publik disuguhkan realitas yang telanjang. Reshuffle Kabinet Merah Putih jilid ke-7 (1 Oktober 2026) dan pelantikan massal 26 anggota Wantimpres (2 Oktober 2026) menjadi bukti sah jika PAN dan Golkar adalah pihak yang paling mendulang keuntungan raksasa.

Podium Politik Zulhas: Menjinakkan Penguasa, Mengisolasi Lawan

Zulhas adalah jagonya mengelola panggung. Di depan podium, ia tahu persis bagaimana memperlakukan seorang presiden: disanjung, diagungkan, dan diberi garansi keamanan politik penuh.

Ketika Zulhas dengan lantang mendeklarasikan bahwa PAN dan Golkar "tidak terpikir" untuk memajukan capres sendiri di Pilpres 2029 demi memuluskan jalan dua periode bagi Prabowo, di situlah transaksi politik bawah meja ketuk palu.

Namun, politik Zulhas bukan hanya soal menjilat ke atas, melainkan juga menyepak ke samping. Dengan gaya berseloroh, Zulhas secara sadar menjadikan PKB sebagai "kambing hitam" dan sasaran tembak.

PKB sengaja diisolasi dan disekat dari konstelasi 2029 hanya karena rekam jejak mereka yang bukan pengusung asli Prabowo-Gibran di Pilpres 2024. Ini adalah operasi pembersihan dini yang dibungkus dengan tawa renyah komedi podium.

Sindiran "Bokek" Prabowo: Penghinaan yang Dibayar Tunai

Publik sempat dibuat terperangah ketika Presiden Prabowo dengan gaya tanpa teksnya yang blak-blakan menelanjangi dapur internal PAN.

Prabowo menyindir bahwa kemegahan HUT PAN hanyalah kedok untuk menutupi kondisi keuangan mereka yang sedang tiris alias "bokek" dan masih menanggung utang di sana-sini.

“Lu enggak usah lapor sama gue, gue udah tahu. Gue udah tahu lu agak bokek. Ini semua lu masih utang, benar enggak?” seloroh Prabowo waktu itu.

Secara psikologi politik, itu adalah ledekan yang menohok harga diri partai. Namun bagi politisi pragmatis, harga diri bisa dikesampingkan selama kompensasinya sepadan. Dan benar saja, "penghinaan" tersebut dibayar tunai oleh Prabowo melalui bonus kekuasaan yang luar biasa mewah pada awal Oktober ini.

Panen Raya Golkar dan PAN: Menguasai Posisi Strategis

Jika melihat cetak biru perombakan 18 pejabat negara pada Reshuffle Kabinet 1 Oktober kemarin, dominasi afiliasi politik Golkar dan PAN sangat kasat mata. Mereka berhasil mengamankan pos-pos basah dan strategis:

Pihak GOLKAR Bahlil Lahadalia mendapatkan jabatan baru Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi. Tugas Khusus Mengontrol penuh regulasi transisi energi dan hilirisasi nasional, memperkuat daya tawar kapitalistik Golkar di sektor sumber daya alam.

GOLKAR juga berhasil menempatkan Bambang Soesatyo Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) . Politisi gaek Golkar yang masuk ke ring satu istana, mengamankan pengaruh faksi senior dalam memberikan nasihat politik-hukum.

Sementara posisi PAN ada namanya Dr. Dradjad Hari Wibowo dengan menggondol jabatan barunya Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Ekonom.

Politisi senior PAN dan eks Dewan Pakar TKN yang kini dipasang untuk mengawal dan mendampingi Airlangga Hartarto. PAN sukses menaruh "mata dan telinga" di jantung kebijakan ekonomi makro..

Jatah berikutnya ada nama yang tak asing lagi yakni Hatta Rajasa dengan posisi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) . Penunjukan mantan Ketum PAN ini adalah bentuk akomodasi politik paling konkret. Hatta duduk sebagai orang nomor dua di lembaga pemikir Presiden, tepat di bawah Pratikno.

Wantimpres Rasa Kompromi Hingga Membengkak Demi Balas Jasa

Langkah Prabowo melantik hingga 26 anggota Wantimpres adalah anomali efisiensi. Struktur ini terlihat sangat gemuk dan kental dengan nuansa akomodasi politik demi menjinakkan potensi gejolak.

Selain menempatkan figur kontroversial seperti Rocky Gerung sebagai instrumen "pereda kritik", masuknya nama-nama besar parpol seperti Hatta Rajasa (PAN) dan Bambang Soesatyo (Golkar) menegaskan bahwa Wantimpres kini beralih fungsi menjadi tempat penampungan para raksasa politik yang harus dipuaskan dahaga kekuasaannya.

Kesimpulan Menohok: Konsesi Politik Dua Periode

Reshuffle jilid ke-7 dan kegemukan Wantimpres ini adalah harga tunai yang harus dibayar Prabowo atas jaminan tiket dua periode yang digaransi oleh Zulhas dan diamini oleh Golkar.

PAN boleh saja diledek "bokek" secara finansial di depan publik, namun secara portofolio kekuasaan di pemerintahan, mereka dan Golkar baru saja melakukan perampokan politik secara legal dan elegan.

Mereka berhasil mendulang untung terbesar di tengah kegaduhan reshuffle, membuktikan bahwa dalam politik elektoral hari ini: candaan adalah keseriusan yang disamarkan, dan kesetiaan selalu memiliki banderol harga yang mahal. ***